tvOnenews.com - Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyampaikan situasi varian influenza A (H3N2) subclade K atau yang disebut super flu.
Di Indonesia, kasus ini sudah ditemukan, namun masih terpantau dalam kondsi yang stabil dan tidak menunjukan adanya peningkatan keparahan jika dibandingkan clade atau subclade lainnya.
Kendati demikian, penting juga untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya fenomena super flu.
Super flu disebut-sebut sudah masuk ke Indonesia, seiring meningkatnya laporan kasus influenza berat di sejumlah negara, terutama Amerika Serikat.
- Freepik
Secara medis, super flu masih termasuk dalam kelompok influenza A. Selama ini, flu musiman yang umum dikenal masyarakat biasanya disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1.
Sementara itu, super flu merujuk pada strain lain, yaitu H3N2. Sebenarnya, H3N2 bukanlah varian baru karena virus ini sudah lama dikenal dalam dunia medis.
"Tapi sebetulnya H3N2 ini juga adalah varian yang sudah lama. Tetapi memang yang terjadi atau ditemukan Subklit K ini adalah yang saat ini kita sebut sebagai super flu dan ini memang banyak ditemukan di musim dingin terutama dan sudah dilaporkan peningkatan yang cukup signifikan di Amerika Serikat ya," kata Prof. Elina.
Ia menambahkan bahwa kasus super flu ini banyak ditemukan pada pasien di Amerika Serikat.
Pasien tersebut mengalami flu dengan kondisi yang cukup parah hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit, bahkan dilaporkan adanya kasus kematian.
Data inilah yang kemudian memunculkan istilah “super flu” di tengah masyarakat.
Lantas, apa yang membedakan super flu dengan flu biasa?
- tim tvOne
Prof. Erlina menjelaskan, dari sisi gejala, sebenarnya super flu tidak jauh berbeda dibandingkan flu biasa.
Penderita tetap mengalami demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Namun, berdasarkan laporan subjektif pasien, gejala yang dirasakan cenderung lebih berat dari flu musiman pada umumnya.




