Fenomena Sudden Travel, Perubahan Perjalanan Liburan yang Mengubah Industri Pariwisata

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG — Pandemi Covid-19 menjadi salah satu fase paling berat yang dialami masyarakat global dalam beberapa dekade terakhir. Tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi dan bekerja, krisis kesehatan ini juga meninggalkan scarring effect, yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang yang merasa cemas dalam mengambil keputusan untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Pengalaman hidup dalam ketidakpastian membuat banyak orang menjadi lebih berhati-hati, termasuk saat merencanakan perjalanan liburan. Meski kini pembatasan mobilitas mulai dilonggarkan, perilaku wisata yang sebelumnya direncanakan sejauh jauh hari tidak serta-merta kembali. Scarring effect dari pandemi membuat wisatawan kini enggan mengikat rencana terlalu jauh ke depan dan lebih memilih menunggu hingga mendekati waktu keberangkatan sebelum menentukan perjalanan.

Di sektor industri pariwisata, perubahan ini terasa sangat nyata. Salah satu pelaku perhotelan di Kota Semarang mencatat pergeseran pola permintaan wisatawan. Di Grand Candi Hotel Semarang, perubahan perilaku wisatawan ini mulai terlihat jelas sejak pascapandemi Covid-19 tahun 2022 lalu. Okupansi kamar yang biasanya dapat diproyeksikan sejak jauh hari, kini kerap bergerak lambat di awal periode liburan, sebelum mengalami lonjakan tajam mendekati hari keberangkatan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai sudden travel, yakni perjalanan yang diputuskan dalam waktu singkat tanpa perencanaan panjang. Manager Communication Grand Candi Hotel Semarang, Azkar Rizal Muhammad, mengungkapkan bahwa pandemi menjadi titik balik dari perubahan perilaku tamu hotel. Ketidakpastian selama pandemi berhasil membentuk kebiasaan baru di kalangan wisatawan.

“Kalau dulu orang-orang bisa mempersiapkan agenda liburan dari jauh-jauh hari, mulai dari tiket pesawat, destinasi wisata, hingga hotel.  Nah, entah bagaimana setelah Covid-19, tamu ini lebih suka untuk sudden travel. Itu benar-benar terasa sejak tahun 2022 sampai sekarang,” ujar Azkar.

Perubahan perilaku tersebut membuat ritme bisnis hotel menjadi semakin dinamis. Angka reservasi kamar hotel di awal periode liburan seringkali terlihat rendah, seolah menunjukkan permintaan yang lesu. Namun, kondisi tersebut bisa berubah secara drastis dalam satu waktu. “Begitu masuk ke tanggal liburan, misalnya sekitar tanggal 20 Desember, okupansi hotel dari yang sebelumnya 60% bisa tiba-tiba jadi 100%. Dan itu terjadi hanya dalam satu hari saja,” katanya.

Ekonom Universitas Negeri Semarang (Unnes) Bayu Bagas Hapsoro, menilai bahwa perubahan ini bukan sekadar respons sesaat, melainkan pola baru yang lahir dari pengalaman kolektif selama pandemi. “Secara umum saya mencermati wisata global, termasuk di Indonesia, itu saat ini memang ada tampaknya mendekati sebagai fenomena yang relatif permanen, membentuk pola baru yang memang disetir oleh Gen Z,” ujar Bayu.

Menurut Bayu, pandemi juga berhasil mengubah orientasi wisata para wisatawan. Perjalanan liburan tidak lagi semata tentang destinasi, melainkan pengalaman. “Sudden travel ini menunjukkan behavior para pelancong, kini mereka lebih memilih sesuatu yang bersifat experience. Mereka melakukan kunjungan karena ada event, bukan karena destinasi,” jelasnya.

Dilihat dari kacamata ekonomi pariwisata, Bayu mengungkap bahwa perilaku sudden travel memiliki potensi untuk menstimulasi perputaran ekonomi, baik bagi pelaku industri pariwisata maupun pemerintah daerah. Dengan pola wisatawan yang kini lebih mencari pengalaman, Bayu menilai pelaku usaha dapat merespons melalui pengembangan paket bundling antara penginapan dan destinasi wisata.

“Bisa dibuat paket bundling dengan perjalanan ke destinasi wisata yang menarik dan bisa memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan. Misalnya, ada paket bundling dengan destinasi wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), yang di sana wisatawan bisa mendapatkan pengalaman baru, seperti memetik buah melon,” ujar Bayu.

