TKA 2025: Mencetak Angka atau Memerdekakan Nalar yang Rapuh?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Tahun 2025 ditutup dengan sebuah keriuhan baru di meja-meja birokrasi pendidikan kita. Setelah beberapa tahun kita seolah "beristirahat" dari hantu Ujian Nasional (UN) yang menghantui mimpi buruk jutaan siswa, kini muncul sosok baru bernama Tes Kemampuan Akademik (TKA). Di Jawa Timur, Kepala Dinas Pendidikan, Aries Agung Paewai, sudah memasang alarm keras dalam refleksi akhir tahunnya: nilai TKA harus naik, anak-anak harus lebih tekun, dan guru harus lebih "kompatibel" agar skor akademik bisa meroket.

Namun, di balik obsesi pada kenaikan angka-angka statistik dan ambisi memoles citra prestasi, sebuah kritik menukik tajam datang dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Mereka menyebut hasil TKA yang jeblok di banyak daerah bukan sekadar masalah kurang belajar, melainkan cermin dari satu realitas yang pahit: rapuhnya keterampilan dasar siswa kita.

Sebagai pendidik yang hari-harinya bergelut dengan nalar mahasiswa, saya merasa perlu mengajak kita semua (baik pemerintah, orang tua, dan sesama guru) untuk berhenti sejenak dari kegaduhan skor ini. Mari kita menatap jauh ke dalam mata anak-anak kita. Apakah TKA ini adalah tangga emas menuju masa depan, ataukah sekadar tembok beton baru yang justru memenjarakan potensi unik mereka dalam kotak-kotak pilihan ganda?

Ilusi Angka di Tengah Kerapuhan Nalar

Ada kecenderungan yang mengkhawatirkan setiap kali sebuah tes baru diluncurkan dalam skala masif. Kita mendadak menjadi "pemuja angka". Kita sibuk mengevaluasi mengapa nilai anak-anak ini rendah, lalu solusinya selalu berputar pada lingkaran setan yang sama: menyuruh mereka belajar lebih keras, memberi mereka lebih banyak latihan soal (drilling), dan memajang perangkat digital tercanggih di kelas agar terlihat modern.

Padahal, P2G dengan sangat jernih mengingatkan bahwa yang darurat saat ini bukanlah kurangnya jam belajar, melainkan kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Masalah literasi dan numerasi kita sudah berada di level akut. Selama ini kita mungkin sibuk "mengajar" materi agar selesai sesuai kalender akademik, tapi kita tidak benar-benar mendidik anak-anak untuk memiliki nalar kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving).

Anak-anak kita mungkin mahir menghafal rumus atau menjawab soal bahasa yang polanya itu-itu saja, tapi mereka seringkali gagap ketika diminta membedah sebuah masalah nyata di lingkungannya. Inilah yang saya sebut sebagai sebuah "kerapuhan". Kita sedang membangun gedung pencakar langit pendidikan di atas fondasi nalar yang keropos. Dan TKA, sayangnya, dalam banyak praktik birokrasi, seringkali hanya dijadikan alat untuk mengukur seberapa rapi kita mengecat dinding gedung itu, bukan seberapa kuat fondasinya menahan beban zaman yang kian digerus oleh kehadiran Kecerdasan Artifisial.

Guru: Bukan "Kompatibilitas", tapi Kemanusiaan

Saya agak terusik dengan penggunaan istilah guru yang harus "kompatibel" dalam narasi evaluasi TKA di Jawa Timur. Seolah-olah guru adalah perangkat keras (hardware) yang tinggal di-upgrade perangkat lunaknya (software) agar cocok dengan sistem operasi TKA.

Guru bukanlah sebuah komponen mesin. Guru adalah manusia yang mentransfer semangat, bukan sekadar memindahkan data dari buku ke otak siswa. P2G benar ketika mendesak agar pelatihan guru harus bermakna, berkualitas, dan berkelanjutan. Jika pelatihan guru hanya dilakukan demi menaikkan nilai TKA semata, maka peran guru akan kembali hanya menjadi instruktur teknis tes saja, bukan menjadi sosok pendidik sejati.

Ki Hadjar Dewantara pernah berpesan bahwa pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak. Jika guru dipaksa hanya mengejar target skor akademik, maka tuntunan itu akan berubah menjadi paksaan. Kita butuh guru yang mampu menghadirkan metode pembelajaran yang memantik minat dan hasrat anak untuk belajar secara otentik, bukan guru yang setiap harinya gemetar dihantui target capaian nilai yang dipatok oleh Dinas Pendidikan.

Bahkan kehadiran Interactive Flat Panel dari Presiden di sekolah-sekolah (yang digadang-gadang sebagai penyelamat digital) akan menjadi sia-sia jika guru tetap menggunakannya sebagai "papan tulis mahal" hanya untuk menampilkan simulasi soal TKA yang membosankan. Teknologi tanpa pedagogi yang humanis hanyalah sampah digital di pojok kelas.

