Jakarta, VIVA – Pada tahun 2025, emas dan perak menunjukkan lonjakan pesat bahkan menjadi sorotan utama di pasar komoditas global. Kedua logam mulia melonjak pesat saat indeks saham utama dunia bergerak relatif stagnan sehingga memicu investasi menjelang tahun 2026.
Mengutip dari Gold Price, dalam setahun harga emas dunia naik 70,83 persen ke level US$4.534,16 atau sekitar Rp 76,01 juta (estimasi kurs Rp 16.670 per dolar AS) per ons pada Minggu, 28 Desember 2025. Sedangkan harga perak melambung 144,91 persen dalam setahun terakhir menjadi US$79,25 atau Rp 1,32 juta per ons.
Direktur Commodities, Currencies & International Business Anand Rathi Share & Stock Brokers, Naveen Mathur, mengatakan kedua logam mulia memulai tahun depan dengan pijakan yang kuat. Fundamental emas dan perak masih solid, meski laju kenaikan diperkirakan lebih moderat memasuki tahun 2026.
“Kedua logam mulia (emas dan perak) memasuki 2026 dengan fundamental yang kuat, meski imbal hasilnya kemungkinan akan lebih normal dibanding 2025,” ujar Mathur, dikutip dari The Economic Times pada Minggu, 28 Desember 2025.
- Freepik
Ia menilai emas akan tetap bergerak stabil ditopang ekspektasi penurunan suku bunga global, ketidakpastian geopolitik, pembelian bank sentral, pelemahan dolar AS, serta arus masuk ETF yang berkelanjutan. Sementara itu, perak dinilai berpotensi mengungguli emas secara persentase karena memiliki peran ganda sebagai logam mulia dan logam industri, meski volatilitasnya lebih tinggi.
Pandangan senada disampaikan Vice President India Bullion & Jewellers Association (IBJA), Aksha Kamboj, yang memperkirakan emas dan perak masih berada di zona positif hingga akhir 2026. Namun, ia melihat pergerakannya akan diwarnai fluktuasi seiring kuatnya permintaan.
Dari sisi proyeksi harga, sejumlah analis mematok target cukup optimistis. Managing Director RiddiSiddhi Bullions Ltd sekaligus Presiden IBJA, Prithviraj Kothari, memprediksi harga emas berpotensi menembus US$5.000 hingga US$5.500 per ons pada tahun 2026 seiring sentimen positif dari pemangkasan suku bunga, pembelian bank sentral, dan kekhawatiran fiskal global.
“Perak bisa mengungguli emas secara persentase, dengan target US$75–80 per ons, didukung permintaan industri dan pasokan yang ketat,” ujar Kothari.