Selaras dengan pernyataan Bayu, konsultan pariwisata Bambang Mintosih juga menyebut bahwa tren perilaku sudden travel juga dipelopori oleh generasi muda, khususnya Gen Z. Bambang menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok dalam pola perencanaan perjalanan antargenerasi. “Yang sudden travel ini rata-rata didominasi oleh Gen Z karena sekarang hotel banyak di mana-mana, mereka juga nunggu flash sale. Sementara yang biasanya reservasi dari jauh-jauh hari itu generasi baby boomer,” ujar Bambang.

Dalam menghadapi tren sudden travel, Bambang menjelaskan bahwa kota-kota yang biasa menjadi pilihan destinasi wisata perlu terus beradaptasi dalam menghadapi perubahan perilaku wisatawan yang semakin spontan. Saat ini, Bambang menilai ada sejumlah daerah yang sudah cukup berhasil dalam memanfaatkan tren sudden travel. “Contohnya Kota Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan lain-lain jadi kota yang berhasil memanfaatkan tren ini,” jelasnya.

Tidak hanya berdampak pada reservasi hotel, tren sudden travel juga berdampak pada cara wisatawan menikmati destinasi. Ketua Forum Rumpun Komunitas (FRK) Pariwisata Borobudur, Kirno Prasojo menjelaskan bahwa di kawasan Borobudur, kini wisatawan tidak hanya melakukan kunjungan wisata ke Candi Borobudur, tetapi juga melakukan perjalanan wisata desa di Borobudur.

“Kalau pola kunjungannya memang agak berubah. Kalau dulu orang yang keluarga itu berkunjung harus naik ke Candi. Nah, sekarang mereka cenderung datang ke Borobudur untuk perjalanan wisata desa menaiki mobil VW Safari Klasik atau Andong, dan Borobudur hanya sebagai latar selfie aja dari jauh,” jelas Kirno.

Selain perubahan perilaku, Kirno juga menambahkan bahwa adanya pembatasan jumlah pengunjung, tarif tiket yang naik, dan aturan terkait larangan naik ke puncak candi menjadi alasan lain wisatawan mengalihkan aktivitas kunjungan ke area sekitar yang lebih mudah dijangkau.

“Jadi pertama, dulu pernah ada isu masuk Candi Borobudur tiketnya mahal. Mereka gak datang karena tiketnya mahal padahal sebenarnya enggak, tiketnya tetap masih biasa. Terus yang kedua karena adanya pembatasan. Dulu yang naik Candi satu jam hanya bisa 120 orang, oleh karena itu wisatawan harus booking dulu. Sekarang kan udah dibuka tuh, satu hari bisa berapa ribu orang boleh. Namun memang butuh waktu untuk mengubah image yang sudah terlanjur terbentuk bahwa tidak bisa naik ke Borobudur," tambahnya.

Dengan dampak nyata yang dirasakan oleh para pelaku industri pariwisata, baik dari sisi perhotelan hingga tempat wisata, mampu menunjukkan bahwa scarring effect yang ditinggalkan pandemi Covid-19 dan menguatnya tren sudden travel menjadi sebuah tantangan baru untuk industri pariwisata. Pola perjalanan yang semakin spontan membuat perencanaan bisnis kian sulit diprediksi, sementara lonjakan permintaan bisa terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Kondisi ini menuntut para pelaku usaha untuk sigap membaca perubahan perilaku wisatawan yang bergerak cepat dan dinamis, serta melakukan perubahan operasional menjadi lebih fleksibel.

Di tengah ketidakpastian tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlanjutan untuk industri pariwisata. Ketika wisatawan tidak lagi ingin terikat pada perencanaan jangka panjang, destinasi dan pelaku usaha dituntut untuk menghadirkan pengalaman yang lebih relevan dan siap dinikmati kapan saja. Pada titik ini, terlihat bahwa sudden travel bukan semata tantangan, melainkan ujian bagi industri pariwisata untuk terus bertahan dan tumbuh di era pasca pandemi Covid-19. (Fadya Jasmin Malihah)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jangan Dulu Ucapkan Selamat Tinggal pada Federico Barba, Persib Ternyata Buat Pescara Pusing untuk Pulangkan Bek Italia
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
3 Bangunan Rusak akibat Ledakan Gedung Nucleus Farma, Kerugian Capai Rp 1,3 Miliar
• 17 jam lalukompas.com
thumb
BI Resmi Hentikan JIBOR, INDONIA Jadi Pengganti Per 1 Januari 2026
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Soal Pemulihan Pasca-Bencana Sumatera, BNPB: Negara Tidak Kenal Libur
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Jangan Kaget, Sebegini Total Sampah di Malam Tahun Baru Jakarta
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.