Jakarta: Influenza A (H3N2) subclade K atau yang disebut super flu tetap harus dihindari terutama pada kelompok tertentu yang bisa memperaparah kondisi tubuh, meski penyakit ini tidak separah virus covid-19. Super flu dinilai akan sangat terlihat dan mengganggu pada kelompok berisiko tinggi, seperti lansia di atas 65-80 tahun, orang dengan komorbid, diabetes, hipertensi, jantung, orang dengan gangguan imunitas, dan anak di bawah 2 tahun.
"Itu bisa parah, angka kematiannya bisa jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lain atau kelompok lainnya," kata Epidemiolog, dr. Dicky Budiman, saat dihubungi, Minggu, 4 Januari 2026.
Baca Juga: Kemenkes Catat 10 Kasus Super Flu di Jawa Barat, Ini Gejalanya
Pada kelompok rentan, kata dia, super flu akan menimbulkan batuk yang lebih lama, lebih banyak dahak, dan menelan akan terasa lebih nyeri. Kemudian, perawatannya bagi orang yang berisiko tinggi terkena super flu bisa lebih lama, yakni 7-14 hari. Sehingga, bisa disebut sebagai super flu.
"Pada kelompok-kelompok rentan maksudnya lansia, komorbid, ibu hamil atau anak, dan bayi itu lebih banyak. menyebabkan harus dirawat di rumah sakit lebih lama," ujar peneliti Global Health Security itu. Kurangnya Edukasi
Dicky juga menyoroti masih kurangnya edukasi mengenai peran imunisasi influenza di masyarakat. Sehingga, super flu bisa cepat terpapar atau tersirkulasi di masyarakat.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian.



