REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mubasyier Fatah (Bendahara Umum Pimpinan Pisat Ikatan Sarjanq Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Entrepreuner Teknologi Informasi dan Praktisi Keamanan Siber)
Setiap kali bencana besar terjadi, perhatian publik segera tertuju pada kecepatan respons dan kesiapan negara. Namun, setelah situasi mereda, refleksi mendalam sering kali berhenti sebelum menghasilkan perubahan sistemik.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Telah banyak terjadi bencana dan yang terjadi di Sumatera bukan yang pertama. Negara ini telah memiliki banyak pengalaman menghadapi bencana. Seharusnya dengan frekuensi kejadian membuat kita semakin terampil membaca risiko dan mengelola dampaknya secara lebih terukur.
Bencana seperti gempa bumi, banjir, longsor, dan kebakaran hutan terus berulang dalam pola yang semakin kompleks. Perubahan iklim dan tekanan lingkungan membuat bencana tidak lagi dapat dipahami sebagai peristiwa terpisah.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Dalam situasi seperti ini, persoalan utama bukan sekadar kekuatan, melainkan kesiapan sistem sosial dan kelembagaan dalam merespons ketidakpastian.
Berkali-kali kita menyaksikan keterlambatan informasi dan koordinasi yang tidak sinkron. Padahal, pada fase awal bencana, kecepatan sering kali menentukan perbedaan antara keselamatan dan kehilangan.
Kelompok masyarakat paling rentan hampir selalu menjadi pihak yang paling terdampak. Bukan karena mereka tidak mampu beradaptasi, tetapi karena akses terhadap informasi dan perlindungan datang terlambat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kebencanaan tidak bisa dilepaskan dari kualitas tata kelola dan sistem informasi yang dimiliki negara.
Di sinilah digitalisasi semestinya dipahami bukan sebagai tambahan teknologi, melainkan sebagai fondasi baru dalam membaca, mengelola, dan mengurangi risiko bencana.
Batas Pendekatan Konvensional
Sistem penanggulangan bencana yang selama ini berjalan dibangun dalam kerangka birokrasi yang berjenjang. Dalam kondisi normal, sistem ini memberi kepastian prosedural dan kejelasan tanggung jawab.
Namun, dalam situasi krisis, kepastian prosedural sering berhadapan dengan kebutuhan bertindak cepat. Bencana tidak memberi ruang bagi proses yang terlalu panjang.
Laporan dari daerah terdampak kerap tiba ketika kondisi sudah berubah. Sementara itu, keputusan yang diambil sering kali berdasarkan informasi yang belum sepenuhnya utuh.
Persoalan lain terletak pada pengelolaan data. Informasi kebencanaan tersebar di berbagai lembaga dengan standar dan sistem yang berbeda-beda.
Akibatnya, analisis risiko cenderung parsial dan sulit dijadikan dasar perencanaan mitigasi jangka panjang yang konsisten.
Di tingkat daerah, keterbatasan kapasitas teknis dan infrastruktur memperlemah kesiapsiagaan. Ironisnya, wilayah dengan risiko tinggi justru sering memiliki sumber daya paling terbatas.
Ketimpangan ini mencerminkan masalah struktural yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah anggaran atau personel. Selama pendekatan konvensional tetap dominan, respons kebencanaan akan terus bergerak di belakang peristiwa, bukan di depan risiko.
Digitalisasi sebagai Jalan Perubahan
Digitalisasi menawarkan kemungkinan untuk menggeser cara pandang negara terhadap bencana. Dari sekadar merespons kejadian menuju upaya membaca pola dan mengurangi risiko sejak dini.
Teknologi sensor, citra satelit, dan analitik data memungkinkan deteksi ancaman dilakukan lebih cepat dan akurat dibandingkan pendekatan manual. Data historis yang dikelola secara konsisten dapat membantu memetakan wilayah rawan dan menyusun kebijakan mitigasi berbasis bukti.
Dalam konteks peringatan dini, teknologi digital memungkinkan informasi menjangkau masyarakat secara langsung tanpa harus menunggu proses administratif yang panjang.
Kecepatan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk mengambil langkah penyelamatan awal secara mandiri, terutama pada menit-menit kritis.
Digitalisasi juga mempermudah koordinasi antarlembaga melalui satu platform bersama yang mempertemukan data, logistik, dan sumber daya secara real time. Peta digital dan sistem informasi geografis membantu pengambilan keputusan di lapangan dengan visualisasi kondisi yang lebih mendekati kenyataan.
Lebih dari itu, teknologi membuka ruang partisipasi publik. Warga dapat berkontribusi menyampaikan informasi lapangan yang relevan bagi respons kebencanaan. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi teknis, tetapi juga memperkuat relasi antara negara dan masyarakat dalam menghadapi risiko.
Kepemimpinan Kebijakan yang Menentukan
Transformasi digital dalam penanggulangan bencana tidak akan berjalan tanpa kepemimpinan kebijakan yang kuat dan konsisten. Integrasi data lintas lembaga perlu didorong secara sistemik, meskipun menuntut perubahan cara kerja yang selama ini mapan.
Tanpa integrasi, digitalisasi berisiko melahirkan sistem yang canggih secara teknologi, tetapi tetap terfragmentasi secara kelembagaan. Kerangka regulasi harus menjamin interoperabilitas, keamanan data, serta kejelasan otoritas dalam pengambilan keputusan berbasis informasi digital.
Namun, regulasi saja tidak cukup. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia menjadi syarat utama agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemerataan infrastruktur digital juga menjadi prasyarat penting agar perlindungan kebencanaan tidak bergantung pada lokasi geografis.
Kemitraan dengan perguruan tinggi dan komunitas teknologi dapat memperkaya inovasi, sepanjang arah kebijakan tetap berada dalam kendali negara. Digitalisasi kebencanaan pada akhirnya adalah urusan keselamatan publik, bukan sekadar agenda modernisasi administrasi.
Tanpa keberanian kebijakan, digitalisasi akan berhenti sebagai wacana yang berulang tanpa perubahan nyata.
Penutup: Membangun Ketahanan Melalui Sistem
Penguatan digitalisasi penanggulangan bencana perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan nasional yang berkelanjutan. Bencana tidak dapat dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui sistem yang lebih cermat dan responsif.
Literasi kebencanaan dan literasi digital masyarakat perlu berjalan beriringan agar teknologi benar-benar bermanfaat. Pendekatan berbasis komunitas penting agar sistem nasional tetap peka terhadap keragaman sosial dan geografis Indonesia.
Keberlanjutan menjadi kunci. Tanpa evaluasi dan pembaruan, sistem digital akan cepat kehilangan relevansinya.
Dalam kerangka ini, digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan sarana memperkuat perlindungan negara terhadap warganya. Jika pengalaman bencana selama ini benar-benar dijadikan pelajaran, maka penguatan sistem digital seharusnya menjadi langkah yang tidak lagi bisa ditunda.



