Jakarta, tvOnenews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap membuka lembaran tahun 2026 dengan langkah agresif. Di tengah kondisi pasar yang semakin selektif dan kehati-hatian investor global, antusiasme perusahaan untuk melantai di pasar modal nasional justru menunjukkan sinyal positif. Sebanyak 13 perusahaan telah masuk dalam pipeline Initial Public Offering (IPO) dan ditargetkan melantai di BEI pada awal 2026.
Berbeda dengan tren beberapa tahun sebelumnya yang menitikberatkan pada kuantitas, daftar calon emiten kali ini dinilai lebih berkualitas. Perusahaan-perusahaan yang mengantre IPO berasal dari sektor-sektor strategis yang selama ini menjadi incaran investor, mulai dari perbankan, energi, bahan baku, teknologi, properti, hingga barang konsumsi.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mencatat kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 masih solid. Hingga 5 Desember 2025, tercatat 24 perusahaan resmi melantai di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 15,21 triliun. Capaian tersebut menjadi fondasi optimisme bagi pasar modal dalam menyambut tahun 2026.
Untuk awal tahun depan, profil perusahaan dalam pipeline IPO terbilang beragam. Dari sisi skala aset, BEI mengelompokkan 13 perusahaan tersebut ke dalam tiga kategori, yakni:
-
8 perusahaan besar dengan total aset di atas Rp 250 miliar
-
3 perusahaan menengah dengan aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar
-
2 perusahaan kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar
Komposisi ini mencerminkan inklusivitas pasar modal Indonesia. BEI tetap menjadi wadah pendanaan bagi perusahaan mapan sekaligus ruang ekspansi bagi perusahaan yang tengah bertumbuh, khususnya di sektor-sektor berorientasi masa depan seperti energi dan teknologi.
Dominasi Konglomerasi dan BUMNYang membuat awal 2026 terasa istimewa adalah kuatnya kehadiran grup konglomerasi besar dan badan usaha milik negara (BUMN). Dari sektor keuangan, Bank Jakarta—BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta—telah memasuki tahap pre-efektif. Sementara itu, Blu by BCA Digital yang berada di bawah Grup Djarum milik keluarga Hartono juga tengah mempersiapkan langkah menuju lantai bursa.
Sektor energi dan bahan baku menjadi salah satu penopang utama pipeline IPO kali ini. PT Anugrah Neo Energy Materials yang terafiliasi dengan Titan Infra Energy milik Handoko A. Tanuadji serta PT Titan Infra Sejahtera (TIS) dari Titan Group milik keluarga Kalla telah mengantongi status pre-efektif.



