Tawuran bisa terjadi kapan saja di Terowongan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Tiba-tiba terdengar bunyi petasan hingga warga saling serang. Namun, alasannya serba tidak pasti.
Terowongan Manggarai kembali panas pada awal 2026 ini. Tawuran antarwarga pecah pada Kamis (1/1/2026) dan Jumat (2/1/2026).
Keributan warga Gang Tuyul RW 004 dan Magasen RW 012 itu bermula dari bunyi petasan. Mereka kemudian saling serang hingga arus lalu lintas tersendat dan orang-orang tak bisa beraktivitas.
Nandan (54) sedang berjualan ketika tawuran itu terjadi. Waktu itu, salah satu kelompok warga menembakkan petasan ke Terowongan Manggarai.
Bunyi ledakan dan bunga api dari petasan memancing kelompok warga lainnya. Jual beli tembakan petasan dan batu pun tak terhindarkan. ”Tahu-tahu pada nembak petasan. Pada bangun (kumpul) warga. Langsung balas serangan,” ujar Nandan ketika dijumpai pada Minggu (4/1/2026).
Suasana di Terowongan Manggarai ramai lancar pascatawuran beruntun. Polisi berjaga-jaga di pos pantau. Pos ini terletak di dua sisi terowongan. Di situ terparkir juga sepeda motor dan mobil patroli.
Warga tak lagi kaget dengan tawuran demi tawuran. Namun, tak jelas apa pemicunya.
Menurut Nandan, tawuran berulang itu terjadi karena moral yang rusak. Saling serang itu bukan kebiasaan. Masuknya narkoba, seperti asumsi banyak orang, atau keisengan semata, bisa jadi pemicunya.
”Kalau (menurut) ajaran agama, (orang yang tawuran) itu enggak punya akhlak. (Terowongan Manggarai) Ini jalan umum, orang lalu lalang, (kalau ada tawuran) yang rugi semua orang,” kata pedagang itu sambil geleng-geleng kepala.
Terowongan Manggarai merupakan salah satu akses dari dan ke pusat kota. Letaknya dekat obyek penting sekaligus pusat keramaian, seperti Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, dan Pasaraya Manggarai.
Kisah tawuran di lokasi ini seolah tak pernah usai. Pada awal Mei 2025, misalnya, warga saling serang hingga seorang juru parkir terluka bacok di bagian kepala. Pertikaian sempat surut sebelum terjadi lagi saat tidak ada petugas di pos pantau.
Setelah itu, pemerintah daerah menggelar acara ”Manggarai Bershalawat” pada Jumat (23/5/2025). Pemerintah Provinsi Jakarta coba memperbanyak silaturahmi antarwarga agar energi berlebih dari kalangan muda-mudi di kawasan Manggarai tersalur ke hal-hal positif.
Ketika itu Gubernur Jakarta Pramono Anung menyebut, salah satu solusi seri tawuran di Manggarai ialah pihak-pihak terkait harus dipertemukan, berdiskusi, dan diajak mencari solusi bersama. Salah satunya melalui shalawat.
Dari diskusi tersebut diketahui akar persoalan tawuran, antara lain, energi berlebih yang tidak tersalurkan dengan baik, kurangnya lapangan pekerjaan, dan pengaruh media sosial.
Pemprov Jakarta kemudian memberikan bantuan peralatan olahraga, hadroh, dan marawis hingga Kartu Jakarta Pintar Plus dan tebus ijazah. Ketika itu, Wali Kota Jakarta Selatan juga menyatakan sedang menyiapkan 4.000 lapangan pekerjaan, seperti untuk pasukan oranye (PPSU) yang syaratnya diturunkan jadi minimal lulusan sekolah dasar (SD).
Salah satu pemuda, yakni Eza, mengutarakan kebutuhan lapangan sepak bola kepada Pramono. Politisi PDI-P itu menyanggupi permintaan Eza. Lapangan akan dibangun sebagai ruang berkreasi warga.
