MAKASSAR, FAJAR – PSM Makassar mulai realistis. Merebut juara Super League musim ini sangat berat.
Awalnya, Pelatih PSM Makassar Tomas Trucha sempat memberikan asa yang menjanjikan kepada para suporter pada awal kedatangannya. Harapan penggemar cukup besar.
Terlebih lagi, setelah dia mencatatkan debutnya dengan tidak terkalahkan, bahkan dalam tiga pertandingan secara berturut-turut. Akan tetapi, dua pertandingan terakhir seperti menegaskan, kualitas pelatih asal Ceko itu biasa-biasa saja.
Bahkan, pada awal kedatangannya dia menegaskan ingin membawa PSM ke tempat yang sesungguhnya, bersaing di papan atas klasemen. Belakangan, targetnya berubah.
Dia hanya menempatkan timnya di gerbong kedua, di belakang tim unggulan yang berpeluang merebut gelar juara musim ini. Dia bahkan secara terang menegaskan, PSM tidak masuk dalam kandidat juara musim ini.
Trucha lebih menjagokan Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija Jakarta menjadi kandidat kampiun. Ini seperti isyarat bahwa dia sudah lempar handuk sebelum kompetisi selesai.
“Saya pikir Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija, akan menjadi tim unggulan dalam memperebutkan gelar juara. PSM Makassar hanya berusaha sebaik mungkin, seperti gerbong kedua dalam kereta, di belakang mereka,” ujarnya, usai tumbang dari Persib Bandung beberapa waktu lalu.
Kemudian, juru taktik yang kerap disamakan dengan Jurgen Klopp itu menyampaikan, target besar PSM musim ini hanya finish di lima besar klasemen akhir. Ini makin menegaskan, tim di bawah kendalinya masih sulit bersaing dengan tim-tim yang ada di atasnya.
“Target saya di sini musim ini akan membawa tim ini setidaknya finish di lima besar. Kami selalu berupaya memberikan yang terbaik dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Para pemain juga sudah mulai memahami apa yang saya inginkan dan itu terlihat dari pertandingan ke pertandingan,” jelasnya.
Tak Elok
Sekjen Red Gank Sadakati Sukma menilai, hal-hal seperti ini seharusnya tidak boleh disampaikan seorang pelatih ke publik. Sebab, hal itu bisa mempengaruhi kepercayaan suporter juga menurunkan semangat bagi para pemainnya.
“Ini sebenarnya disayangkan juga. Seorang pelatih seharusnya tidak boleh menyampaikan hal seperti itu di hadapan publik. Apalagi, kedatangannya bilang mau angkat PSM ke persaingan papan atas. Nah, kalau lima besar, kan, sama saja kita pasrah di papan tengah,” ungkapnya.
Dia juga menilai, komentar ini bisa saja menurunkan semangat juang anak asuhnya. Sehingga, dia memiliki pekerjaan rumah yang lebih besar akibat komentarnya sendiri.
“Saya melihat justru bukan hanya menurunkan semangat anak asuhnya saja, tetapi pelatih ini sepertinya sudah pasrah dan tidak bisa bersaing lebih baik. Seharusnya, kan, dia membakar semangat, supaya bisa berusaha lebih keras untuk mencapai posisi yang lebih baik,” kata Sadakati.
Penasihat Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia (PNSSI) itu juga menilai, dengan perubahan target yang turun dari sebelumnya, pelatih dianggap sudah mengukur kemampuannya sendiri bahwa mereka tidak bisa bergabung dalam persaingan utama untuk berebut gelar juara atau papan atas.
“Artinya mungkin dia sudah mengukur kemampuannya, padahal paruh musim saja belum. PSM ini masih punya banyak pertandingan dan seharusnya target yang diberikan naik. Karena kesempatan bersaing di papan atas masih terbuka lebar,” jelasnya. (wid/zuk)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461141/original/009933500_1767341030-Korban_keracunan_di_Warakas.jpeg)