Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah pedagang di Ancol Taman Impian mengeluhkan lesunya penjualan pada momentum malam Tahun Baru 2026. Segenap harapan menjadi bekal para pedagang dalam memasuki tahun 2026.
Adul (42), pedagang mainan di kawasan Pantai Lagoon, Ancol, menjadi salah satu yang mengeluhkan lesunya penjualan kemarin. Pada momentum besar, seperti tahun baru maupun event yang diadakan Ancol, penjualan Adul biasanya tembus hingga Rp1 juta per hari. Namun, kondisinya berbeda hari itu. Adul hanya mampu meraup omzet senilai Rp700.000 selama satu hari dia berdagang di Pantai Lagoon.
“Penjualan kemarin jauh banget, karena cuaca juga. Ekonomi masyarakat juga belum stabil, jadi daya beli lemah,” katanya kepada Bisnis, Kamis (1/1/2026).
Selain itu, Adul juga sebetulnya menilai lesunya penjualan disebabkan oleh semakin sedikitnya pengunjung Ancol kemarin. Hal itu terkonfirmasi oleh manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) yang menerangkan bahwa kehadiran pengunjung di Ancol pada malam perayaan Tahun Baru 2026, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi kehadiran pengunjung pada malam tahun baru hanya mencapai 65.821 orang, sementara target yang ditetapkan perseroan mencapai 100.000 pengunjung. Realisasi pada malam Tahun Baru 2026 juga susut 5,97% year-on-year (YoY) dibandingkan realisasi 2024 sebanyak sekitar 70.000 pengunjung pada 31 Desember 2024.
“Saya sudah jualan dari 2018, sudah lama. Ini memang jadi penjualan paling rendah,” katanya.
Baca Juga
- Curhat Pedagang Ancol Tahun Baru 2026: Pengunjung Sepi, Omzet Turun 75%
- Pedagang Pasar Teriak Jumlah Pembeli Anjlok 40% Jelang Tahun Baru 2026
- Pedagang Kembang Api di Semarang Masih Beroperasi Jelang Tahun Baru
Senada, Wati (53), seorang pedagang makanan dan minuman di kawasan Pantai Lagoon, turut merasakan hal yang sama. Biasanya, penjualan Wati di Ancol pada malam tahun baru bisa mencapai hingga Rp8 juta dalam satu malam. Namun kini kondisinya jauh berbeda, dengan hanya mencatatkan sekitar Rp2 juta dalam satu hari.
Bahkan, lesunya penjualan pada momen malam Tahun Baru 2026, hanya menjadi puncak dari apa yang telah dia rasakan sepanjang 2025. Wati mengaku, penjualannya telah susut hingga lebih dari 50% pada momentum libur bersama maupun event yang diselenggarakan Ancol.
Selain faktor ekonomi yang tengah tertekan, Wati menilai peran Ancol dalam menjajakan produk pariwisata mesti digencarkan kembali. Harga tiket yang naik dinilai menjadi salah satu penyebab sedikitnya jumlah wisatawan yang datang ke Ancol belakangan.
“Di 2026, kami sih berharap ekonomi bisa stabil, Ancol juga punya strategi untuk mendatangkan wisatawan. Yang penting masih berpikir bagaimana bisa mendatangkan untung yang banyak dari tahun sebelumnya,” katanya kepada Bisnis, Kamis (1/1/2026).
Adapun, PJAA selaku pengelola Ancol sebetulnya memproyeksikan penyusutan terhadap jumlah pengunjung sepanjang 2025. Proyeksi lesu itu dibuat lantaran lemahnya daya beli masyarakat yang masih menghantui kinerja PJAA sepanjang tahun.
Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Winarto menerangkan bahwa sepanjang periode Januari–Oktober 2025, jumlah pengunjung yang melancong ke Ancol hanya sebanyak 7,57 juta.
Sementara itu, proyeksi PJAA pada tahun penuh 2025 hanya mencapai 9,38 juta pengunjung. Proyeksi tersebut lebih rendah 6,02% year-on-year (YoY) dibandingkan realisasi 2024 sebanyak 9,98 juta pengunjung.
Winarto menegaskan, proyeksi lesu ini ditetapkan perseroan lantaran melihat kondisi daya beli masyarakat sepanjang tahun.
“Proyeksi penghujung 2025 memang tidak sebagus yang di tahun sebelumnya. Harus kami akui, kami juga terkena imbas dari daya beli masyarakat yang pada momen-momen ini belum pulih kembali,” katanya dalam paparan publik, Rabu (3/12/2025).




