Berbagai hal baru sering kali dihadirkan saat hari besar atau pergantian tahun. Di Kota Jayapura, Papua, momentum ini dimanfaatkan warga untuk mengekspresikan diri melalui tampilan rambut baru yang merupakan ”mahkota” mereka.
Di berbagai sudut kota, warga beramai-ramai tampil dengan gaya rambut yang semarak. Warga Jayapura yang mayoritas merupakan umat kristiani ingin tampil lebih segar dalam menjalani sukacita Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Mereka tampil dengan rambut palsu tambahan yang dianyam dan membentuk pola sedemikian rupa. Rambut dengan gradasi warna-warni ini melekat bak mahkota.
Ada pula tampilan yang lebih sederhana dengan anyaman rambut asli. Biasanya hal ini berlaku bagi anak-anak atau muda-mudi usia pelajar.
”Ingin tampil dengan penampilan baru yang lebih segar. Apalagi, ini ada momen Natal dan Tahun Baru,” ujar Yosina Okoka (34), warga Kota Jayapura, Senin (29/12/2025).
Bagi Yosina, penampilan rambut baru ini turut menaikkan rasa percaya diri. Dengan begitu, ibadah dan liburan bisa dijalani dengan penuh antusias dan sukacita.
Ia telah menata rambutnya sejak pertengahan Desember 2025. Yosina rela merogoh kocek hingga Rp 800.000 untuk rambut yang kemungkinan digunakan selama satu bulan ini.
Warga Jayapura lainnya, Marisa Kabak (30), memiliki antusiasme serupa. Sejak remaja ia sudah gemar menggunakan anyaman rambut sambung setiap kali momen Natal dan Tahun Baru.
Sejak lima hari sebelum Natal 2025, ia telah mendatangi salon untuk merias mahkotanya. Marisa rela merogoh kocek hingga Rp 1 juta demi penampilan ini.
”Bikin merasa lebih percaya diri. Warna rambut saya tahun ini menyesuaikan dengan warna baju Natal di gereja kami,” kata Marisa.
Bagi para penata rambut di salon-salon, antusiasme warga ini menjadi berkah. Salon yang melayani jasa menganyam rambut ini biasanya disebut sebagai ”Salon Papua”.
Pemilik salon Marlin Insos, Marlin Olua (35), mengatakan, salonnya semakin ramai menjelang Natal dan Tahun Baru. Di tempatnya, permintaan konsumen bervariasi. Ada yang minta disulam, dianyam, ataupun diikat. Sementara itu, konsumen laki-laki biasanya memilih rambut gimbal saat ke salon.
Adapun durasi pengerjaannya bervariasi mulai dari 3-4 jam. Sementara itu, harganya bervariasi mulai dari Rp 800.000 hingga Rp 1,5 juta. ”Kalau mau anyam rambut asli, biasanya harganya mulai dari Rp 100.000,” kata Marlin.
Saat masuk Desember, lanjut Marlin, dirinya harus mempekerjakan karyawan tambahan. Setiap penata rambut bisa melayani hingga tiga pelanggan dalam sehari.
Kebanyakan pelanggannya berasal dari Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Namun, tidak sedikit juga datang dari daerah Papua Pegunungan dan Papua Tengah.
”Selain itu, ada juga pelanggan yang panggil langsung untuk anyam rambut di rumahnya,” katanya.
Selain sebagai pekerjaan, kata Marlin, menganyam menjadi hobi dan kesenangan masa kecil. Ada rasa puas ketika berhasil menyelesaikan anyaman rambut dengan tampilan yang menarik.
”Dulu masih kecil sudah sering lakukan ini. Jadinya ketika sudah besar merasa senang ketika melakukan ini, tetapi juga bisa mendapatkan uang,” ujarnya.
Sementara itu, berkah yang diterima Marlin juga diamini oleh Yohance Magai (34), pemilik Pito Papua Salon. Kegemaran masa remaja ini ternyata bisa menjadi pintu rezekinya.
Bahkan, ia kerap kewalahan menerima pesanan. Apalagi, konsumen datang dengan berbagai permintaan dan variasi pola rambut yang semakin kekinian.
