Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat jumlah pengguna transportasi umum selama masa Angkutan Nataru 2025/2026 secara total meningkat. Namun, di tengah lonjakan penumpang kereta api, angkutan laut dan penyeberangan, moda pesawat—khususnya penerbangan domestik—justru mengalami kontraksi.
Melansir dari laman strategi.kemenhub.go.id, Minggu (4/1/2026), Angkutan Nataru 2025/2026 untuk Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP), melonjak signifikan pada periode 18 Desember 2025 (H-7) sampai dengan 3 Januari 2026 (H+9).
Pada periode sebelumnya, jumlah trip kapal rata-rata di bawah 1.000 per hari dan jumlah penumpang tak sampai 200.000 orang per hari. Pada Nataru kali ini, jumlah penumpang bahkan mencapai 240.577 orang dan menjadi puncak keberangkatan pada H+3 Natal.
Sementara itu, lonjakan tertinggi secara tahunan (year on year/YoY) terjadi pada H+6 dengan peningkatan mencapai 56,69% dengan jumlah penumpang mencapai 180.134 orang.
Sejalan dengan itu, angkutan laut juga mencatatkan rata-rata penumpang harian di atas 100.000 orang dengan puncak keberangkatan pada H+3 yang mencapai 150.009 orang atau melonjak 49,38% YoY.
Secara total pun, jumlah penumpang angkutan laut melonjak 43,04% YoY dari sebelumnya 1,5 juta orang menjadi 2,15 juta orang.
Baca Juga
- Kemenhub Siapkan 197 Trayek Kapal Perintis hingga Tol Laut pada 2026
- Kemenhub: Hampir 16 Juta Orang Pakai Transportasi Umum Selama Nataru, Naik 7% YoY
- Kemenhub: 12,38 Juta Orang Naik Pesawat hingga Kapal Sepanjang Libur Nataru
Kemenhub juga mencatat lonjakan sebesar 17,7% pada keberangkatan penumpang kereta antarkota menjadi 3,8 juta orang.
Berbeda dengan moda darat dan laut, kinerja angkutan udara menunjukkan dinamika yang berlawanan.
Pada periode yang sama, total pesawat yang berangkat tercatat sekitar 39.600 pesawat. Angka tersebut memang lebih banyak dari periode sebelumnya yang sebanyak 38.311 unit. Peningkatan terjadi baik pesawat untuk domestik dan internasional.
Meski ketersediaan meningkat, data keberangkatan penumpang secara kumulatif tercatat sebanyak 4,47 juta orang atau sedikit lebih rendah dari periode sebelumnya yang sebanyak 4,48 juta orang.
Utamanya, tertekan oleh penumpang domestik yang kontraksi -1,77% dari 3,5 juta penumpang menjadi 3,44 juta penumpang. Sementara penumpang internasional melonjak 5,2% menembus 1,03 juta orang.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyampaikan, memang terjadi perbedaan antara jumlah penerbangan dengan penumpang pada masa Nataru 2025/2026.
“Itu disebabkan apa? Kalau maskapai sepanjang ada penumpang dengan load factor yang menurut dia bisa dia terbangkan, maka dia terbang. Kalau kondisinya penumpang, domestik memang ada penurunan sedikit,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Meski penumpang domestik tak setinggi tahun lalu, penerbangan didorong oleh penumpang internasional yang selama masa Angkutan Nataru ini tumbuh sekitar 5%.
Sementara Pengamat Transportasi Ki Darmaningtyas menyebutkan, pergerakan masyarakat di masing-masing moda tersebut dipengaruhi faktor ekonomi. Terlebih, kondisi makro ekonomi Indonesia selama 2025 cukup lesu.
“Misalnya bagi ASN, biasanya mereka memiliki tambahan pendapatan dari perjalanan dinas, tetapi anggaran tersebut dipangkas sehingga mereka tidak punya tabungan,” tuturnya kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (4/1/2026).
Selain itu juga, faktor cuaca yang cukup ekstrem membuat masyarakat lebih memilih liburan dengan di dalam kota atau antarkota dengan jarak yang tidak terlalu jauh.





