Pantau - Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan bahwa pendirian negara Palestina merdeka merupakan kenyataan yang tidak terelakkan dan menjadi tujuan pasti bagi rakyat Palestina di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.
Seruan Kemerdekaan dan Penolakan AneksasiDalam pernyataannya pada Senin, 1 Januari 2026, Abbas menyatakan bahwa rakyat Palestina terus melangkah mantap menuju kebebasan dan kemerdekaan penuh.
Negara Palestina yang dimaksud akan berdaulat penuh, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, serta mencakup hak untuk memulangkan para pengungsi sebagaimana dijamin dalam resolusi internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab.
Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina, baik di Gaza maupun Tepi Barat, saat ini menghadapi “perang genosida dan pembersihan etnis paling brutal dalam sejarah modern.”
Menurutnya, Israel telah mengabaikan hukum internasional, legitimasi global, dan perjanjian gencatan senjata yang ada.
"Rakyat Palestina tidak akan menyerah, tidak akan meninggalkan tanah air mereka, dan tidak akan menerima aneksasi maupun rencana pemindahan," ungkapnya.
Ajakan Persatuan Nasional di Tengah KrisisAbbas juga menyerukan persatuan nasional dan mendesak seluruh rakyat Palestina untuk bersatu di bawah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang disebutnya sebagai satu-satunya perwakilan sah bangsa Palestina.
Ia menolak semua bentuk solusi yang mencoba memisahkan Gaza dari Palestina.
"Tidak akan ada negara Palestina hanya di Gaza, dan tidak akan ada negara Palestina tanpa Gaza," ia mengungkapkan.
Abbas menegaskan bahwa Gaza akan kembali ke pangkuan legitimasi nasional dan dibangun kembali sebagai bagian utama dari proyek nasional Palestina.
Pernyataan ini menegaskan tekad Mahmoud Abbas dalam memperjuangkan kemerdekaan utuh dan kedaulatan penuh bagi Palestina, serta penolakannya terhadap segala bentuk solusi yang mengarah pada pemisahan wilayah atau kompromi sepihak.




