Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Karantina Jawa Timur (Jatim) mengerahkan kesiapsiagaan penuh untuk mengamankan arus barang yang diprediksi melonjak. Tim gabungan dari Karantina Hewan, Ikan, Tumbuhan, dan Penegakan Hukum secara khusus melakukan pemantauan langsung di Satuan Pelaksana Pelabuhan (Satpel) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Langkah tersebut bertujuan memastikan layanan karantina 24 jam berjalan optimal tanpa celah, sekaligus mengantisipasi potensi peningkatan volume komoditas hortikultura dan protein hewani yang masuk melalui gerbang utama logistik Jawa Timur.
Katimja Penegakan Hukum Karantina Jatim, Priyadi, mengungkapkan data signifikan yang mengonfirmasi tren kenaikan. Terjadi peningkatan volume sertifikasi karantina hewan ikan tumbuhan pada Desember 2025 dibanding bulan sebelumnya.
“Sertifikasi komoditas tumbuhan meningkat 16,74 persen dari 8.690 dokumen menjadi 10.145 dokumen. Sertifikasi komoditas ikan naik 6,54 persen dari 3.758 dokumen menjadi 4.004 dokumen, sementara komoditas hewan meningkat naik sekitar 2,75 persen dari 4.949 dokumen menjadi 5.085 dokumen,” kata Priyadi.
Angka-angka tersebut menjadi indikator nyata aktivitas logistik pangan nasional yang menggeliat.
Lebih lanjut, Priyadi merinci jenis komoditas yang mendominasi peningkatan tersebut.
“Kenaikan ini didominasi oleh lalu lintas komoditas hortikultura dan protein hewani seperti Daging Ayam dan Sapi Beku, Daging Ayam dan Sapi Olahan, Susu Pasteurisasi UHT, Yogurt, dan Telur Konsumsi,” ujarnya.
Dominasi komoditas tersebut menuntut pengawasan karantina yang lebih ketat, mengingat sifatnya yang rentan dan terkait langsung dengan keamanan pangan konsumen akhir.
Priyadi secara menegaskan status Pelabuhan Tanjung Perak sebagai titik penting. Ia menjelaskan bahwa pelabuhan ini merupakan simpul distribusi dengan tingkat risiko tinggi terhadap masuk dan tersebarnya hama penyakit karantina.
“Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu gerbang utama logistik nasional di Jawa Timur yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap masuk dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), serta Hama Penyakit Ikan Karantina,” jelasnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pencegahan hama penyakit karantina adalah tujuan utama di balik semua prosedur yang diperketat. Oleh karena itu, kecepatan layanan tidak boleh mengorbankan prinsip kewaspadaan.
"Momentum pergantian tahun biasanya diikuti peningkatan arus barang. Kami memastikan seluruh petugas tetap siaga dan pelayanan sertifikasi karantina berjalan cepat, profesional, tanpa mengabaikan prinsip kewaspadaan,” tegas Priyadi.
Filosofi ini menjadi panduan operasional di lapangan, menyeimbangkan antara fasilitasi kelancaran perdagangan dan perlindungan sumber daya hayati Indonesia dari ancaman penyakit.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Karantina Jawa Timur telah menyusun strategi konkret. Pada periode libur Tahun Baru, sebanyak 70 orang personel dari berbagai unit akan disiagakan secara bergilir.
Kekuatan personel gabungan ini memastikan pengawasan karantina 24 jam di pelabuhan tetap berjalan tujuh hari seminggu tanpa jeda, menjaga vigilans di pusat logistik pangan tersebut.
Tidak hanya mengandalkan kekuatan internal, pertahanan juga dibangun melalui kolaborasi. Koordinasi lintas sektor karantina dengan Otoritas Pelabuhan, Bea dan Cukai, serta instansi terkait lainnya terus diperkuat.
Sinergi ini bertujuan menciptakan sistem pengawasan berlapis yang efektif untuk mengantisipasi dan memutus potensi masuknya komoditas ilegal yang dapat membahayakan ekosistem pertanian dan peternakan nasional.
Imbauan resmi juga disampaikan Kepala Karantina Jawa Timur kepada publik dan pelaku usaha. Masyarakat didorong untuk memanfaatkan aplikasi layanan karantina yang tersedia untuk melaporkan setiap lalu lintas komoditas.
Kepatuhan terhadap prosedur ini bukan hanya urusan administratif, melainkan bagian vital dari sistem keamanan pangan nasional yang melibatkan semua pihak.
Dengan demikian, upaya Karantina Jatim dalam mengawal lonjakan impor pangan jelang tahun baru diharapkan bisa berjalan maksimal, menjaga stok pangan aman, dan melindungi negeri dari ancaman penyakit.
Editor: Redaktur TVRINews