Di sekitar Kota Jayapura, kata Yohance, salon yang menerima anyaman rambut seperti ini bisa dihitung jari. Jumlahnya diperkirakan hanya 3-4 salon saja. ”Salon-salon yang sudah buka sejak lama, beberapa (di antaranya) sudah tutup. Ada juga yang pindah setelah pemekaran provinsi-provinsi,” ujarnya.
Untungnya, Yohance tidak kesulitan mencari karyawan ”dadakan”. Sebab, kebiasaan menganyam rambut ini telah menjadi bakat alami bagi sebagian besar muda-mudi Papua.
”Saya tidak punya karyawan tetap. Kalau lagi banyak pesanan kayak sekarang, biasanya saya panggil anak-anak sekolah atau mahasiswa yang kebetulan lagi libur,” ujarnya.
Biasanya, kata Yohance, dirinya tinggal menyesuaikan dengan permintaan. Ada anak yang piawai dalam anyam lengket, anyam lingkar, ikat sambung, atau untuk gimbal.
Di salon milik Yohance, Senin siang itu, salah satu karyawannya sedang menata rambut milik Emi Kogoya (52). Emi yang merupakan seorang wirausaha sekaligus perempuan pegiat adat ini memilih anyaman rambut model lingkar dua.
Langkah menganyam rambut juga menjadi bentuk persiapan Emi menyambut Tahun Baru. Namun, sebenarnya hampir sepanjang tahun dirinya menggunakan rambut sambung.
”Biasanya setiap satu bulan ganti (sambung rambut). Penampilan kita bisa kelihatan selalu segar dan hati senang juga,” ujar perempuan asal Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, yang telah menetap di Kota Jayapura ini.
Menurut Emi, seni menganyam rambut telah menjadi identitas dan kebiasaan yang melekat bagi orang Papua. Ini bisa dijumpai hampir di semua daerah di wilayah Papua.
Bagi perempuan dari suku di wilayah pegunungan-tengah Papua, rambut tambahan telah menjadi kebutuhan harian. Perempuan dari kesukuan ini biasanya memiliki karakteristik rambut keriting yang cenderung pendek.
Ketika mereka menetap di wilayah perkotaan, seperti Jayapura, rambut tambahan menjadi aksesori harian. Kaum perempuan tidak perlu lagi repot untuk menata rambut.
”Kalau mau ke kantor, tinggal dirapikan sedikit saja sudah bisa. Selain itu, ini juga bisa bikin rambut alami terus bertambah panjang karena terus ditarik oleh rambut palsu yang dipasang,” katanya.
Emi juga berharap, ke depan, ada perhatian lebih kepada pengusaha salon Papua ini. Kebiasaan ini tidak hanya menarik bagi orang Papua, tetapi juga menjadi daya tarik bagi orang luar, baik warga pendatang atau pelancong yang berkunjung ke Papua.
Antropolog Universitas Cenderawasih, Hanro Lekitoo, juga melihat menganyam rambut ini sebagai fenomena urban yang menarik. Menurut Hanro, kebiasaan menganyam rambut di masyarakat Papua telah ada sejak dulu.
Bukti ini ia temukan dalam buku The Torches of Joy karya John Dekker dan Lois Neely. Buku yang menceritakan tentang kisah awal para penginjil di wilayah Papua ini turut mencatat fenomena kaum muda di wilayah pegunungan Papua yang melakukan kebiasaan menganyam rambut.
”Buku itu setidaknya menjadi bukti kebiasaan ini telah ada sekitar puluhan tahun lalu, sekitar tahun 1950-an atau 1960-an,” ujar Hanro.
Kebiasaan ini, lanjut Hanro, kemungkinan juga terjadi di berbagai wilayah Papua yang lain. Apalagi, dahulu masyarakat adat Papua tidak memiliki peralatan untuk merawat dan menata rambut.
Era berkembang, kebiasaan ini berubah menjadi mode, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. ”Apalagi, ditambah budaya Afrika dan reggae yang semakin intens disaksikan. Maka, tidak mengherankan anyaman rambut dengan rambut tambahan ini juga ikut menjadi fashion,” kata Hanro.
Dengan demikian, jika dikembangkan dengan tepat, hal ini bisa menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi berbasis kebiasaan dan tradisi lokal.



