FAJAR, JAKARTA — Persija Jakarta tak ingin sekadar menjadi penggembira di putaran kedua Super League 2025/2026. Di balik sikap tenang manajemen, satu keputusan strategis mulai terlihat jelas: Macan Kemayoran akan melakukan evaluasi total—dan itu berarti perombakan.
Bursa transfer paruh musim yang dibuka pada 10 Januari hingga 6 Februari menjadi momentum krusial. Waktu singkat, tekanan tinggi, dan ekspektasi besar. Di Jakarta, momen ini tak dipandang sebagai rutinitas tahunan, melainkan kesempatan untuk mengoreksi arah.
Direktur Persija, Mohamad Prapanca, tak menutup kemungkinan adanya pemain yang harus angkat kaki. Kalimatnya singkat, tetapi maknanya tegas.
“Ya kami akan menyesuaikan dengan pelatih, juga ada beberapa yang harus dilepas,” ujar Prapanca, Kamis, 1 Januari 2026.
Pernyataan itu menjadi sinyal awal bahwa Persija tak akan setengah-setengah. Evaluasi bukan hanya soal hasil di papan klasemen, tetapi juga soal efektivitas setiap keping dalam skuad.
Pelatih sebagai Poros Keputusan
Berbeda dari musim-musim sebelumnya, kali ini Persija menyerahkan sepenuhnya palu keputusan kepada Mauricio Souza. Pelatih asal Brasil itu menjadi pusat evaluasi, baik untuk pemain lokal maupun asing.
Prapanca enggan menyebut nama. Ia juga tak memastikan apakah pemain yang dilepas berasal dari kuota asing atau lokal. Semua, kata dia, menunggu laporan dan rekomendasi sang pelatih.
“Masih menunggu kepastian pelatih. Mungkin setelah pertandingan tanggal 3 Januari, baru kita bisa tahu posisinya seperti apa,” ujar Prapanca, merujuk laga Persija kontra Persijap Jepara.
Pendekatan ini menandai pergeseran penting. Persija tak lagi ingin terjebak dalam keputusan berbasis reputasi atau tekanan publik. Yang dicari adalah kecocokan sistem dan kontribusi nyata.
Targetnya jelas: memperkuat kedalaman skuad.
Gustavo Franca dan Simbol Evaluasi
Di antara nama-nama yang beredar, Gustavo Franca menjadi yang paling sering disebut. Gelandang serang asal Brasil itu datang dengan ekspektasi tinggi, tetapi sejauh ini belum memberi dampak signifikan.
Dari 12 penampilan, Gustavo hanya mencatatkan satu gol dan satu assist. Lima kali ia turun sebagai pemain pengganti—indikasi bahwa posisinya belum sepenuhnya dipercaya.
Dalam sepak bola modern, statistik bukan segalanya. Namun minimnya menit bermain sering kali menjadi bahasa paling jujur dari seorang pelatih. Gustavo Franca kini berada di persimpangan: bertahan dan berjuang, atau menjadi korban pertama evaluasi paruh musim.
Situasi ini mencerminkan satu hal: Persija tak lagi memberi toleransi panjang bagi pemain asing yang tak memberi nilai tambah instan.
Datangnya Pemain Asing Grade A
Jika ada yang dilepas, maka hampir pasti ada yang datang. Prapanca mengonfirmasi bahwa manajemen sudah bergerak—bahkan sebelum bursa resmi dibuka.
“Pelatih sudah ada beberapa pemain yang dibidik dan kita lakukan negosiasi,” katanya.
Meski enggan membuka detail, satu frasa kunci mencuat dari internal klub: pemain asing grade A.
Istilah ini bukan sekadar jargon. Ia merujuk pada profil pemain dengan pengalaman kompetisi level tinggi, kesiapan fisik dan mental, serta kemampuan langsung mengangkat kualitas tim—bukan proyek jangka panjang.
Persija paham betul, putaran kedua adalah fase tanpa ruang coba-coba. Setiap poin bernilai mahal. Setiap kesalahan rekrutmen bisa berujung fatal.
Masalah Klasik yang Belum Tuntas
Evaluasi total ini juga tak bisa dilepaskan dari persoalan mendasar Persija musim ini: inkonsistensi.
Macan Kemayoran kerap tampil dominan dalam satu laga, lalu kehilangan arah di laga berikutnya. Masalah penyelesaian akhir, transisi bertahan, hingga kepemimpinan di lapangan menjadi sorotan.
Dalam konteks itu, pemain asing bukan sekadar pengisi kuota, melainkan penentu keseimbangan. Persija membutuhkan sosok yang bisa menjadi pembeda di momen krusial—baik lewat gol, assist, maupun kepemimpinan.
Tak heran jika rumor pemain asing dengan CV kuat mulai beredar di sekitar Jakarta. Nama-nama dari Amerika Latin dan Eropa Timur disebut-sebut masuk radar. Namun, hingga kini, manajemen memilih menutup rapat.
Tekanan Publik dan Kesabaran Manajemen
Bagi Persija, bursa transfer selalu menjadi arena tekanan publik. The Jakmania menuntut perubahan cepat, tetapi manajemen mencoba berjalan dengan kalkulasi.
Langkah Prapanca menunggu laga kontra Persijap Jepara sebelum mengambil keputusan final menunjukkan kehati-hatian itu. Satu pertandingan bisa mengubah peta evaluasi—menentukan siapa yang layak dipertahankan, dan siapa yang tak lagi relevan.
Namun, kesabaran ini memiliki batas. Dengan kompetisi yang kian ketat dan rival-rival seperti Persib, Persebaya, dan Bali United terus berbenah, Persija tak punya banyak waktu untuk ragu.
Arah Baru Macan Kemayoran
Yang paling menarik dari situasi ini adalah arah besar yang sedang dibangun. Persija tak hanya ingin memperbaiki posisi klasemen, tetapi membentuk identitas tim yang lebih jelas.
Mauricio Souza diberi mandat penuh. Manajemen siap membuka pintu keluar—dan dompet—asal sesuai kebutuhan teknis.
Evaluasi total bukan berarti panik. Ia adalah pengakuan bahwa ada yang perlu diperbaiki.
Kini, publik Jakarta menunggu langkah konkret. Siapa yang dilepas? Siapa yang datang? Dan yang paling penting: apakah pemain asing grade A itu benar-benar akan mengubah wajah Persija di putaran kedua?
Jawabannya akan segera hadir. Bursa transfer sudah di depan mata. Dan Persija Jakarta tampaknya siap menancap gas—tanpa banyak kompromi.




