FAJAR, BANDUNG — Federico Barba datang ke Bandung tanpa gegap gempita. Ketika Persib Bandung mengumumkan kedatangannya pada awal musim Super League 2025/2026, respons publik cenderung datar, bahkan skeptis. Bek asal Italia itu dianggap “pemain Eropa yang lewat”, sekadar mengisi kuota asing di lini belakang. Namun waktu bergerak cepat di sepak bola. Dalam hitungan bulan, Barba menjelma menjadi salah satu figur paling berpengaruh di tubuh Maung Bandung—dan kini, namanya kembali bergaung hingga bursa transfer Eropa.
Bek berusia 32 tahun itu tengah menjadi komoditas panas pada jendela transfer Januari. Klub-klub Eropa mulai meliriknya, seolah mengonfirmasi bahwa performa Barba di Liga Indonesia bukan sekadar kebetulan. Setelah klub Italia Pescara dikabarkan mengajukan tawaran resmi, kini muncul nama Aris Thessaloniki FC dari Yunani sebagai peminat serius. Klub bersejarah yang berkompetisi di Liga Super Yunani itu disebut-sebut telah mencapai kesepakatan personal dengan sang pemain.
Isu tersebut pertama kali mencuat dari akun media Yunani, sportimegreece, yang menyebut secara gamblang bahwa Federico Barba akan segera berseragam Aris FC. “Sudah sepakat. Bek Italia Federico Barba adalah pemain Aris FC,” tulis akun tersebut. Klaim ini tentu mengejutkan, mengingat beberapa jam sebelumnya publik justru disuguhi kabar sebaliknya: Persib Bandung dikabarkan menolak tawaran pertama dari Pescara.
Informasi penolakan itu datang dari jurnalis Italia ternama, Nicolo Schira. Melalui akun media sosial X miliknya pada Sabtu malam, 3 Januari, Schira menyebut Persib tidak melepas Barba begitu saja. Ia juga mengungkap bahwa sang pemain sebenarnya telah menyatakan kesediaannya untuk kembali berkarier di Italia. Namun, belum ada detail terkait nilai tawaran maupun skema transfer yang diajukan Pescara—apakah peminjaman atau transfer permanen.
Situasi ini menempatkan Persib dalam posisi dilematis. Di satu sisi, Barba adalah pilar penting pertahanan. Di sisi lain, minat klub-klub Eropa membuka peluang finansial dan strategis yang tak bisa diabaikan. Apalagi, selain Pescara dan Aris Thessaloniki, rumor lain menyebut Palermo juga ikut memantau situasi sang bek. Meski demikian, hingga kini semuanya masih berada di wilayah spekulasi.
Federico Barba sendiri didatangkan Persib dengan status bebas transfer. Ia bergabung setelah kontraknya bersama FC Sion, klub Swiss, berakhir pada Juli 2025. Sebelumnya, Barba memiliki rekam jejak panjang di sepak bola Italia, termasuk memperkuat Como 1907 dan beberapa klub Serie A serta Serie B. Pengalaman itulah yang menjadi modal utamanya ketika menjejakkan kaki di sepak bola Asia Tenggara.
Awal kedatangannya tak sepenuhnya mulus. Adaptasi terhadap iklim, tempo permainan, dan karakter Liga Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Namun perlahan, Barba menjawab keraguan dengan konsistensi. Ia tampil lugas, tenang, dan efektif—karakter bek Eropa yang jarang terlihat di kompetisi domestik. Dalam 11 pertandingan yang telah ia mainkan bersama Persib, Barba bukan hanya solid di belakang, tetapi juga produktif. Tiga gol yang ia cetak menjadi bukti kontribusinya tak terbatas pada bertahan semata.
Lebih dari itu, Barba menunjukkan kualitas kepemimpinan. Pelatih Persib, Bojan Hodak, beberapa kali mempercayakan ban kapten kepadanya. Sebuah keputusan yang mencerminkan betapa penting peran Barba di ruang ganti maupun di lapangan. Ia menjadi penghubung antara lini belakang dan tengah, sekaligus figur yang memberi rasa aman bagi rekan-rekannya.
Kepercayaan itu berbalas cinta dari Bobotoh. Dalam waktu singkat, Barba menjadi idola baru. Bukan karena selebrasi berlebihan atau kata-kata manis di media sosial, melainkan lewat performa yang konsisten dan sikap profesional. Ia bermain seolah Persib adalah rumahnya sendiri, bukan sekadar persinggahan karier.
Kini, ketika pintu Eropa kembali terbuka, masa depan Barba menjadi tanda tanya besar. Apakah Persib akan mempertahankannya hingga akhir musim demi ambisi juara? Ataukah manajemen memilih realistis dengan melepas sang bek jika tawaran yang datang dirasa sepadan? Di balik rumor dan cuitan media sosial, keputusan itu akan sangat menentukan arah Persib di paruh musim.
Yang jelas, kisah Federico Barba di Bandung telah melampaui ekspektasi awal. Dari pemain yang sempat diragukan, ia berubah menjadi aset berharga yang diperebutkan lintas negara. Jika ia benar-benar kembali ke Eropa, Barba akan pergi bukan sebagai pemain asing biasa, melainkan sebagai sosok yang meninggalkan jejak kuat di Persib Bandung—dan di hati Bobotoh.