”Di sini akan dibangun lapangan futsal sehingga pemuda bisa berkegiatan positif dan tidak lagi tawuran. Lapangan ini juga nantinya saya harapkan bisa dijadikan tempat bagi warga untuk saling bersilaturahmi,” kata Pramono kala itu.
Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim secara terpisah pada Minggu (4/1/2026) siang menuturkan, sejak November 2025 telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Jaga Jakarta. Satu dari sekian tugasnya ialah menangani kerawanan sosial, seperti tawuran, konflik antarwarga, dan kriminalitas.
Satgas dalam kerja-kerjanya menggunakan pendekatan humanis. Kerja-kerja itu dimulai dari informasi dini, koordinasi cepat, sampai tindakan terukur.
Menurut Chico, satgas menjadi garda depan dalam pemantauan dan pencegahan, termasuk program aduan #JagaJakarta yang bisa diakses warga untuk laporan potensi gesekan. Dari upaya-upaya tersebut Manggarai dan wilayah rawan lain ditargetkan bisa bebas tawuran pada 2026.
”Tidak ada solusi instan, tetapi dengan kolaborasi semua pihak insya Allah bisa kami capai bersama,” kata Chico.
Sudah banyak upaya dilakukan untuk mengatasi tawuran di Manggarai. Selain Manggarai Bershalawat, pada 30 Oktober 2019 di Pasaraya Manggarai, warga dari empat kelurahan di kawasan ini berikrar menciptakan kedamaian, menjaga kampung, dan menolak segala bentuk stigma negatif yang selama ini melekat, termasuk julukan sebagai kampung tawuran (Kompas, 30 Oktober 2019).
Warga dari Kelurahan Pegangsaan dan Kelurahan Menteng Atas, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, serta Kelurahan Manggarai dan Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, bertekad untuk bersama menjaga perdamaian, mengecam keras pelaku dan provokator, serta mendukung pencabutan hak mendapat fasilitas publik dari pemerintah jika masih ada warga yang terlibat tawuran.
Nyatanya, tawuran masih terjadi setelah itu. Bahkan, tawuran seolah tidak kenal waktu.
Anggota DPRD Jakarta, Mujiyono, menilai, tidak ada program yang mampu berdiri sendiri untuk menghentikan tawuran. Tawuran di Manggarai hanya puncak dari persoalan sosial dan ekonomi yang lebih mendasar.
”Minimnya lapangan kerja, tingginya angka putus sekolah, terbatasnya ruang ekspresi positif bagi remaja, hingga lemahnya pengawasan lingkungan (turut memicunya). Penanganan tawuran harus menyentuh akar masalah ini, bukan sekadar meredam gejalanya,” kata Mujiyono.
Keberadaan pos pantau, menurut dia, sudah tepat untuk mencegah eskalasi konflik. Apalagi tawuran berpotensi terjadi kapan saja di wilayah rawan, khususnya saat larut malam dan menjelang dini hari.
Pemprov Jakarta perlu memberikan dukungan yang memadai agar pos pantau berjalan optimal. Personel yang siaga penuh terbukti mempercepat respons sehingga bentrokan dapat dicegah sebelum meluas.
Mujiyono menyarankan agar program ”Manggarai Bersholawat” diintegrasikan dengan pendidikan karakter, pembinaan kepemudaan, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi warga. Bahkan, pelaku tawuran dapat diberi pembinaan disiplin untuk membentuk mental yang tangguh, terarah, dan bertanggung jawab.
”Bibit tawuran antarwarga sering kali berawal dari tawuran antarsekolah. Karena itu, pembinaan sejak dini menjadi kunci pencegahan. Anak-anak yang berisiko terlibat tawuran perlu diarahkan melalui program pembentukan disiplin, kepemimpinan, dan tanggung jawab,” kata Mujiyono.
Efektivitas program pencegahan tawuran juga mesti dievaluasi. Hasilnya, kata Mujiyono, jadi dasar penguatan kebijakan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5463492/original/002144900_1767618607-WhatsApp_Image_2026-01-05_at_18.04.12.jpeg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461719/original/099491300_1767433319-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48__1_.jpeg)
