Crans-Montana: Penyelidik Swiss pada Jumat, 2 Januari 2026 memulai proses berat untuk mengidentifikasi jenazah para korban kebakaran hebat yang melanda sebuah bar padat pengunjung saat perayaan Tahun Baru di resor ski Crans-Montana. Insiden tersebut menewaskan sekitar 47 orang.
Kondisi luka bakar yang sangat parah, yang mayoritas dialami pengunjung muda di bar Le Constellation, membuat otoritas Swiss memperkirakan proses identifikasi dapat berlangsung selama beberapa hari. Selain menewaskan puluhan orang, kebakaran itu juga melukai sedikitnya 115 orang, banyak di antaranya dalam kondisi serius.
Baca Juga :
Polisi Swiss: 40 Orang Tewas, 115 Terluka dalam Kebakaran BarMetode Identifikasi Korban “Tujuan pertama kami adalah memberikan identitas pada seluruh jenazah,” kata Wali Kota Crans-Montana, Nicolas Feraud, dalam konferensi pers, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat, 2 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa proses tersebut bisa memerlukan waktu beberapa hari.
Kepala pemerintahan Kanton Valais, Mathias Reynard, menjelaskan bahwa para ahli menggunakan sampel gigi dan DNA untuk memastikan identitas korban.
“Semua pekerjaan ini harus dilakukan karena informasi yang kami tangani sangat mengerikan dan sensitif. Tidak ada satu pun informasi yang bisa disampaikan kepada keluarga sebelum kami benar-benar yakin 100 persen,” ujarnya. Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki Hingga kini, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan. Namun, otoritas Swiss menyatakan bahwa insiden tersebut diduga merupakan kecelakaan dan bukan serangan.
Sejumlah kesaksian korban selamat serta rekaman yang beredar di media sosial mengindikasikan bahwa langit-langit ruang bawah tanah bar kemungkinan terbakar setelah lilin kembang api dinyalakan terlalu dekat dengan permukaan tersebut. Duka Mendalam Warga Crans-Montana Warga Crans-Montana, yang dikenal sebagai tujuan wisata ski dan golf kelas atas, mengaku terpukul oleh tragedi ini. Banyak di antara mereka mengenal para korban, dan sebagian mengatakan bahwa mereka beruntung tidak berada di lokasi kejadian malam itu.
Ratusan orang berkumpul dalam keheningan di sekitar lokasi kejadian pada Kamis malam untuk memberikan penghormatan kepada para korban.
“Orang berpikir tempat ini aman, tapi kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja. Mereka adalah orang-orang seperti kita,” ujar Piermarco Pani, 18 tahun, yang mengaku sangat mengenal bar tersebut.
Puluhan warga meletakkan bunga dan menyalakan lilin di altar darurat di ujung jalan menuju bar yang telah dipasangi garis polisi. Sebagian menangis, sementara yang lain saling berpelukan dalam diam.
Di balik pembatas polisi, beberapa jenazah korban masih berada di dalam bar, menurut keterangan kepolisian, yang menyatakan akan bekerja tanpa henti hingga seluruh korban berhasil diidentifikasi.
Kean Sarbach, 17 tahun, mengatakan bahwa ia berbicara dengan empat orang yang berhasil melarikan diri dari bar, beberapa di antaranya mengalami luka bakar, dan mereka menggambarkan api menyebar dengan sangat cepat.
Sementara itu, Elisa Sousa, 17 tahun, mengaku seharusnya berada di lokasi tersebut, namun memilih menghadiri acara keluarga.
“Dan sejujurnya, saya harus berterima kasih pada ibu saya seratus kali karena tidak mengizinkan saya pergi,” katanya saat menghadiri malam doa bersama. Ia menambahkan, “Karena Tuhan tahu di mana saya sekarang jika saya berada di sana.”
:quality(80):format(jpeg)/posts/2026-01/01/featured-19b6195b613647e53380d448de727a55_1767268975-b.jpg)

