EtIndonesia. Hidup bukanlah tentang menyerah, melainkan tentang berjuang. Takdir bukan untuk ditunggu, melainkan diupayakan. Hidup tidak boleh dijalani dengan pasrah dan hampa, tetapi harus dihidupi dengan warna dan makna.
Dalam hidup, tak ada penderitaan yang abadi, dan tak ada kebahagiaan yang kekal. Pahit dan manis berjalan berdampingan, berkah dan malapetaka sering datang beriringan. Segalanya bergantung pada manusia itu sendiri. Selama mau berusaha dengan sungguh-sungguh, yang buruk pun bisa diubah menjadi baik.
Hidup ibarat aliran sungai—kadang tenang dan lurus, kadang berliku dan bergejolak. Ada pasang surut, ada deras dan landai. Kita perlu belajar memandang dengan lapang, tetapi juga berani menatap tantangan secara langsung.
Namun belakangan ini, mungkin karena beberapa kali terbentur kenyataan, semangat itu terasa melemah. Hidup seakan menekan dengan intensitas tinggi, menguji kecerdasan dan ketahanan batin. Rasanya sesak, terhimpit, hampir tak sanggup bernapas. Semangat runtuh oleh kegagalan.
Menghadapi hari ini, hati terasa bingung. Menatap esok hari, ada rasa ragu. Memandang masa depan, muncul ketakutan.
Lalu kita mulai bertanya-tanya: Mengapa hidup begitu sulit diprediksi? Mengapa perjalanan ini penuh tikungan dan jurang? Mengapa naik-turunnya hidup terasa begitu tak terkendali?
Ketika menengok masa lalu yang penuh asam, manis, pahit, dan getir, perasaan pun bercampur aduk. Ada keinginan untuk mencari tempat sunyi, jauh dari hiruk-pikuk, bersembunyi sejenak dari dunia. Ingin berhenti berpikir. Ingin berhenti peduli. Ingin berhenti berbuat apa-apa.
Namun semua itu hanyalah angan-angan yang tak realistis—bahkan bentuk pelarian yang lemah dari kenyataan. Itu adalah sikap tanpa ambisi, mudah mengeluh: pekerjaan terasa berat, hidup terasa pahit, keberhasilan terasa mustahil, hidup terasa terlalu sulit. Usia masih muda, tetapi mental sudah menua. Tubuh lelah, hati renta, tekad rapuh, semangat melemah. Di usia muda sudah muram, enggan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menaklukkan kesulitan.
Memang, usia muda tak bisa ditahan selamanya. Namun jiwa yang muda bisa dijaga seumur hidup.
Dalam bersikap dan bertindak, kita boleh tenang dan matang, tetapi hati tak boleh membeku oleh rasa letih dan pesimisme. Jika jiwa dipenuhi suasana senja, maka kegagalan hanyalah soal waktu.
Dan hidup tanpa pencapaian—bukanlah hidup yang kita inginkan.
Semangat besar adalah sumber energi untuk mengejar mimpi. Jika energi itu habis, langkah akan terhenti di tengah jalan. Sikap mental yang baik ibarat mata air jernih di kedalaman jiwa—mengalirkan bukan hanya gairah, tetapi juga keteguhan, keberanian, daya juang, dan vitalitas hidup.
Daripada menghindar di tengah badai, lebih baik menari di tengah petir.
Ketika hidup menghadirkan rintangan, jangan patah semangat. Jangan tenggelam dalam keluhan dan ratapan. Tak perlu membenci dunia atau iri pada keadaan. Yang perlu dijaga adalah mental muda yang positif, semangat hidup yang menyala. Hadapilah gunung dengan tekad untuk membuka jalan, hadapi sungai dengan keberanian membangun jembatan.
Bersihkan hati dari niat sempit dan pikiran suram. Jadikan kerja keras dan perjuangan nyata sebagai karakter dan jati diri. Bukalah jalan di tengah kesulitan, carilah cara untuk bangkit, teruslah melangkah. Meski tubuh basah diguyur hujan badai, nikmatilah getirnya perjuangan, karena hanya jiwa yang kuat yang mampu mengusir monster ketakutan dalam diri.
Penderitaan adalah alas menuju keberhasilan. Kesusahan adalah pintu awal kebahagiaan.
Melangkahlah dengan tenang, tetapkan arah hidup, biarkan hidup memiliki tujuan, biarkan kebahagiaan memiliki sandaran, dan biarkan jiwa memiliki tempat berlabuh.
Selama hidup masih bernapas, perjuangan tak boleh berhenti.(jhn/yn)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5403891/original/001872000_1762340486-20251105_162437.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460633/original/004515200_1767261079-IMG_0480.jpeg)
