Trump Umumkan Pengambilalihan Venezuela dengan Batas Waktu yang Belum Ditentukan?

erabaru.net
2 hari lalu
Cover Berita

ETIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengambilalihan Venezuela dengan batas waktu yang belum ditentukan? Maduro ditangkap, rakyat Venezuela bersorak, warganet Tiongkok ramai menulis “terima keberuntungan”; daratan Tiongkok muncul “revolusi toilet”, menyerukan militer AS membebaskan rakyat Tiongkok; Trump “sekali panah dua sasaran”, poros kejahatan baru terguncang!

Konferensi pers di Mar-a-Lago mengungkap lebih banyak rincian operasi militer AS 

Rakyat Venezuela Bersorak, Warganet Tiongkok Menyerukan Militer AS

Li Yu: Pemirsa sekalian, Berikut kami lanjutkan pembaruan terkait penangkapan kilat Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS. Dalam program sebelumnya, kami telah membahas sebagian detail penangkapan Maduro. Bagi yang tertarik, silakan menontonnya kembali.

Zheng Zhi:
Tepat siang hari ini, Presiden Trump menggelar konferensi pers di Mar-a-Lago terkait peristiwa tersebut, secara resmi mengumumkan bahwa dalam operasi kilat militer AS, Maduro dan istrinya telah ditangkap.

Li Yu:
Wow, meskipun kabar ini sudah kita lihat sejak pagi, mendengar Trump sendiri mengkonfirmasikannya secara terbuka tetap memberikan kesan yang berbeda. Kekuatan dan daya gentar militer AS benar-benar terasa nyata.

Zheng Zhi:
Benar. Kita melihat dalam konferensi pers di Mar-a-Lago ini hadir pula Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Li Yu:
Sebelum konferensi pers dimulai, Trump lebih dulu mengunggah di Truth Social sebuah foto penangkapan Maduro di kapal serbu amfibi USS Iwo Jima. Setelah itu, dalam konferensi pers, Trump mengungkap lebih banyak detail operasi tersebut.

Zheng Zhi:
Pertama, operasi rahasia yang menargetkan Maduro ini secara internal dinamai Operation Absolute Resolve atau Operasi Tekad Mutlak. Operasi tersebut dilakukan oleh sebuah tim kecil yang terdiri dari agen Amerika dan pasukan khusus militer AS, yang bergerak cepat di tengah malam dan menangkap pasangan Maduro di dekat ibu kota Venezuela. Tidak ada korban jiwa dalam operasi ini, dan seluruh pesawat militer kembali ke Amerika dengan selamat.

Li Yu:
Detail yang diumumkan juga mencakup bahwa Presiden Trump mengeluarkan perintah akhir pada pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS untuk memulai operasi ini. Pada pukul 01.01 dini hari keesokan harinya, militer AS tiba di kediaman Maduro. Pada pukul 03.29 waktu Pantai Timur, pasangan Maduro dibawa naik pesawat dan kembali ke Amerika Serikat.

Zheng Zhi:
Trump mengatakan bahwa jika diperlukan, militer AS sebenarnya bisa saja langsung membunuh Maduro dalam operasi malam tersebut. Trump kembali menegaskan proses “menghancurkan kekuatan musuh dengan cepat”, seraya menunjukkan bahwa saat itu terdapat banyak kekuatan musuh di lokasi.

Li Yu:
Trump berkata, “Orang-orang ingin tahu apakah kami mengejutkan mereka? Dalam tingkat tertentu memang mendadak, tetapi mereka juga telah menunggu sesuatu terjadi. Saat itu ada banyak kekuatan musuh, dan terjadi baku tembak yang sengit.”

Zheng Zhi:
Selain itu, operasi malam tersebut hampir sepenuhnya dilakukan dalam kondisi gelap gulita. Trump mengungkapkan bahwa ini adalah “salah satu demonstrasi kekuatan dan kemampuan militer AS yang paling menakjubkan, paling efektif, dan paling mengguncang dalam sejarah Amerika”. Ia juga menyebut bahwa militer AS memadamkan sebagian besar lampu di ibu kota Caracas selama operasi berlangsung.

