Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (2/1) Dibuka Melemah jadi Rp16.699 per Dolar AS

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke level Rp16.699 pada perdagangan awal tahun, Jumat (2/1/2026). Rupiah hari ini melemah bersama sejumlah mata uang Asia lainnya.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,08% ke Rp16.699 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,16% ke level 98,16.

Sementara itu, mata uang Asia lainnya dibuka bervariasi. Yen Jepang menguat 0,07%, dolar Hong Kong melemah 0,08%, dolar Singapura menguat 0,06%, dan dolar Taiwan melemah 0,36%.

Lalu peso Filipina melemah 0,02%, ringgit Malaysia menguat 0,04%, dan baht Thailand menguat 0,13%.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.680-Rp16.710 per dolar AS hari ini, Jumat (2/1/2026). 

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH - TradingView
{ "width": "100%", "height": 460, "symbol": "FX_IDC:USDIDR", "interval": "D", "timezone": "Asia/Jakarta", "theme": "light", "style": "1", "locale": "id", "withdateranges": true, "allow_symbol_change": false, "hotlist": true, "calendar": false, "support_host": "https://www.tradingview.com", "container_id": "tradingview_1767321035808" }

Ibrahim sebelumnya menuturkan pasar terguncang oleh rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan Desember, yang mengungkapkan perbedaan pendapat yang mendalam di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga pada tahun 2026.

Baca Juga

  • IHSG Hari Ini (2/1) Mengawali 2026 Menguat 0,45%
  • Harga Emas Batangan 24 Karat di Butik LM Antam Hari Ini, 2 Januari 2026 Naik Tajam
  • Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat, 2 Januari 2026

Meskipun Fed menurunkan suku bunga seperempat poin persentase pada rapat tersebut, risalah tersebut menunjukkan beberapa pejabat semakin berhati-hati untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut, dengan alasan tekanan inflasi yang tinggi dan ketidakpastian mengenai prospek ekonomi. Kebijakan yang ketat dapat berisiko memperlambat pertumbuhan terlalu tajam jika dipertahankan terlalu lama.

Dari dalam negeri, menurutnya tantangan ekonomi ke depan masih cukup berat, mengingat perkembangan geopolitik global dan dinamika fragmentasi perdagangan internasional masih sulit diprediksi. Sementara itu, pemulihan ekonomi domestik Indonesia masih belum maksimal karena tekanan harga komoditas pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Selain itu, Indonesia juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor, mulai dari barang modal hingga bahan pangan, sehingga devisa negara justru kembali mengalir ke luar negeri. 

Menurut Ibrahim, berbagai faktor tersebut membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, sehingga mengurangi daya saing Indonesia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
3 Zodiak Akan Menemukan Cinta Sejati pada 2026, Leo Dapat Kesempatan Kedua
• 1 jam lalugenpi.co
thumb
Andi Arief: SBY akan Somasi Penyebar Fitnah Dalang Isu Ijazah Jokowi
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Siap turun di United Cup, Tsitsipas ungkap harapan terbesar untuk 2026
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Will Smith Digugat Kasus Dugaan Pelecehan Seksual oleh Pemain Biola Brian King Joseph
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
IHSG Awal 2026 Diprediksi Bullish, Cek Analisa Saham PTRO-HRUM
• 12 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.