Blora (ANTARA) - Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, semakin meluas karena saat ini muncul rekahan baru di wilayah terdampak yang berjarak 1 meteran dari rekahan lama yang sebelumnya terbentuk.
Kapolsek Banjarejo AKP Gembong di Blora, Jumat, mengatakan pergerakan tanah tersebut menyebabkan penurunan permukaan tanah di sejumlah titik dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter.
"Bahkan di beberapa lokasi, penurunan terjadi di area yang sebelumnya tidak terdampak. Bahkan kini meluas hingga ke permukiman warga," ujarnya.
Sedikitnya tiga rumah dan kandang ternak dilaporkan terdampak, dengan dua rumah mengalami kerusakan paling parah. Pada salah satu rumah, tembok dilaporkan mengalami penurunan hingga sekitar 50 sentimeter.
"Panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 meter. Namun, pergerakan tanah tidak lagi memanjang, melainkan meluas ke sisi-sisi lain, termasuk ke arah permukiman warga," ujarnya.
Peniwati, salah satu warga terdampak mengatakan selama satu bulan terakhir dirinya harus menguruk bagian belakang dapur rumahnya menggunakan satu unit mobil colt dan satu truk material. Lokasi yang diuruk memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.
Sementara itu, Nur Hidayah menyebut tanah di sekitar rumahnya juga mengalami amblas dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter.
Demikian pula Sahid, warga lainnya juga mengakui ikut terdampak pada lahan miliknya dengan panjang 12 meter dan lebar sekitar 9 meter.
Warga sekitar menyebutkan peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1998, saat tanah ambles hingga kedalaman sekitar 2 meter. Kondisi tanah tidak bergerak ke arah sungai, melainkan ambles secara vertikal ke bawah. Lantai rumah warga juga dilaporkan mengalami retak-retak.
Menurut dia penurunan tanah terjadi hampir setiap hari dengan kisaran 2-3 sentimeter (Cm). Saat hujan deras, penurunan tanah dapat mencapai sekitar 5 cm.
"Semoga, pemerintah desa bersama instansi terkait segera melakukan peninjauan lapangan serta kajian teknis untuk memastikan penyebab pergerakan tanah dan menentukan langkah penanganan yang tepat," ujar Sahid.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah menindaklanjuti keluhan warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, terkait pergerakan tanah yang diduga dipicu gerusan aliran Sungai Lusi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora Surat mengatakan inspeksi lapangan direncanakan akan dilakukan pekan depan bersama BBWS Pemali Juana.
“Minggu depan rencananya akan dilakukan inspeksi dari BBWS Pemali Juana. Sedangkan pihak desa belum menyampaikan laporan resmi terkait kejadian tersebut kepada Dinas PUPR Kabupaten Blora," ujarnya.
Baca juga: BPBD: Waspada bencana tanah bergerak di Ciamis saat tengah musim hujan
Baca juga: BPBD Banyumas ungsikan warga terdampak pergerakan tanah di Ketanda
Baca juga: BPBD Ciamis sebut 47 jiwa mengungsi dampak tanah bergerak
Kapolsek Banjarejo AKP Gembong di Blora, Jumat, mengatakan pergerakan tanah tersebut menyebabkan penurunan permukaan tanah di sejumlah titik dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter.
"Bahkan di beberapa lokasi, penurunan terjadi di area yang sebelumnya tidak terdampak. Bahkan kini meluas hingga ke permukiman warga," ujarnya.
Sedikitnya tiga rumah dan kandang ternak dilaporkan terdampak, dengan dua rumah mengalami kerusakan paling parah. Pada salah satu rumah, tembok dilaporkan mengalami penurunan hingga sekitar 50 sentimeter.
"Panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 meter. Namun, pergerakan tanah tidak lagi memanjang, melainkan meluas ke sisi-sisi lain, termasuk ke arah permukiman warga," ujarnya.
Peniwati, salah satu warga terdampak mengatakan selama satu bulan terakhir dirinya harus menguruk bagian belakang dapur rumahnya menggunakan satu unit mobil colt dan satu truk material. Lokasi yang diuruk memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.
Sementara itu, Nur Hidayah menyebut tanah di sekitar rumahnya juga mengalami amblas dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter.
Demikian pula Sahid, warga lainnya juga mengakui ikut terdampak pada lahan miliknya dengan panjang 12 meter dan lebar sekitar 9 meter.
Warga sekitar menyebutkan peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1998, saat tanah ambles hingga kedalaman sekitar 2 meter. Kondisi tanah tidak bergerak ke arah sungai, melainkan ambles secara vertikal ke bawah. Lantai rumah warga juga dilaporkan mengalami retak-retak.
Menurut dia penurunan tanah terjadi hampir setiap hari dengan kisaran 2-3 sentimeter (Cm). Saat hujan deras, penurunan tanah dapat mencapai sekitar 5 cm.
"Semoga, pemerintah desa bersama instansi terkait segera melakukan peninjauan lapangan serta kajian teknis untuk memastikan penyebab pergerakan tanah dan menentukan langkah penanganan yang tepat," ujar Sahid.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah menindaklanjuti keluhan warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, terkait pergerakan tanah yang diduga dipicu gerusan aliran Sungai Lusi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora Surat mengatakan inspeksi lapangan direncanakan akan dilakukan pekan depan bersama BBWS Pemali Juana.
“Minggu depan rencananya akan dilakukan inspeksi dari BBWS Pemali Juana. Sedangkan pihak desa belum menyampaikan laporan resmi terkait kejadian tersebut kepada Dinas PUPR Kabupaten Blora," ujarnya.
Baca juga: BPBD: Waspada bencana tanah bergerak di Ciamis saat tengah musim hujan
Baca juga: BPBD Banyumas ungsikan warga terdampak pergerakan tanah di Ketanda
Baca juga: BPBD Ciamis sebut 47 jiwa mengungsi dampak tanah bergerak