Li Yu:
Ini benar-benar seperti adegan film aksi Hollywood—pasukan khusus AS bergerak cepat dalam kegelapan dan menangkap target secara kilat. Jujur saja, ini lebih seru daripada semua film yang pernah saya tonton!

Zheng Zhi:
Betul. Trump juga menambahkan bahwa saat itu “seluruh kekuatan militer Venezuela sudah kehilangan kemampuan tempur”, dan bahwa tentara AS bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS untuk menangkapnya. Pada saat operasi berlangsung, “seluruh lokasi benar-benar gelap, hampir semua lampu di Caracas padam”.

Li Yu:
Lalu bagaimana Presiden bisa mengetahui detail operasi sedemikian rinci dan menggambarkannya dengan sangat hidup kepada publik? Jawabannya sederhana: saat militer AS menjalankan operasi tersebut, Trump sedang menonton siaran langsung.

Zheng Zhi:
Bahkan penangkapan kepala negara pun bisa disiarkan langsung—benar-benar pantas disebut Amerika. Setelah konferensi pers berakhir, Trump segera mengunggah serangkaian foto di Truth Social yang menunjukkan dirinya bersama Direktur CIA, Menlu Rubio, dan Menhan Hegseth sedang menyaksikan operasi terhadap Venezuela.

Li Yu:
Rangkaian foto ini tanpa diragukan lagi menjadi materi promosi terbaik bagi kekuatan nasional Amerika. Setelah operasi ini, popularitas Trump pasti akan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Zheng Zhi:
Kita bisa melihat bahwa semua yang hadir tampak serius dan rapi dengan setelan jas. Jika dibandingkan dengan Maduro yang ditangkap mengenakan setelan olahraga abu-abu merek Nike, kontrasnya sungguh kejam.

Li Yu:
Berbicara soal itu, saya melihat ada warganet yang menelusuri pakaian yang dikenakan Maduro saat ditangkap—ternyata itu adalah setelan olahraga abu-abu Nike senilai 100 euro. Ada yang bercanda bahwa salah satu “pemenang” dari penangkapan ini mungkin Nike, karena banyak orang akan mengikuti tren dan membeli “versi Maduro”.

Zheng Zhi:
Haha, itu memang lucu. Nah, setelah penangkapan Maduro, Venezuela kini memasuki masa tanpa pemerintahan yang jelas. Lalu ke mana arah masa depan negara itu?

Li Yu:
Pertama, Trump mengumumkan bahwa Wakil Presiden pemerintahan Maduro, Delcy Rodríguez, telah menyatakan diri menjabat sebagai presiden setelah penangkapan Maduro. Trump juga mengatakan bahwa presiden baru ini menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Zheng Zhi:
Namun, klaim Trump ini untuk sementara belum mendapat konfirmasi dari pihak Venezuela. Terlepas dari apakah presiden sementara ini akan bekerja sama dengan AS atau tidak, jelas Amerika ingin mengendalikan arah perkembangan situasi. Dalam konferensi pers hari ini, Trump mengumumkan sebuah kabar besar: Amerika Serikat akan mengambil alih Venezuela hingga terjadi “transisi kekuasaan yang aman”.

Li Yu:
Trump berkata, “Kami akan mengambil alih negara ini sampai kami dapat melakukan serah terima kekuasaan yang aman, layak, dan berhati-hati.”

Zheng Zhi:
Untuk mewujudkan hal ini, Trump mengumumkan bahwa AS akan membentuk sebuah tim untuk mengelola Venezuela, dan saat ini sedang menunjuk personel. Tim awal kemungkinan akan mencakup Menlu Rubio dan Menhan Hegseth.

