BPS: Tren Kontraksi Berlanjut, Ekspor November 2025 Turun 6,6%!

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekspor pada November 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar 6,6% yakni dari US$24,11 miliar pada November 2024 menjadi US$22,52 miliar. Sementara itu secara kumulatif terjadi kenaikan sebesar 5,61%. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan bahwa penyebab penurunan kinerja ekspor pada bulan November 2025 terjadi karena melambatnya permintaan dari komoditas ekspor nonmigas.

"Total penurunan secara tahunan utamanya didorong oleh penurunan ekspor nonmigas," ungkap Pudji, Senin (5/1/2026).

Adapun ekspor nonmigas selama bulan November 2026 tercatat sebesar U$21,64 miliar atau turun 5,09% year on year. Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar US$880 juta.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Penurunan kinerja ekspor ini sejalan dengan konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada November 2025 atau 67 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan konsensus proyeksi 17 ekonom yang dihimpun Bloomberg, nilai tengah (median) surplus neraca perdagangan pada November 2025 diproyeksikan sebesar US$3,06 miliar. Proyeksi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Oktober 2025 senilai US$2,39 miliar.

Baca Juga

  • Dampak Krisis Venezuela bagi RI: dari harga Minyak, Yield SBN hingga Ekspor
  • Pengusaha Teriak Ekspor Alas Kaki RI Anjlok Imbas Tarif Trump
  • Pengusaha Ekspor-Impor Siap-Siap! Pengawasan Bea Cukai Bakal Makin Ketat pada 2026

Estimasi tertinggi dikeluarkan oleh Ekonom PT Oub Kay Hian Securities dengan nominal US$3,89 miliar. Sebaliknya, proyeksi terendah disampaikan oleh ekonom Moodys Analytics Singapore Jeemin Bang dengan angka US$2,2 miliar.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan surplus US$2,87 miliar pada November 2025 atau naik dibandingkan realisasi bulan sebelumnya (US$2,39 miliar). Kendati demikian, kenaikan tersebut diperkirakan terjadi karena impor yang turun lebih tajam dibandingkan ekspor secara bulanan.

David merincikan bahwa ekspor diproyeksikan akan turun 4,37% secara tahunan (year on year/YoY) maupun 5,31% secara bulanan (month on month/MoM). Di sisi lain, impor diperkirakan naik sebesar 2,25% YoY, namun turun 8,1% MoM.

"Secara MoM [bulanan], ekspor dan impor turun karena hari kerja yang lebih sedikit. Namun, harga komoditas ekspor naik lebih banyak dibandingkan impor, terutama batubara dan gas," jelasnya kepada Bisnis, Minggu (4/1/2026).

Sementara berdasarkan data ekspor-impor negara lain terhadap Indonesia, David mencatat adanya pelebaran neraca perdagangan dibandingkan November.

Surplus Neraca Dagang

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan bahwa surplus neraca dagang selama Januari sampai dengan November 2025 mencapai US$38,7 miliar. 

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah, surplus neraca dagang secara kumulatif selama 2025 sampai dengan November lalu itu tumbuh 32,3% (yoy) dari periode yang sama tahun lalu yakni US$29,2 miliar. 

Pada konferensi pers APBN KiTa edisi November 2025, Kamis (18/12/2025), Purbaya menjelaskan bahwa peningkatan secara tahunan sampai dengan November itu kendati adanya indikasi perlambatan setelah efek frontloading eksportir yang menghindari pengenaan tarif impor Amerika Serikat (AS). 

"[Surplus] neraca perdagangan kumulatif itu naiknya sebesar 32,2% jadi net impact dari perkembangan global ke kita malah membaik, jadi global mendukung terus, menopang recovery di ekonomi kita," terangnya, dikutip Minggu (21/12/2025). 

Surplus itu berkat kinerja ekspor secara kumulatif Januari-November 2025 yang lebih tinggi dari impor. Selama 11 bulan 2025, Kemenkeu mencatat nilai ekspor mencapai US$256,7 miliar atau tumbuh 5,7% (yoy). 

Purbaya memaparkan bahwa ekspor itu ditopang oleh komoditas bernilai tambah, industri manufaktur seperti logam dasar, minyak kelapa sawit (CPO), kimia dasar, dan semikonduktor. 

"Kinerja ekspor kumulatif Januari-November 2025 tetap solid dengan pertumbuhan 5,7% year on year, terutama ditopang komoditas bernilai tambah dan industri manufaktur seperti logam dasar CPO, kimia dasar, dan semikonduktor," jelasnya. 

Di sisi lain, impor tumbuh 2,1% (yoy) menjadi US$218,1 miliar pada Januari-November 2025. Kinerja impor itu didorong oleh kebutuhan barang modal seperti mesin dan peralatan, alat komunikasi dan komputer. 

"Ini mengindikasikan aktivitas investasi dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga," terang Purbaya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bos Toyota Blak-blakan Penyebab RI Gagal Jual 2 Juta Unit Mobil
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BI: Inflasi 2025 Terjaga, Optimistis Terkendali hingga 2027, Dipengaruhi Harga Cabai dan Bawang
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Naik Berjamaah Hari Ini
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kemendagri Wajibkan Daerah se-RI Bentuk BPBD Demi Hadapi Ancaman Bencana
• 10 jam laludetik.com
thumb
Andi Arief Ungkap Langkah SBY: 4 Akun Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
• 13 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.