Tawuran Awali Tahun Baru di Jakarta, Pengamat Sebut Solusi Pemprov DKI Hanya Sentuh Permukaan

suara.com
21 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Tawuran pecah di tiga lokasi awali tahun baru 2026 di Jakarta.
  • Akar masalahnya adalah dendam komunal, masalah kesejahteraan, dan pencarian eksistensi.
  • Solusi pemerintah dinilai dangkal, butuh penataan pemukiman dan penyaluran energi positif.

Suara.com - Jakarta mengawali tahun baru 2026 dengan catatan kelam, di mana aksi tawuran pecah di tiga lokasi berbeda sejak Kamis (1/1/2026) dini hari. Insiden kekerasan ini terjadi di kawasan Klender, Ciracas, dan Manggarai, yang merupakan titik panas konflik menahun.

Pengamat sosial, Rissalwan Habdy Lubis, menganalisis bahwa fenomena ini memiliki dua karakter berbeda; tawuran berbasis dendam komunal dan tawuran berbasis pencarian eksistensi.

Dendam dan Eksistensi

Rissalwan menyoroti khusus konflik di Manggarai yang menurutnya berakar dari dendam sejarah selama lima dekade, yang bisa dipicu oleh persoalan sepele.

"Kalau yang di Manggarai itu sudah pasti karena dendam. Gara-gara petasan nyasar, langsung dianggap cari gara-gara. Ini cerita lama, sudah hampir 50 tahun," ujar Rissalwan kepada Suara.com.

Sementara itu, tipe tawuran lainnya biasanya dilakukan oleh kelompok pemuda atau geng motor yang sengaja mencari panggung untuk menunjukkan kekuatan.

"Kalau karakter anak-anak tongkrongan, ini biasanya cuma mau menunjukkan eksistensi saja," jelas Rissalwan.

Kritik Solusi 'Manggarai Bersholawat'

Rissalwan juga mengkritik upaya Gubernur Jakarta, Pramono Anung, yang dinilainya masih menyentuh permukaan. Acara "Manggarai Bersholawat" yang digelar tahun lalu dianggapnya tidak menyentuh akar masalah.

Baca Juga: Profil dan Statistik Lengkap Allano Lima Winger Brasil Tumpuan Persija Jakarta

"Ibarat mengobati rasa sakit, itu hanya menghilangkan sakitnya sesaat, tapi akar masalahnya tidak disembuhkan," tegasnya.

Menurutnya, akar masalah tawuran komunal di Manggarai adalah tingkat stres yang tinggi akibat pola pemukiman yang padat serta masalah kesejahteraan yang belum tuntas.

Untuk memutus siklus kekerasan, Rissalwan mengusulkan beberapa solusi jangka panjang, di antaranya:

  • Penataan ulang pemukiman padat untuk mengurangi tingkat stres warga.
  • Penyediaan aktivitas positif untuk menyalurkan energi pemuda, seperti lomba konten bulanan yang terinspirasi dari Korea Selatan.
  • Pemberian beasiswa ke luar negeri bagi anak-anak di wilayah rawan konflik.

"Kalau bisa, anak-anaknya dikasih beasiswa luar negeri, biar putus dari dendam, karena mereka mendengar obrolan orang tuanya," usulnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polres Fakfak Tangkap Terduga Pelaku Penikaman di Wagom
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Jo Yoon Woo Umumkan Menikah dan Pensiun dari Dunia Akting Setelah 15 Tahun Karier
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Pelaku Utama Aktivitas Tambang Ilegal di Dekat IKN Segera Diadili
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Tito Minta Pemda Optimalkan Keuchik, Percepat Data Rumah Rusak Imbas Bencana
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Treatment Adalah: Pengertian, Jenis, dan Manfaat bagi Tubuh
• 19 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.