Li Yu:
Dengan demikian, Rubio yang sudah memegang banyak jabatan akan bertambah satu lagi. Selain di tingkat pemerintahan, di sektor energi—yang paling diperhatikan dunia—Amerika juga memiliki rencana tersendiri. Trump mengatakan akan mengizinkan perusahaan minyak AS masuk ke Venezuela.

Zheng Zhi:
Trump menyatakan, “Kami akan mengirim perusahaan minyak Amerika kami yang besar—yang terbesar di dunia—ke Venezuela, menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, khususnya infrastruktur minyak, dan mulai menciptakan keuntungan bagi negara ini.”

Li Yu:
Selain pengambilalihan oleh Amerika, satu tokoh lain yang banyak diperkirakan publik adalah pemimpin oposisi María Corina Machado, yang sebelumnya dengan bantuan AS berhasil melarikan diri dari Venezuela. Kisah pelariannya juga penuh ketegangan, tidak kalah dramatis dibanding penangkapan Maduro, dan telah kami bahas secara rinci dalam program sebelumnya.

Zheng Zhi:
Setelah Maduro ditangkap, Machado menyebut ini sebagai “momen bersejarah” dari perjuangannya selama bertahun-tahun melawan kediktatoran dan memperjuangkan demokrasi. Ia juga menyerukan bahwa ini menandai “datangnya saat kebebasan”, serta menyatakan bahwa oposisi seharusnya mengambil alih kepemimpinan Venezuela dalam kerangka konstitusi dan pemilu untuk memulihkan kedaulatan dan ketertiban negara.

Li Yu:
Namun, seperti yang telah kami sebutkan, Amerika telah siap mengambil alih Venezuela, dan presiden sementara yang ada tampaknya juga bekerja sama dengan AS. Apakah pemimpin oposisi yang kini berada di pengasingan itu bisa kembali ke Venezuela dan memegang kekuasaan masih menjadi tanda tanya.

Zheng Zhi:
Apa pun perkembangan selanjutnya, yang jelas Amerika Serikat pasti akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk jangka waktu tertentu. Rakyat Venezuela kemungkinan besar akan menyambut pemerintahan demokratis yang sesungguhnya, dan kehidupan mereka akan mengalami perubahan besar. Karena itu, hanya suara rakyatlah yang dapat benar-benar mencerminkan makna sejati dari operasi ini.

Li Yu:
Benar. Maka mari kita lihat reaksi masyarakat Venezuela setelah penangkapan Maduro oleh militer AS.

Zheng Zhi:
Pertama, kita melihat ibu kota Caracas relatif tenang, dengan hanya sedikit kendaraan dan pejalan kaki di jalan. Dari gambar terlihat tidak ada kerusuhan atau gejolak besar.

Li Yu:
Ini menunjukkan bahwa operasi militer AS tidak terlalu mempengaruhi kehidupan sehari-hari rakyat Venezuela. Dalam masa genting seperti ini, orang-orang mungkin lebih memilih mencari tempat aman dan mengutamakan keselamatan diri. Namun mari kita dengarkan suara warga Caracas.

Zheng Zhi:
Berbeda dengan ketenangan di Caracas, komunitas diaspora Venezuela yang tinggal di negara-negara demokratis tampak jauh lebih gembira dan emosional.

Li Yu:
Ya. Pertama kita lihat Spanyol, negara dengan populasi imigran Venezuela terbesar di luar Amerika Latin dan Amerika Serikat.

Zheng Zhi:
Benar. Setelah penangkapan Maduro, warga Venezuela di Madrid berkumpul di pusat kota, saling berpelukan, mengibarkan bendera Venezuela, dan meneriakkan “kebebasan”. Beberapa bahkan menangis terharu—pemandangan yang sangat menyentuh.

Li Yu:
Ini benar-benar seperti hujan di tengah kemarau panjang!

Zheng Zhi:
Ya, terlihat jelas bahwa rakyat Venezuela telah lama menantikan hari ini.

