Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan aparat keamanan kini membangun ratusan sumur bor sebagai solusi darurat untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan ada 12 dari 18 kabupaten/kota atau 65% wilayah di Aceh masih mengalami gangguan layanan air bersih akibat dampak bencana.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan gangguan air bersih terjadi di daerah tersebut dipicu oleh kerusakan jaringan pipa PDAM dan tercemarnya sumber air di sejumlah wilayah.
Abdul Muhari memproyeksikan pemulihan layanan air bersih di lokasi terdampak membutuhkan waktu lebih lama. “Saat ini penggantian pipa juga terus dilakukan, dan sementara ini sudah kami lakukan khusus untuk sumur bor,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring lewat Youtube BNPB Indonesia pada Jumat (2/1).
BNPB bersama TNI, Polri, dan Kementerian Pekerjaan Umum menggenjot pembangunan sumur bor di wilayah terdampak. Hingga saat ini, Kodam Iskandar Muda membangun 121 unit sumur bor, dengan rincian 69 titik telah selesai, 21 titik dalam pengerjaan, dan 31 titik dalam tahap persiapan serta pengecekan lokasi.
Sebaran sumur bor itu meliputi Aceh Tamiang sebanyak 80 titik, Aceh Utara 24 titik, Bireuen 6 titik, Bener Meriah 5 titik, Pidie Jaya 3 titik, dan Aceh Timur 3 titik. Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan jumlah pengeboran terbanyak karena tingkat kerusakan jaringan air bersih yang paling parah.
Selain itu, Polri juga telah membuat 146 titik sumur bor siap pakai. Langkah serupa juga dilakukan oleh Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) dengan membangun 6 sumur bor baru di Aceh Tamiang. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air juga melakukan pengeboran bertahap di 12 kecamatan di Aceh Tamiang. “Memang fokus dari pembuatan sumur bor ini paling banyak di Aceh Tamiang,” ujar Abdul Muhari.
Ia mengatakan pembangunan sumur bor juga akan berlangsung di wilayah lain seperti Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Aceh Timur. Pengadaan sumur bor itu nantinya akan menyesuaikan dengan permintaan serta kebutuhan warga terdampak.
Selain sumur bor, pemenuhan air bersih di lokasi terdampak bencana juga dilakukan melalui pengoperasian mobil penjernih air, hidran umum, serta distribusi air menggunakan mobil tangki selama masa tanggap darurat.