Beban Tes dan Hak untuk Bahagia

Satu hal yang paling menyesakkan adalah rencana mengintegrasikan TKA dengan berbagai jalur masuk perguruan tinggi, seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Di satu sisi, integrasi ini bertujuan baik: agar siswa tidak terlalu banyak mengikuti tes yang berbeda-beda. Namun, di sisi lain, ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa berat dan panjang.

Bayangkan anak-anak kita yang baru saja menginjak bangku kelas X SMA. Sejak hari pertama, mereka sudah dihantui oleh bayang-bayang TKA yang nilainya akan menentukan nasib mereka di universitas. Portofolio, nilai rapor, indeks sekolah, dan kini TKA; semuanya bertumpuk di pundak mereka yang masih belia. Kita sedang menciptakan generasi yang belajar karena takut akan masa depan, bukan karena cinta pada ilmu pengetahuan.

Romo Mangunwijaya selalu menekankan pendidikan yang eksploratif. Beliau ingin sekolah menjadi taman bermain yang memerdekakan pikiran, di mana anak-anak boleh salah, boleh mencoba, dan boleh menjadi diri sendiri. Namun, dengan struktur TKA yang ada sekarang, sekolah justru lebih mirip pabrik manufaktur yang sedang melakukan kontrol kualitas ketat terhadap produknya sebelum dipasarkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Jika siswa diperlakukan sebagai produk, di mana letak kemanusiaannya?

Romo Nicolaus Driyarkara pun pernah mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses "hominisasi" dan "humanisasi"; menjadikan manusia dan memanusiakan manusia. TKA seharusnya menjadi alat untuk membantu kita melihat bagian mana dari kemanusiaan anak-anak kita yang perlu dikuatkan secara akademik, bukan menjadi alat sortir yang memisahkan antara yang "berharga" dan "tidak berharga" hanya berdasarkan skor.

Membangun Harapan di Atas Refleksi Jujur

Apakah saya pesimis dengan TKA? Sama sekali tidak. Saya justru sangat optimis, selama kita berani melakukan refleksi yang jujur, brutal, dan menanggalkan jubah kemunafikan birokrasi.

TKA 2025 tidak harus menjadi monster baru yang menakutkan. Ia bisa menjadi cermin yang sangat berharga. Namun, jangan hanya gunakan cermin itu untuk melihat wajah murid yang pucat karena kelelahan belajar demi skor. Gunakan cermin itu untuk melihat wajah sistem pendidikan kita: Sudahkah kita memberikan pelatihan guru yang benar-benar berdampak pada nalar, bukan sekadar pemenuhan administrasi? Sudahkah kita menyederhanakan beban guru agar mereka punya waktu untuk berpikir jernih bersama muridnya?

Kita harus setuju dengan desakan P2G bahwa pelatihan literasi dan numerasi guru di tingkat pendidikan dasar adalah kunci utama yang selama ini terabaikan. Jangan hanya fokus memoles anak SMA yang akan ujian; benahi fondasi yang rapuh di Sekolah Dasar. Buatlah proses belajar yang bermakna, yang membangun nalar kritis, yang membuat anak-anak kita merasa bahwa belajar adalah sebuah petualangan akal budi yang indah, bukan beban yang menyiksa.

Masa depan pendidikan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi rata-rata nilai TKA tahun depan. Masa depan kita ditentukan oleh seberapa tangguh nalar anak-anak kita ketika menghadapi masalah nyata kehidupan; masalah yang tidak ada di dalam pilihan jawaban A, B, C, D, atau bahkan E.

Mari kita berikan mereka hak untuk belajar dengan merdeka dan bahagia. Mari kita jadikan TKA bukan sebagai berhala baru tujuan akhir, melainkan sebagai salah satu penanda jalan bahwa kita sedang bergerak menuju pendidikan yang benar-benar memerdekakan manusia. Karena pada akhirnya, pendidikan yang berhasil bukan menghasilkan pencetak angka tinggi, melainkan manusia-manusia yang utuh dan berdaya.

Salam Cerdas dan Humanis.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dana Desa Dipotong Hingga 85 Persen, AKD Trenggalek Minta Pemerintah Pusat Tidak Lumpuhkan Pembangunan Desa
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Terseok-seok di Awal MotoGP 2025, Pedro Acosta Ungkap Momen yang Menjadi Titik Baliknya di Musim Lalu
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Tolak Cape Verde yang Lolos Piala Dunia 2026, Danilson Soares Silva Pemain Keturunan yang Mengaku Siap Perkuat Timnas Indonesia
• 4 jam lalufajar.co.id
thumb
Pemkot Surabaya Bentuk Satgas Reformasi Agraria untuk Tangani Konflik Tanah
• 18 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Korban Ledakan Pesta Tahun Baru di Bar Swiss Bertambah, 40 Orang Tewas dan Ratusan Terluka
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.