Li Yu:
Bukan hanya di Madrid. Warga Venezuela yang mengungsi ke berbagai belahan dunia turut merayakan runtuhnya rezim diktator Maduro. Di perbatasan Kolombia pun, orang-orang mengibarkan bendera dan menangis haru.

Zheng Zhi:
Di luar Kedutaan Besar Venezuela di Lima, Peru, seorang perawat asal Venezuela meneteskan air mata, berharap bisa kembali ke tanah air untuk merawat orang tuanya yang sakit parah.

Li Yu:
Apa yang kita lihat hanyalah puncak gunung es. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB, sejak tahun 2000, sekitar 7,7 juta warga Venezuela telah meninggalkan tanah air mereka.

Zheng Zhi:
Di komunitas Venezuela di Doral, Florida, Amerika Serikat, orang-orang juga bersukacita dan merayakan runtuhnya pemerintahan Maduro.

Li Yu:
Kita tahu Venezuela selama ini memiliki ikatan politik yang sangat erat dengan PKT (Partai Komunis Tiongkok). PKT juga terus mendukung Maduro, termasuk memberikan pinjaman lebih dari 100 miliar dolar AS, yang mencakup lebih dari 40% dari total pinjaman Tiongkok ke Amerika Latin.

Zheng Zhi:
Dengan demikian, runtuhnya rezim Maduro juga menjadi pukulan besar bagi PKT. Terlebih di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok, pinjaman ini praktis lenyap dalam semalam, dan kemungkinan akan terus berdampak pada ekonomi Tiongkok.

Li Yu:
Pada saat yang sama, sebagai sesama rezim otoriter, penangkapan Maduro juga berdampak besar secara psikologis bagi rakyat Tiongkok daratan—ditambah dengan gelombang revolusi di Iran baru-baru ini, perasaan masyarakat Tiongkok pun semakin kuat.

Zheng Zhi:
Benar. Kita melihat di internet Tiongkok muncul fenomena yang menarik dan sarat makna tersembunyi.

Li Yu:
Di platform media sosial Tiongkok, Douyin, pada video-video terkait Presiden Trump, kolom komentar dan teks berjalan tiba-tiba dipenuhi tulisan “接好运” (menerima keberuntungan). Ada pula warganet yang langsung menulis “SOS”, mencerminkan luapan emosi yang semakin sulit dibendung.

Zheng Zhi:
Komentar-komentar ini tampak ringan di permukaan, namun sebenarnya penuh makna tersirat—lebih seperti saluran pelampiasan emosi kolektif rakyat Tiongkok.

Li Yu:
Yang lebih menarik lagi, sebuah foto kini viral di internet. Foto tersebut diduga diambil di dinding toilet umum di Tiongkok, bertuliskan:
“Selamat datang Presiden Trump untuk menangkap Xi, bebaskan 1,4 miliar rakyat Tiongkok.”

Zheng Zhi:
Tentu saja, keaslian foto ini masih perlu diverifikasi, namun sudah menyebar luas di media sosial dan memicu banyak diskusi.

Li Yu:
Apakah emosi rakyat Tiongkok ini hanya fenomena sesaat, atau justru arus bawah yang terus menguat, masih perlu kita amati lebih lanjut.

“Perisai Dewa” Buatan Tiongkok di Venezuela Tak Berdaya — Poros Kejahatan Terancam!

Zheng Zhi:
Selanjutnya mari kita bahas secara mendalam mengapa militer AS mampu berhasil melaksanakan operasi penangkapan kilat ini, khususnya bagaimana Amerika Serikat melakukan serangan udara. Kita tahu bahwa dalam beberapa bulan terakhir, militer AS telah mengerahkan kekuatan besar di kawasan Karibia Amerika Latin, termasuk kapal induk USS Ford, berbagai kapal perang, dan pesawat tempur—praktis memblokade wilayah laut Venezuela.

Li Yu:
Benar. Cadangan kekuatan militer yang sangat besar ini menjadi penopang paling kuat dan andal bagi pasukan AS yang terlibat dalam operasi tersebut. Namun dari sudut pandang militer, meskipun wilayah laut Venezuela telah diblokade, pemerintahan dan militer Maduro seharusnya masih menguasai superioritas udara di wilayah Venezuela.

