Tim UGM pasang penjernih air bertenaga surya di lokasi bencana Aceh

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Yogyakarta (ANTARA) - Tim relawan Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang sistem penjernih air bertenaga surya di sejumlah lokasi terdampak bencana di Aceh untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

"Sistem penjernih air yang dipasang memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 galon per hari (GPD) atau setara 1.900 sampai 3.800 liter per hari," kata Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM Adhy Kurniawan dalam keterangannya di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Adhy, air bersih dan listrik merupakan kebutuhan mendasar sehingga sistem panel surya tersebut meminimalisir ketergantungan pada listrik maupun bahan bakar minyak (BBM).

"Ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian," kata dia.

Program pemasangan sistem penjernih air tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat untuk tanggap darurat bencana yang dilaksanakan secara lintas disiplin.

Selain melibatkan dosen Sekolah Vokasi UGM, kegiatan itu juga menggandeng tim relawan dari Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL).

Saat ini, tim UGM telah melakukan pemasangan sistem penjernih air sederhana di satu titik, yakni RSUD Bener Meriah sebagai langkah awal penguatan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Berdasarkan hasil asesmen awal, alat penjernih air diprioritaskan untuk Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, serta Polindes di wilayah Simpur, Kabupaten Bener Meriah.

"Selanjutnya penempatan alat penjernih air bertenaga surya akan dipasang di titik prioritas lainnya," ujar Adhy.

Baca juga: TNI dan Unhan pasang alat penjernih air untuk korban bencana Sumut

Selain penguatan layanan air bersih, tim relawan juga mendampingi pelayanan kesehatan di sejumlah fasilitas kesehatan terdampak.

Di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, tim melakukan pengecekan terhadap fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin, termasuk memastikan ketersediaan air bersih.

Ketua Tim Cadangan Kesehatan-Emergency Medical Team Academic Health System (TCK-EMT AHS) UGM Muhammad Nurhadi Rahman menuturkan salah satu tantangan utama dalam penanganan bencana kali ini adalah akses yang terputus, meski fasilitas kesehatan masih tetap beroperasi dengan kondisi terbatas.

"Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan," ujarnya.

Nurhadi menambahkan koordinasi juga dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan gambaran kondisi infrastruktur air bersih.

"Kami mendapat informasi bahwa empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah rusak, sementara fasilitas perbaikannya belum sampai ke lokasi. Saat ini masyarakat hanya mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian," kata Nurhadi.

Baca juga: KLH kirimkan air bersih dan alat penjernih ke lokasi banjir di Aceh

Baca juga: TNI dan Unhan ciptakan alat penjernih air untuk dipakai saat bencana


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Somaliland Bantah Akan Tampung Warga Palestina Usai Diakui Israel
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
TOP 5: Sekeluarga Ditemukan Tewas hingga Isu Ijazah Jokowi Seret Nama SBY
• 5 jam laluidntimes.com
thumb
Gagal di Piala Afrika 2025, Timnas Gabon Dapat Hukuman dari Pemerintah
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Heboh, Hard Gumay Ramalkan Artis Meninggal dalam Penjara, Warganet Sebut Ammar Zoni – Jonathan Frizzy
• 19 jam lalufajar.co.id
thumb
Awal Tahun, Isyarat Kim Jong Un Diganti Putrinya Menguat
• 10 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.