Hampir semua orang pernah mengalami kejadian ketika sedang menyanyikan sebuah lagu dengan percaya diri, namun suatu ketika kamu baru sadar bahwa lirik yang selama ini dinyanyikan ternyata keliru. Fenomena salah dengar lirik lagu ini bukan sekadar kebiasaan biasa. Para peneliti bahasa dan otak manusia sejak lama memperhatikan fenomena ini.
Dalam ilmu linguistik dan psikologi, fenomena seperti ini dikenal dengan istilah mondegreen. Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh penulis Sylvia Wright pada tahun 1954 dalam menggambarkan kesalahan dalam menerima bunyi dari kata. Semenjak saat itu, fenomena ini banyak dibahas dan diteliti dalam studi persepsi pendengaran.
Otak Tidak Hanya Sekadar MendengarDalam penelitian yang dipublikasin oleh jurnal Psychological Science, Diana Deutsch, seorang ahli psikologi kognitif, menjelaskan bahwa otak manusia tidak bekerja seperti alat perekam suara yang hanya menyimpan bunyi ketika didengar begitu saja. Ketika kita mendengar sebuah suara, otak dengan aktif akan mengartikan bunyi tersebut sesuai dengan pengalaman yang pernah terjadi sebelumya. Hal-hal familiar yang dapat dikaitkan seperti bahasa yang dikuasai, kejadian yang familiar, suasana yang familiar, dan lainnya. Proses ini membuat pendengaran manusia menjadi subjektif.
Ketika suara atau kata-kata yang didengar tidak jelas atau tertutup oleh bunyi lain, seperti musik dalam lagu, otak akan tetap bekerja dalam bentuk “mengisi kekosongan” dengan kata-kata yang paling masuk akal. Kata-kata tersebut mungkin tidak sesuai dengan kata awalnya, namun kita tetap merasa benar karena cocok dengan pola bahasa dan memori yang tersimpan. Karena inilah kita sering salah dalam menangkap lirik lagu.
Musik Membuat Bunyi Menjadi Tidak JelasMusik membuat proses pendengaran menjadi lebih rumit dibanding ketika sedang berbincang biasa. Dalam sebuah lagu, vokal dicampur dengan berbagai instrumen lainnya, tempo, dan efek suara seperti autotune. Hal ini membuat bunyi kata tidak terdengar dengan jelas dan tidak sesuai bunyi aslinya. Fenomena ini biasa terjadi ketika seorang penyanyi yang melafalkan lirik dengan cepat, seperti seorang rapper.
Penelitian yang dilakukan oleh Richard Warren dari Harvard University menunjukkan bahwa dalam situasi seperti ini, otak manusia tetap merasa seolah-olah mendengar kata yang utuh dan lengkap. Fenomena ini dikenal sebagai phonemic restoration, yaitu kemampuan otak untuk memperbaiki bunyi yang hilang secara otomatis. Akibatnya, pendengar sering tidak menyadari bahwa lirik yang didengar sebenarnya samar atau terpotong, karena otak telah mengisinya dengan versi yang terdengar masuk akal.
Bahasa Asing dan Aksen yang Mengecoh PendengaranBahasa yang dikuasai seseorang memiliki peran besar dalam bagaimana ia menangkap suara. enelitian yang dimuat dalam jurnal Applied Psycholinguistics menunjukkan bahwa saat pendengar menemukan bunyi yang terdengar asing atau sulit dikenali, otak cenderung menyesuaikannya dengan kata-kata dari bahasa yang sudah familiar. Proses ini terjadi secara otomatis sebagai upaya otak untuk memahami suara secepat mungkin.
Akibatnya, lagu yang menggunakan bahasa asing dan dinyanyikan dengan teknik rap akan lebih mudah mengalami salah penafsiran. Otak juga memilih makna yang terasa familiar daripada menerima dan mencerna bunyi yang kurang jelas. Meski makna dari lirik lagu tidak sesuai dengan aslinya, pendengar tetap merasa yakin karena kata-kata yang mereka dengar telah sesuai dengan pola bahasa yang dikenal.
Lirik yang Salah Malah Sulit DilupakanYang menarik adalah ketika kita sudah menerima versi lirik kita sendiri akan sulit untuk dihilangkan. Penelitian mengenai memori yang dilakukan oleh Elizabeth Loftus menunjukkan bahwa ingatan yang telah terbentuk cenderung bertahan lama, meskipun seseorang telah mengetahui bahwa informasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Otak manusia cenderung untuk mempertahankan ingatan lama yang sudah pakem.
Jika kita ingin mengubah ingatan tersebut, kita memerlukan usaha yang lebih besar dibanding mempertahankannya. Otak akan lebih memilih menggunakan pola yang sudah ada karena dianggap lebih mudah dan efisien daripada harus menyusun ulang semua informasi dari awal. Karena itu, meski lirik yang benar telah kita ketahui, namun versi yang salah sering masih muncul secara otomatis saat kita menyanyikan lagu tersebut.
Kesalahan Kecil yang Menunjukkan Kerja OtakKita tidak hanya menangkap suara, tetapi menafsirkannya dengan cepat agar memiliki arti. Dalam proses yang berlangsung dengan cepat ini, otak berusaha untuk menyusun bunyi menjadi suatu hal yang dapat kita pahami segera. Kesalahan ini bukanlah kegagalan, melainkan menjadi bukti bahwa otak bekerja secara aktif dan kreatif dalam mengartikan apa yang kita dengar.
Oleh karena itu, ketika suatu saat kita menyadari bahwa lirik lagu yang biasa kita dengar ternyata keliru, bukan berarti kita kurang teliti. Namun, fenomena tersebut menunjukkan bahwa otak terus berusaha memahami bunyi secepat mungkin.





