Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi geopolitik yang dipicu penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat (AS) memunculkan risiko baru bagi pasar keuangan global. Lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury menjadi sinyal bahaya bagi pasar obligasi domestik.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai pasar merespons insiden tersebut sebagai peningkatan ketidakpastian global, alih-alih sekadar gangguan energi. Alasannya, terjadi arus modal yang deras mengalir ke aset safe haven seperti emas yang kini bertengger di level harga sangat tinggi.
"Penangkapan yang disusul embargo ini lebih dibaca pasar sebagai eskalasi politik yang menambah ketidakpastian. Dampaknya ke ekonomi global biasanya lewat jalur sentimen dan biaya dana; pelaku usaha menunda investasi dan biaya pinjaman global naik," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (4/1/2026).
Menurut Josua, kecemasan pasar tercermin jelas pada pergerakan surat utang pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun terpantau meroket hingga sempat menyentuh level 4,19%.
Dia menjelaskan bahwa lonjakan ini terjadi karena investor menuntut kompensasi risiko yang lebih besar di tengah arah kebijakan The Fed yang dinilai belum sepenuhnya jelas.
"Meskipun suku bunga kebijakan [Fed Funds Rate] sudah dipangkas ke kisaran 3,5% hingga 3,75%, notulensi rapat FOMC masih menunjukkan perbedaan kekhawatiran antara inflasi yang bertahan atau pelemahan pasar kerja. Wajar bila yield 10 tahun bergerak naik," jelasnya.
Baca Juga
- AS-Venezuela Memanas, Surplus Dagang RI 2026 Terancam Menyempit
- Pasca-penangkapan Maduro, PIEP Pastikan Operasional Pertamina di Venezuela Tak Terganggu
- Ekonom Beberkan Efek Konflik AS-Venezuela ke Rupiah dan Yield SBN
Bagi pasar keuangan Indonesia, lonjakan yield AS ini membawa efek domino yang serius. Josua mengingatkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi AS secara otomatis mempersempit selisih (spread) dengan Surat Berharga Negara (SBN).
Kondisi ini bisa memaksa pasar menuntut yield SBN yang lebih tinggi agar tetap kompetitif, yang berujung pada koreksi harga obligasi domestik.
"Investor asing biasanya menjadi lebih selektif atau mengurangi porsi bila tekanan nilai tukar membesar. Sementara investor domestik umumnya merespons dengan memendekkan tenor portofolio atau mengambil posisi wait and see," tutur Josua.
Lebih jauh, dia mewaspadai rambatan risiko ini ke sektor riil. Tekanan pada pasar obligasi berpotensi mengerek biaya pendanaan bagi pemerintah dan korporasi, serta membebani nilai tukar Rupiah.
Jika pelemahan kurs berlanjut dan memicu kenaikan harga barang impor maka daya beli masyarakat kelas menengah menjadi pertaruhannya.
"Tantangannya bagi kebijakan saat ini adalah menjaga stabilitas pasar keuangan sambil tetap memastikan belanja yang produktif, agar perlambatan ekonomi tidak semakin dalam," tutupnya.



