Perdagangan saham untuk 2026 akan dibuka mulai Jumat (2/1). Setiap awal tahun pasar modal kerap diwarnai fenomena January Effect, yakni kecenderungan kenaikan harga saham pada bulan Januari. Pola ini menjadi salah satu anomali musiman yang berulang dan kerap diperhatikan oleh pelaku pasar.
BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan January Effect merupakan anomali musiman di pasar modal dengan harga saham cenderung naik pada Januari. Fenomena ini umumnya lebih terasa pada saham berkapitalisasi kecil sebab tingkat likuiditasnya relatif terbatas sehingga lebih responsif terhadap arus dana masuk.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, terdapat sejumlah faktor yang kerap dikaitkan dengan munculnya January Effect. Pertama, aksi tax-loss selling pada akhir tahun, ketika investor melepas saham yang rugi di bulan Desember untuk kemudian membelinya kembali pada Januari.
Kedua, masuknya dana segar di awal tahun, baik yang berasal dari bonus, tabungan baru, maupun alokasi investasi tambahan. Ketiga, adanya aktivitas penyeimbangan ulang portofolio oleh manajer investasi setelah penutupan buku akhir tahun.
“Lalu efek psikologis awal tahun, ketika optimisme pasar biasanya lebih tinggi,” demikian tertulis BRI Danareksa dalam analisisnya, dikutip Rabu (31/12).
Selain itu secara historis BRI Danareksa Sekuritas mencatat January Effect lebih muncul pada saham berkapitalisasi kecil dan lapis kedua (small cap dan second liner), karena permintaannya relatif lebih mudah terdorong oleh peningkatan arus beli.
Fenomena ini juga sering terlihat pada saham-saham yang sempat tertekan menjelang akhir tahun, dan emiten dengan likuiditas cukup namun valuasinya masih tergolong menarik. Sebaliknya, saham berkapitalisasi besar cenderung bergerak lebih stabil dan tidak melonjak dari efek musiman tersebut.
Meski begitu January Effect tidak selalu terjadi setiap tahun. BRI Danareksa juga menyebut fenomena ini bukan jaminan pasar akan bergerak naik karena sangat bergantung pada kondisi global. Misalnya arah suku bunga, dinamika geopolitik, dan sentimen risiko, serta arus dana asing dan kondisi makroekonomi di awal tahun. Dalam beberapa periode, tekanan eksternal justru membuat efek ini melemah atau bahkan tidak terlihat sama sekali.
Selain itu BRI Danareksa Sekuritas menilai January Effect sebaiknya dijadikan sebagai referensi tambahan, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi. Investor umumnya mulai mencermati pergerakan saham sejak akhir Desember, yang fokusnya pada emiten yang memiliki likuiditas dan fundamental yang masih solid.
BRI Danareksa juga menyarankan disiplin dalam manajemen risiko tetap menjadi kunci, mengingat volatilitas pasar pada awal tahun berpotensi meningkat. BRI Danareksa menilai January Effect mencerminkan bagaimana perilaku investor dan arus dana musiman dapat memengaruhi pergerakan saham di awal tahun. Meski tidak selalu muncul, fenomena ini tetap relevan untuk dipantau sebagai bagian dari strategi membaca sentimen pasar.
“Kuncinya bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memahami konteks dan memilih saham secara selektif,” demikian tertulis dalam analisis BRI Danareksa.
Berdasarkan Stockbit Sekuritas, per 30 Desember 2025, emiten dengan kenaikan harga saham terbesar sejak IPO yakni didominasi oleh PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang melonjak hingga 3.780%. Lalu diikuti PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dengan kenaikan 950,6%, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebesar 778,9%, PT Raharja Energi Cepu Tbk (CDIA) sebesar 765,5%, serta PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) yang menguat 187,2%.
Di sisi lain, sejumlah saham justru mencatatkan penurunan terdalam sejak melantai di bursa. PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) anjlok 48,1%, disusul PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) sebesar 40,7%, PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) turun 38,6%, PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) sebesar 32,6%, dan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) sebesar 24,9%.
Prabowo Bakal Buka Perdagangan BEI 2026?Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencetak rekor sepanjang masa dengan all time high (ATH) 24 kali sebanyak 2025. Apabila menilik Agustus 2025 indeks bahkan menorehkan rekor All Time High di level 8.710,69.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 29 Desember 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 20,32 juta, dengan investor saham menembus 8,59 juta. Kapitalisasi pasar menyentuh sebesar Rp 16.000 triliun, setara sekitar 70% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian mencetak rekor baru di level Rp 18,06 triliun. Sementara itu, IHSG ditutup menguat tipis 0,03% ke level 8.646 pada perdagangan Selasa (30/12).
Seiring dengan cetak rekornya IHSG di 2025, akankah Presiden RI Prabowo Subianto membuka perdagangan bursa di 2026?
Apabila melihat susunan acara pembukaan perdagangan BEI 2026, Prabowo bakal membuka perdagangan BEI di 2026 sekaligus memberikan arahan pidato pukul 09.00 WIB pada Jumat (2/1) di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun apabila kilas balik pada pembukaan perdagangan BEI 2025 lalu, Prabowo Subianto tidak hadir dan diwakili oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Di samping itu analis pasar modal Hans Kwee menilai kehadiran pejabat negara dalam seremoni pembukaan perdagangan memiliki makna simbolik. Ia mengatakan, secara langsung kehadiran Presiden atau pejabat tinggi negara bukan faktor utama yang menentukan pergerakan IHSG.
“Meskipun memang arah pasar tetap lebih ditentukan oleh fundamental ekonomi, valuasi saham, serta sentimen global dan domestik,” kata Hans dalam keterangannya, Selasa (30/12).

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)