Zheng Zhi:
Lalu bagaimana militer AS bisa menerobos masuk dengan satu armada pesawat secara langsung ke wilayah udara Venezuela?

Li Yu:
Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa Venezuela sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa persiapan dalam hal penguasaan udara dan pertahanan udara. Selama bertahun-tahun, militer Venezuela telah mengeluarkan dana besar untuk mengimpor peralatan militer dari Tiongkok, membangun sistem pertahanan yang diklaim sebagai “yang paling modern di Amerika Selatan”.

Zheng Zhi:
Di antaranya, jaringan pertahanan udara Venezuela yang berpusat pada radar anti-siluman JY-27, yang sebelumnya diklaim mampu “secara efektif menangkal” pesawat siluman AS seperti F-22. Selain itu, Korps Marinir Venezuela yang dilengkapi kendaraan tempur VN-16 dan VN-18 juga dianggap sebagai “pasukan lapis baja elite” di kawasan Amerika Latin.

Li Yu:
Namun dalam operasi militer AS kali ini, sistem buatan Tiongkok tersebut justru mengalami “kelumpuhan yang menghancurkan”. Sistem radar yang diklaim mampu melawan militer AS itu langsung “dibutakan” dalam gelombang pertama perang elektronik AS.

Zheng Zhi:
Dalam beberapa jam pertama operasi, militer AS melancarkan serangan perang elektronik yang sangat kuat. Berdasarkan penilaian di lapangan, layar radar Venezuela langsung dipenuhi “gangguan sinyal” besar-besaran, lalu satu per satu “ditandai” dan dihancurkan secara presisi oleh rudal anti-radiasi AS.

Li Yu:
Artinya, kemampuan “anti-siluman” yang digembar-gemborkan sama sekali tidak dapat digunakan. Seluruh sistem komando dan kendali pertahanan udara langsung menjadi “buta” sejak awal perang. Karena sistem pertahanan udara tidak merespons serangan udara yang datang, militer Venezuela pun tidak mampu mengorganisir pertahanan apa pun, bahkan pesawat tempur mereka tidak sempat lepas landas.

Zheng Zhi:
Dengan kata lain, superioritas udara Venezuela direbut sepenuhnya hanya dalam hitungan “kontak pertama”. Sementara itu, peralatan berat di darat, tanpa perlindungan udara, bahkan belum sempat menunjukkan daya tempurnya, sudah langsung dihancurkan—bahkan ada yang ditinggalkan oleh para prajurit.

Li Yu:
Sejumlah pakar militer menganalisis bahwa hal ini menunjukkan adanya kesenjangan teknologi yang sangat besar antara sistem senjata Tiongkok dan militer AS, terutama ketika menghadapi lingkungan elektromagnetik yang kompleks dan serangan presisi tingkat tinggi.

Zheng Zhi:
Sederhananya, teknologi yang oleh PKT dianggap “maju” ternyata masih tertinggal jauh dibanding teknologi AS, sehingga runtuh seperti “terbuat dari kertas” dan sama sekali tidak tahan serangan.

Li Yu:
Garis pertahanan baja Amerika Selatan yang sebelumnya diperkirakan akan melawan militer AS dengan sengit, runtuh total dalam waktu singkat. Konflik ini bukan hanya membentuk ulang situasi Venezuela, tetapi juga menyeret pemasok senjata utamanya—PKT—ke dalam sorotan tajam atas kemampuan teknologinya.

Zheng Zhi:
Selama bertahun-tahun, Venezuela dianggap sebagai “etalase pameran” senjata PKT di Amerika Latin. Namun hasil pertempuran nyata tidak bisa berbohong: sistem yang dipromosikan sebagai “mampu menandingi Barat” ternyata sangat rapuh di bawah serangan terpadu militer AS.

