Banjir dan Longsor Lumpuhkan Kehidupan Anak di Tapanuli Tengah

suara.com
11 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Banjir dan longsor di Tapanuli Tengah melumpuhkan kehidupan anak-anak, memutus rutinitas belajar dan rasa aman mereka.
  • Ribuan anak terpaksa hidup di pengungsian dengan keterbatasan akses air bersih, makanan bergizi, dan dukungan psikososial.
  • Upaya pemulihan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar serta pendampingan agar anak dapat bangkit dari trauma pascabencana.

Suara.com - Banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, pada akhir November lalu tak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan kehidupan anak-anak. Rutinitas belajar terhenti, rasa aman hilang, dan ribuan anak terpaksa menjalani hari-hari di pengungsian dengan keterbatasan akses kebutuhan dasar.

Selama hampir tiga pekan terakhir, tim respons bencana Wahana Visi Indonesia (WVI) berada di Tapanuli Tengah untuk mendampingi anak-anak dan masyarakat terdampak. Dan melihat dampak bencana yang masih dirasakan di lapangan, WVI memutuskan memperpanjang masa tanggap darurat hingga Juni 2026 dan merencanakan perluasan respons ke wilayah Aceh.

“Setelah hampir tiga minggu respons tanggap bencana kami lakukan, kami menyaksikan langsung bagaimana bencana ini melumpuhkan kehidupan anak dan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Tengah,” ujar Technical Sectors Director WVI, Yacobus Runtuwene.

Ia menambahkan, mayoritas warga masih tinggal di pengungsian yang jauh dari kondisi layak, sementara akses transportasi dan logistik yang terbatas menyulitkan pemulihan aktivitas sehari-hari serta distribusi bantuan.

Komitmen WVI terhadap pemulihan anak-anak ditunjukkan dengan pengaktifan Ruang Ramah Anak yang memberikan dukungan psikososial kepada 1.404 anak selama masa tanggap bencana. Melalui aktivitas bermain, belajar, dan pendampingan, anak-anak didorong untuk memulihkan semangat dan rasa aman mereka.

Selain itu, 687 balita telah menerima layanan kesehatan guna menekan risiko kekurangan gizi, serta pendampingan bagi para ibu agar tetap dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI).

Di salah satu posko pengungsian, seorang bayi yang baru lahir mengalami kesulitan menyusu. Dengan pendampingan staf spesialis kesehatan WVI, kedua orang tuanya diarahkan untuk memerah ASI dan memberikan ASI perah menggunakan sendok.

“Saya tidak pernah terpikir sebelumnya kalau bisa perah dan kasih ASI pakai sendok. Berarti bayi saya tidak perlu susu formula,” ujar sang ibu.

Dampak bencana juga dirasakan Nia, salah satu anak penyintas. Rumahnya rusak akibat banjir dan longsor, memaksa keluarganya mengungsi.

Baca Juga: Pemprov DKI Kirim Mobil Tangki Air untuk Warga Terdampak Banjir Sumatra

“Rumahku tidak bisa ditempati lagi. Dua hari kami menginap di gereja, lalu pindah ke pengungsian,” kata Nia.

Meski begitu, ia bersyukur bisa kembali beraktivitas bersama teman-teman.

“Di sini banyak bantuan, makanannya cukup, tempatnya bersih, dan bisa ikut kegiatan dari kakak-kakak. Harapanku semoga semuanya baik-baik saja dan aku bisa kembali ke rumah.”

Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga memutus masa kanak-kanak. Di tengah upaya pemulihan, perlindungan dan pendampingan anak menjadi kunci agar mereka dapat kembali tumbuh dengan rasa aman dan harapan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Zodiak yang Sangat Mandiri: Aquarius Pemikir Bebas, Sagitarius Berani Ambil Risiko
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
Laporan Intelijen AS Bantah Klaim Serangan Drone ke Rumah Putin
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BRIN Siapkan Kapal Riset Baru untuk Memperkuat Penelitian Kemaritiman
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penanaman Sawit di di Perbukitan Cirebon Seluas Enam Hektare Jadi Polemik, Dinas Pertanian Buka Suara
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Momentum pergantian tahun, pemko Banda Aceh ajak doakan korban bencana
• 16 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.