Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia. Hutan hujan tropis yang luas, kawasan karst, sungai-sungai besar, hingga rawa gambut yang masih alami menjadikan wilayah ini kaya akan kehidupan. Namun, bukan hanya tumbuhan dan hewan yang melimpah di sini. Di balik lanskap hijau dan perairannya, Kalimantan Barat juga menyimpan potensi besar kehidupan mikroskopis yang belum banyak dijelajahi.
Hingga kini, banyak wilayah di Kalimantan Barat yang masih jarang disentuh penelitian. Kondisi ini justru menjadikannya “lahan emas” bagi para peneliti, terutama untuk mengkaji mikroorganisme ekstrem, termasuk arkea. Arkea adalah mikroorganisme berukuran sangat kecil dengan ukuran sekitar 0,5 hingga 5 mikrometer, sehingga hanya bisa diamati dengan bantuan mikroskop. Meski tak kasat mata, perannya sangat besar, mulai dari menjaga keseimbangan lingkungan hingga berpotensi dimanfaatkan dalam bioteknologi.
Ironisnya, meskipun Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas, penelitian mikroorganisme ekstrem masih jauh tertinggal dibandingkan riset flora dan fauna. Di Kalimantan, sebagian besar studi mikrobiologi masih berfokus pada bakteri tanah atau mikroba yang hidup bersama tumbuhan. Penelitian khusus tentang arkea, terutama yang menggunakan pendekatan DNA dan metagenomik, masih sangat terbatas. Akibatnya, informasi tentang sebaran, fungsi, dan potensi arkea di kawasan konservasi Kalimantan Barat masih menjadi celah besar dalam ilmu pengetahuan.
Meneliti mikroorganisme tentu bukan perkara mudah. Berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang bisa langsung diamati, mikroorganisme memerlukan teknologi khusus untuk diketahui keberadaannya. Dengan pendekatan modern berbasis analisis DNA, para ilmuwan memperkirakan ada miliaran hingga triliunan spesies mikroorganisme di bumi. Namun, hingga kini, baru sebagian kecil yang benar-benar berhasil diidentifikasi dan dikultur di laboratorium.
Arkea sendiri sering dijuluki sebagai “makhluk purba” karena dianggap mewakili bentuk kehidupan awal di bumi. Dulu, arkea diyakini hanya hidup di lingkungan ekstrem seperti danau air asin, mata air panas, atau lingkungan asam. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa arkea ternyata tersebar luas, termasuk di hutan hujan tropis yang kompleks seperti di Kalimantan Barat.
Wilayah seperti Taman Nasional Betung Kerihun, Danau Sentarum, dan daerah aliran Sungai Kapuas menyediakan beragam habitat unik, mulai dari air asam, rawa gambut, hingga sedimen sungai yang sangat ideal bagi arkea untuk hidup dan beradaptasi. Kombinasi kondisi lingkungan ini membuka peluang besar ditemukannya komunitas arkea yang belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang bisa bersifat endemik, mikroorganisme umumnya dianggap kosmopolitan atau dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Meski demikian, kondisi lingkungan tetap mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang hidup di suatu tempat. Artinya, meskipun arkea bisa ditemukan di banyak wilayah, pola keberadaannya di Kalimantan Barat bisa memiliki karakteristik unik.
Dengan ekosistem yang masih alami dan minim gangguan manusia, Kalimantan Barat menyimpan peluang besar untuk mengungkap kehidupan mikroorganisme purba yang masih bertahan hingga kini. Bahkan, kemungkinan ditemukannya spesies arkea baru di wilayah ini bukan sekadar wacana, melainkan peluang nyata yang menunggu untuk dijelajahi.





