FAJAR.CO.ID, TANGERANG — Ladang jagung yang berada di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, menyita perhatian publik.
Lahan pertanian yang sempat diresmikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2025 itu kini ramai diperbincangkan setelah kondisinya terlihat dipenuhi rumput liar.
Kabarnya, sebagian area ladang jagung tampak didominasi tumbuhan hijau yang tumbuh di sela-sela tanaman.
Pemandangan tersebut memunculkan tanda tanya masyarakat mengenai keberlanjutan program ketahanan pangan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu proyek percontohan.
Sebagaimana diketahui, ladang jagung tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan hasil kolaborasi antara Polda Banten, Polresta Tangerang, dan PT MSD Corpora Internasional.
Program ini dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sektor pangan nasional sekaligus optimalisasi lahan produktif di wilayah Tangerang.
Menanggapi sorotan publik tersebut, Polresta Tangerang memastikan bahwa program penanaman jagung masih berjalan sesuai perencanaan awal.
Pihak kepolisian menyebut, tanaman jagung di lahan tersebut diproyeksikan memasuki masa panen pada Januari mendatang.
Polisi juga menegaskan, kondisi lahan yang terlihat ditumbuhi rumput tidak bisa serta-merta diartikan sebagai kegagalan program.
Tanaman jagung disebut tetap tumbuh dan dirawat berdasarkan tahapan pertanian yang telah ditetapkan sejak awal penanaman.
Sementara itu, PT MSD Corpora Internasional selaku mitra pengelola lahan turut memberikan klarifikasi terkait keberadaan rumput liar di sejumlah titik ladang.
Direktur Utama PT MSD Corpora, Made, menjelaskan bahwa kondisi tersebut sengaja dibiarkan sebagai bagian dari strategi pengelolaan lahan.
“Rumput di beberapa titik memang kami biarkan. Tujuannya untuk menahan struktur tanah agar tidak hanyut, karena karakter tanah di lokasi ini mudah tergerus saat hujan,” ujar Made, dikutip pada Kamis (1/1/2026).
Ia menambahkan, kawasan Bantarpanjang memiliki karakter tanah yang rawan mengalami erosi, khususnya saat intensitas hujan tinggi.
Karena itu, sebagian rumput tidak dibersihkan guna menjaga kestabilan tanah dan mencegah kerusakan lahan.
Meski demikian, Made memastikan perawatan ladang jagung tetap dilakukan secara rutin.
Pengendalian gulma yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman utama, kata dia, tetap menjadi bagian dari proses pemeliharaan.
Baginya, rumput yang dibiarkan di beberapa area tidak akan memengaruhi hasil panen jagung yang telah direncanakan.
Kondisi ladang jagung ini menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan program ketahanan pangan yang diresmikan oleh Gibran.
Sejumlah pihak pun mendesak perlunya transparansi dan komunikasi yang terbuka kepada publik agar tidak menimbulkan persepsi negatif. (Muhsin/fajar)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/2880713/original/075865300_1565693400-upacara_penerimaan_jenazah_Briptu_Haedar_di_Bandara_Timika.jpeg)

