Bogor, IDN Times - Isu keterkaitan antara perkebunan kelapa sawit dengan bencana banjir bandang di Sumatra tengah menjadi sorotan hangat.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Agromaritim (WR III) IPB University, Ernan Rustiadi, mengatakan melihat fenomena ini harus secara proporsional.
Ernan menjelaskan IPB tidak memiliki satu suara tunggal mengenai sawit, karena dunia ilmiah sangat menghargai perbedaan pendapat. Ada akademisi yang melihat sawit sebagai pilar ekonomi, namun ada juga yang sangat kritis terhadap dampak lingkungannya.
"Jadi gini, kalau bertanya terkait sawit dengan orang-orang IPB, pasti akan menemukan perbedaan pandangan, di dalam dunia ilmiah perbedaan pendapat itu biasa. Di antara kami pun profesor gak akan sama pandangan tentang sawit," ujar Ernan dalam acara Sarasehan dan Refleksi Akhir Tahun 2025 di IPB Dramaga, Bogor, Rabu (31/12/2025).
"Menurut saya, kalau tanahnya sesuai, unsur haranya sesuai, sawit gak apa-apa, bukan sawit (penyebanya), pengaruh ke perubahan iklim iya, tapi global, bukan banjir sekarang, langsung karena (kebun) sawit," tambahnya.
Ernan menyebut sebagian ahli melihat sawit sebagai sumber kesejahteraan dan devisa negara, sementara sebagian lain kritis karena menganggap sawit memicu masalah lingkungan.





