Jakarta, IDN Times - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan umat beragama saat ini menghadapi tantangan Artificial Intelligence (AI) di era perubahan yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Menag minta jajaran Kementerian Agama (Kemenag) tidak sekadar menjadi penonton, tapi mampu memberi warna substansi AI.
“Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan,” kata Menag saat menjadi inspektur Upacara Peringatan HAB ke-80 di halaman kantor Kemenag, Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Upacara diikuti pejabat Eselon I dan II, serta ASN kantor pusat Kemenag. Ikut juga dalam upacara, pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag.
“Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” sambung Menag.



