GenPI.co - Pusat Koordinasi Sipil-Militer untuk Gaza (Civil-Military Coordination Center/CMCC) yang diluncurkan seusai gencatan senjata Israel-Hamas menghadapi kritik dari kalangan diplomat dan pekerja kemanusiaan.
Pusat yang bertujuan memantau pelaksanaan gencatan senjata dan memfasilitasi aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza itu dinilai belum mampu memenuhi janji awalnya.
CMCC merupakan inisiatif Amerika Serikat yang dimaksudkan untuk mempersiapkan tahap lanjutan dari rencana perdamaian Presiden Donald Trump bagi wilayah Palestina, setelah lebih dari dua tahun konflik yang menghancurkan Gaza.
Pada awal peluncurannya, pusat ini menarik minat luas dari berbagai pihak.
"Awalnya tidak ada yang tahu apa itu CMCC, tetapi semua orang ingin ikut serta," kata seorang diplomat Eropa yang tidak ingin disebutkan namanya, dilansir AFP, Kamis (1/1).
Namun, antusiasme tersebut kini mulai pudar.
"Sekarang semua orang agak kecewa karena tidak ada kemajuan, tetapi kami tidak punya pilihan," ujarnya.
CMCC berbasis di sebuah gudang besar di Kiryat Gat, Israel selatan, dipresentasikan sebagai ruang kolaborasi bagi organisasi non-pemerintah, badan-badan PBB, dan para diplomat untuk merancang solusi Gaza pascaperang.
Menurut juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Tim Hawkins, pusat ini memiliki dua fokus utama.
Pertama, memfasilitasi aliran bantuan kemanusiaan, logistik, dan keamanan ke Gaza.
Kedua, membantu memantau secara langsung pelaksanaan perjanjian gencatan senjata.
Namun, dua bulan setelah CMCC beroperasi, sejumlah pekerja kemanusiaan menilai kemampuan atau kemauan Amerika Serikat untuk menekan Israel masih sangat terbatas.
Hawkins mengakui ada gesekan dan tantangan dalam pelaksanaannya.
"Kami sedang membuat kemajuan, sambil sepenuhnya menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Hawkins.
Kritik lainnya tertuju pada munculnya gagasan kontroversial seperti pembentukan Komunitas Aman Alternatif (Alternative Safe Communities/ASC).
Konsep itu mengusulkan pengelompokan warga Gaza yang tidak berafiliasi dengan Hamas ke dalam komunitas baru di zona yang berada di bawah kendali militer Israel. (*)
Video populer saat ini:





