Bisnis.com, TAPANULI TENGAH - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) membangun hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Jumat (2/1/2026)
Sebanyak 55 rumah sementara berbentuk tenda glamping dibangun bagi 300 jiwa pengungsi yang rumahnya hilang diterjang banjir. Selain tenda, BPH Migas juga memberikan bantuan dua unit MCK untuk keperluan mandi warga.
Untuk keperluan air bersih, disediakan pula penjernih air untuk warga sehingga tidak hanya bisa digunakan untuk mencuci, tetapi juga bisa langsung minum.
Selain itu untuk mengobati trauma anak-anak di lokasi bencana, BPH Migas juga membagikan ratusan mainan untuk anak-anak korban banjir di Tapanuli Tengah.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, pembangunan huntara ini diharapkan bisa dimanfaatkan warga, sebab masih banyak warga yang tidak mendapatkan tempat mengungsi.
"Jadi tenda ini dilengkapi, di dalamnya cukup bagus karena ada sekat. Kalau sekat pertama menjadi ruang tamu, sekat kedua hunian untuk tidur. Jadi tenda ini lebih baik dan kemudian sirkulasi udaranya cukup bagus," ujar Wahyudi kepada Bisnis.
Baca Juga
- Adhi Karya Rampungkan Huntara Tahap 1 di Aceh Tamiang
- Danantara Laporkan Progres Huntara, 600 Unit Diserahkan ke Aceh Tamiang 8 Januari
- Danantara Bangun Mau 15.000 Huntara Pascabencana Sumatra, Rampung 3 Bulan
Nantinya, kata Wahyudi, akan dibangun juga dapur umum untuk kebutuhan makanan pengungsi.
Warga Minta Tambahan Alat Berat
Dari pantauan Bisnis di lapangan Kecamatan Tukka, Tapteng, ratusan rumah masih terendam lumpur tebal setinggi 80-100 meter sehingga belum bisa dihuni kembali.
Sementara itu, aliran listrik sudah kembali normal dan menyala 100% di lokasi tersebut.
Salah satu warga, Angenanozai (42) mengaku pihaknya berharap pemerintah bisa menambah alat berat di lokasi tersebut. Pasalnya, lumpur di Tukka cukup tebal, kondisi ini diperparah dengan banyaknya sisa kayu yang terbawa air yang masih tersangkut di rumah warga.
"Alat berat dibutuhkan, supaya kami bisa kembali ke rumah, dan ekonomi jalan lagi. Sekarang kami tidak bisa apa-apa," ujar Angenanozai.