Li Yu:
Sementara itu, PKT masih terus menyalurkan senjata buatan Tiongkok ke anggota lain dari poros kejahatan, termasuk Rusia, Korea Utara, Kamboja, serta Iran yang kini tengah dilanda revolusi.

Zheng Zhi:
Selama ini, senjata buatan Tiongkok di berbagai medan perang dunia kerap dilaporkan bermasalah—mulai dari “meledak di dalam laras” di medan perang Thailand–Kamboja, dihantam habis-habisan oleh drone Ukraina di Rusia, hingga kegagalan peluncuran roket di dalam negeri Tiongkok sendiri. Namun, senjata Tiongkok yang langsung berhadapan dengan serangan militer AS—ini adalah yang pertama kalinya.

Li Yu:
Tampaknya hanya melalui ujian pertempuran nyata, barulah terlihat siapa yang “bermain curang”. Senjata buatan Tiongkok yang selama ini diklaim sangat kuat, ketika benar-benar berhadapan dengan musuh hipotetisnya—militer AS—ternyata hancur seketika. Ke depan, prospek penjualan senjata Tiongkok di pasar internasional tampaknya tidak akan mulus.

Zheng Zhi:
Hal ini juga menjadi peringatan keras bagi para diktator poros kejahatan: terus bersekutu dengan PKT bukan hanya berisiko memicu “operasi pemenggalan kepala” oleh militer AS, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata buatan Tiongkok ternyata sama sekali tidak memberikan perlindungan nyata.

Li Yu:
Karena itu, kita perlu menganalisis dampak berantai dari peristiwa besar yang mengguncang dunia ini terhadap situasi global. Yang pertama tentu saja Tiongkok dan Rusia—dua negara poros yang memiliki kepentingan mendalam dengan rezim Maduro. Dalam episode sebelumnya, kita juga menyebutkan bahwa sebelum ditangkap, Maduro baru saja bertemu dengan utusan khusus PKT.

Zheng Zhi:
Dari kegagalan sistem pertahanan “Perisai Dewa”, hingga dugaan utusan yang “menunjukkan jalan” bagi militer AS, PKT kali ini seperti tanpa sengaja mengirim sekutunya sendiri ke jurang. Entah bagaimana perasaan mereka sekarang.

Li Yu:
Mungkin delegasi PKT kini sudah kembali ke dalam negeri, membawa rincian kabar eksplosif ini kepada Xi Jinping. Ada warganet yang berspekulasi bahwa Zhongnanhai kini gemetar ketakutan, khawatir giliran mereka akan tiba.

Zheng Zhi:
Namun secara resmi, PKT tetap mengutuk keras tindakan AS, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara lain—narasi lama yang diulang kembali. Yang patut dicatat, PKT tidak menuntut pembebasan Maduro, hanya meminta AS menjamin keselamatannya.

Li Yu:
Ini menunjukkan PKT juga menyadari bahwa keadaan sudah tak bisa dibalikkan. Maduro yang telah dibawa ke daratan AS praktis “tak mungkin diselamatkan”, sehingga yang tersisa hanyalah kecaman simbolis.

Zheng Zhi:
Dibanding PKT, reaksi Rusia terlihat lebih keras. Putin sendiri berkali-kali menyatakan dukungan kepada Maduro. Menurut laporan TASS, Rusia menuntut AS segera membebaskan Maduro dan menjamin keselamatannya.

Li Yu:
Namun permintaan itu ibarat “meminta palu lalu dipalu”. Meski AS tentu tak akan membebaskan Maduro, setidaknya mereka bisa membuktikan bahwa ia masih hidup. Maka muncullah foto yang dirilis Trump—Maduro ditahan di atas kapal.

Zheng Zhi:
Melihat reaksi Tiongkok dan Rusia, respons mereka tampak tidak sekeras yang dibayangkan. Namun ini tidak berarti dampaknya kecil. Justru sebaliknya, jatuhnya Maduro akan langsung mengguncang tatanan PKT di Amerika Latin—karena bahkan perwakilan terbesarnya pun telah lepas dari kendali.

