Malam Tahun Baru Jadi Malam Siaga Partai Komunis Tiongkok : Separuh Jalan Dipenuhi Polisi, Separuh Lagi Warga Sipil 

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

Rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) berada dalam kondisi tidak stabil dan sangat waspada. Meskipun banyak daerah telah membatalkan kegiatan perayaan Tahun Baru sebelumnya, warga tetap berbondong-bondong turun ke jalan untuk merayakan tahun baru. Di banyak kota, aparat kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar untuk menutup jalan dan mencegah warga berkumpul, sehingga pusat kota dipenuhi suasana mencekam.

EtIndonesia. Pada 31 Desember 2025 malam, beredar banyak foto di internet yang menunjukkan bahwa aparat keamanan dikerahkan di berbagai kota di Tiongkok demi memblokade alun-alun yang biasanya menjadi lokasi berkumpul warga saat pergantian tahun.

Di sekitar Menara Lonceng (Zhonglou) di Xi’an, Provinsi Shaanxi, jalan-jalan dipasangi barikade besi dalam jumlah besar. Lampu Menara Lonceng dipadamkan dan jalan ditutup, sementara polisi mengenakan jas hujan berjaga setiap beberapa langkah, membentuk lingkaran pengamanan. Karena sebelumnya sudah diumumkan pembatalan perayaan Tahun Baru, ditambah cuaca hujan bercampur salju malam itu, diduga hampir tidak ada warga yang berkumpul. Tempat yang biasanya ramai saat pergantian tahun ini tampak sepi dan tak bernyawa.

Di Qingdao, Provinsi Shandong, polisi juga membentuk lapisan demi lapisan barikade manusia untuk mencegah warga berkumpul di pusat kota. Di lokasi terlihat banyak polisi bersenjata khusus bahkan polisi bersenjata rakyat, menciptakan suasana yang menegangkan.

Di Xinjiekou Plaza, pusat kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, polisi sempat memasang dua lapis garis pengamanan untuk mencegah warga mendekati patung Sun Yat-sen di tengah alun-alun. Satu lapis dipasang di mulut jalan, satu lagi mengelilingi patung, sehingga warga terhalang di luar alun-alun. Patung Sun Yat-sen jelas memiliki makna politik, dan langkah ini dinilai mencerminkan ketegangan yang tinggi di pihak otoritas setempat.

Area di sekitar Menara Lonceng di Xi’an berada di bawah pengamanan ketat. (Gambar dari internet)

Informasi lanjutan menunjukkan bahwa polisi diduga tidak mampu menahan arus warga, sehingga jalan akhirnya dibuka dan banyak warga berbondong-bondong menuju pusat alun-alun. Namun, barikade berbentuk persegi di sekitar patung Sun Yat-sen tetap tidak dibuka, dan polisi masih berjaga ketat di sekitarnya.

Jalan-jalan di pusat kota Qingdao telah ditutup, dengan sejumlah besar polisi khusus dan polisi bersenjata dikerahkan. (Gambar dari internet)

Di kawasan Hubin, Hangzhou, suasana malam Tahun Baru dipenuhi barisan polisi di mana-mana, hingga muncul pemandangan aneh: “setengah pengunjung, setengah polisi”. Banyak ruas jalan di sekitar lokasi ditutup, sejumlah pos pemeriksaan dipenuhi polisi dan barikade besi. Stasiun MRT Longxiangqiao juga ditutup. Polisi secara paksa mencegat dan menghalangi warga untuk melintas.

Polisi Nanjing memasang dua barisan pertahanan untuk mencegah orang mendekati patung Sun Yat-sen. (Gambar dari internet)

Meski demikian, masih banyak warga yang memutar lewat jalur lain dan tetap berkumpul untuk merayakan. Akibatnya, otoritas mengerahkan lebih banyak personel keamanan untuk “menjaga stabilitas”. Di jalan-jalan, terlihat polisi dan petugas keamanan berbaris dan berpatroli di mana-mana.

Warganet pun menyindir: ini sebenarnya perayaan Tahun Baru atau “parade militer”?

Namun, di beberapa kota di daratan Tiongkok, suasana lautan manusia saat malam Tahun Baru tetap muncul kembali, termasuk di sejumlah kota yang sebelumnya telah mengumumkan pembatalan kegiatan pergantian tahun.

Beberapa hari sebelumnya, otoritas di Xi’an, Tianjin, Shanghai, dan kota-kota lain telah mengumumkan pembatalan pertunjukan lampu, acara hitung mundur, dan pertunjukan kembang api pada malam Tahun Baru, serta menerapkan pengaturan lalu lintas. Sejumlah acara yang semula dijadwalkan juga dihentikan secara mendadak.

Alasan resmi yang diberikan PKT adalah “pencegahan risiko”. Namun, di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatnya tingkat pengangguran, opini publik secara luas menilai bahwa kekhawatiran sesungguhnya pihak berwenang adalah potensi berkumpulnya massa dalam jumlah besar yang dapat memicu emosi sosial dan berujung pada situasi yang tak terkendali. (Hui)

Chen Zhenjin


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wanda Hamidah: Kalau Palestina Bisa Bertahan dan Melawan, Sumatra juga Bisa
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Mengapa Anak SD Semakin Takut Salah?
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Setengah Juta Orang Padati Jembatan Galata Istanbul Demonstrasi Dukung Palestina
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kalimantan Utara Catat Lonjakan Tertinggi Indeks Kerukunan Umat Beragama, Moderasi Jadi Fondasi Utama
• 22 jam lalupantau.com
thumb
IHSG Awal 2026 Diprediksi Bullish, Cek Analisa Saham PTRO-HRUM
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.