Li Yu:
Selain itu, selama ini PKT telah membangun struktur energi dan utang di Venezuela. Kini dengan penangkapan Maduro dan pengumuman AS untuk “terlibat secara mendalam” dalam rekonstruksi energi—terutama industri minyak—akses PKT terhadap minyak murah Amerika Selatan akan menjadi sejarah.

Zheng Zhi:
Lebih jauh lagi, rezim Maduro sebagai salah satu kelompok kriminal militer terbesar di Amerika Selatan selama ini menjadi payung bagi aktivitas gelap PKT di kawasan tersebut. Kini payung itu telah disingkirkan AS, dan jaringan produksi narkoba, perdagangan narkoba, perdagangan manusia, bahkan perdagangan organ yang terkait PKT terancam dibongkar total.

Li Yu:
Pusat penipuan daring PKT di Kamboja telah dihancurkan, industri narkoba di Venezuela ikut runtuh. Jaringan bisnis gelap PKT di luar negeri kini nyaris habis.

Zheng Zhi:
Dari sudut pandang hubungan internasional, jaringan “kekuatan abu-abu” PKT di Amerika Latin—termasuk Meksiko, Kolombia, Kuba—sedang dibongkar satu per satu.

Li Yu:
Seperti yang disebutkan, pengaruh PKT di Amerika Latin bukan dibangun lewat ideologi, melainkan uang, infrastruktur, energi pasar gelap, dan industri abu-abu. Secara permukaan tampak sebagai hubungan antarnegara, namun sebenarnya merupakan simpul penting penyelundupan narkoba dan pencucian uang.

Zheng Zhi:
Venezuela adalah “pusat kunci” dalam rantai ini—penyelundupan minyak untuk uang tunai, produksi dan distribusi narkoba, pencucian uang, lalu dana dialirkan kembali ke sistem lepas pantai PKT. Model ini telah berjalan bertahun-tahun dan menopang pengaruh gelap PKT di luar negeri.

Li Yu:
Kini simpul-simpul ini diputus secara bersamaan. Kecepatan aksi militer AS menunjukkan bahwa yang mereka bidik bukan satu negara atau satu rezim, melainkan seluruh jaringan lintas benua.

Zheng Zhi:
Inilah sebabnya reaksi diplomatik PKT belakangan terlihat pasif dan gelisah. Hilangnya jaringan bisnis gelap ini bukan hanya soal uang, tetapi soal kendali. Tanpa dana dan jalur abu-abu, sulit memelihara proksi dan membeli loyalitas politik.

Li Yu:
Terus terang, yang dihadapi PKT bukan sekadar “jatuhnya satu sekutu”, melainkan runtuhnya seluruh perangkat kekuasaan informal yang selama ini diandalkan di luar negeri. Inilah yang paling membuat Beijing resah.

Zheng Zhi:
Bagi Rusia di Eropa, dampaknya lebih bersifat strategis. Rusia kini terlibat tarik-ulur perundingan damai dengan Ukraina dan Eropa. Meski ada mediasi AS, sikap Rusia tetap ambigu.

Li Yu:
Seperti yang telah kami analisis sebelumnya, Rusia sebenarnya bukan ingin damai, melainkan memanfaatkan perundingan untuk mengulur waktu dan menguasai wilayah timur Ukraina.

Zheng Zhi:
Strategi “mengulur waktu” Rusia juga bertujuan mengalihkan perhatian AS. Dukungan terbuka Putin kepada Maduro sebenarnya dimaksudkan untuk menahan AS di “halaman belakangnya” sendiri.

Li Yu:
Namun tak ada yang menyangka militer AS akan bertindak secepat ini—tebasan tajam tanpa memberi waktu reaksi. Pedang Damokles yang menggantung di atas kepala Maduro dan para sekutunya pun jatuh tanpa peringatan.

Zheng Zhi:
Di antara poros kejahatan baru—Tiongkok, Rusia, Korea Utara, dan Iran—Tiongkok dan Rusia jelas terpukul keras. Korea Utara hingga kini belum memberi respons resmi. Tinggal Iran.

Li Yu:
Iran belakangan ini “panas”. Di tengah Tahun Baru, gelombang revolusi besar meletus, bermula dari masalah ekonomi dan berujung pada perlawanan terhadap rezim.

Zheng Zhi:
Hari ini, setelah penangkapan Maduro, Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan keras mengecam AS, menyebutnya pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.

Li Yu:
Nada ini sangat familiar—retorika resmi yang dipelajari dari diplomasi PKT. Pemimpin tertinggi Iran, Khamenei, juga menyatakan Iran tidak akan tunduk kepada “musuh”.

Zheng Zhi:
Meski tidak secara langsung menyinggung Maduro, sikap keras ini mencerminkan posisinya. Namun menurut laporan HAM, lebih dari 10 demonstran telah tewas dalam bentrokan dengan militer Iran—bertentangan langsung dengan peringatan Trump agar kekerasan dihentikan, atau AS akan turun tangan.

Li Yu:
Dengan contoh Maduro di depan mata, seberapa lama Khamenei dan rezim teokratisnya bisa bertahan, apalagi jika hanya mengandalkan senjata buatan Tiongkok yang “sekali sentuh langsung hancur”?

Zheng Zhi:
Situasinya jelas tidak optimis. Sejumlah pengamat menilai bahwa Trump memperingatkan Iran, lalu langsung menghantam Maduro—ini bukan hanya intimidasi terhadap Iran, tetapi terhadap semua diktator poros kejahatan.

Li Yu:
Ada pula warganet yang menyebut Trump “sekali panah dua sasaran”, memangkas dua sekutu PKT sekaligus. Baik di Amerika Latin maupun Timur Tengah, PKT terancam kalah total.

Zheng Zhi:
Bahkan jika Iran benar-benar mengalami revolusi, Rusia juga akan menanggung kerugian besar. Pasalnya, lebih dari 90% drone yang digunakan Rusia di medan perang Ukraina berasal dari Iran.

Li Yu:
Jika jalur Iran terputus—entah karena gangguan produksi, embargo, atau perubahan rezim—itu akan menjadi mimpi buruk bagi Rusia di medan perang.

Zheng Zhi:
Dari sudut ini, “sekali panah dua sasaran” bahkan memiliki lapisan ketiga: AS tidak hanya menghantam jaringan luar negeri PKT, tetapi juga mengguncang fondasi logistik perang Rusia.

Li Yu:
Jika Venezuela di Amerika Latin dan Iran di Timur Tengah sama-sama mengalami perubahan struktural, rantai “aset–bisnis gelap–militer” Tiongkok–Rusia bisa runtuh berantai.

Zheng Zhi:
Apa pun pilihan Khamenei—melawan hingga akhir atau berpaling ke Barat—hasilnya sama: poros kejahatan akan terpecah.

Li Yu:
Mungkin inilah yang disebut orang sebagai “kejahatan tak pernah menang atas kebenaran”. Dengan Maduro dipenjara di AS, seluruh poros kejahatan kini berada dalam kondisi genting.

Zheng Zhi:
Demikianlah episode kali ini. Kami akan terus mengikuti perkembangan terbaru dan analisis mendalam. Jangan lewatkan. (Hui)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pilih Putus Kontak, Manohara Ungkap Tekanan yang Dilakukan Sang Ibu
• 12 jam laluinsertlive.com
thumb
Komisaris-Direksi TPIA Mengundurkan Diri, Manajemen Jadwalkan RUPS
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Produsen Salonpas Hisamitsu Pamit dari Bursa Tokyo, Go Private Rp48,57 T
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Cak Imin Respons soal Prabowo Bilang PKB Harus Diawasi: Bercanda
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Bank Sentral China Siap Pangkas Suku Bunga di 2026
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.