Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk kepentingan pertahanan setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela, sebagaimana dilaporkan media The Atlantic pada Minggu, 4 Januari.
Trump menyebut bahwa Venezuela mungkin bukan negara terakhir yang menjadi sasaran intervensi Amerika Serikat dalam kebijakan militernya ke depan.
Dalam wawancara tersebut, Trump secara tegas menyatakan "Kami memang membutuhkan Greenland, sangat membutuhkan," ungkapnya.
Greenland merupakan pulau yang terletak di kawasan Arktik dan menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Denmark yang memiliki posisi strategis dalam pertahanan global.
Trump mengatakan bahwa pihak lain bebas menilai arti dari serangan besar-besaran Amerika Serikat terhadap Venezuela bagi Greenland.
"Mereka harus menilainya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu," kata Trump, seraya menegaskan bahwa pernyataannya saat itu tidak secara langsung merujuk pada Greenland.
Meski demikian, Trump kembali mengulang bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk kepentingan pertahanan nasional.
Sepanjang tahun lalu, Trump berulang kali menyerukan agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland dengan alasan keamanan nasional, strategi Arktik, serta potensi mineral dan sumber daya alam krusial.
Seruan tersebut memicu penolakan keras dari pemerintah Greenland, Denmark, dan Uni Eropa.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk menganeksasi Greenland dalam menanggapi sikap Washington.
"Saya harus menyampaikannya secara langsung kepada Amerika Serikat," ujar Frederiksen, sambil mendesak agar Washington menghentikan ancaman terhadap sekutu dekat dan masyarakat Greenland.
Frederiksen menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk menganeksasi salah satu bagian dari Kerajaan Denmark yang terdiri dari Denmark, Greenland, dan Kepulauan Faroe.
Sebelumnya pada Sabtu, 3 Januari, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola Venezuela setelah militer Amerika Serikat menyerbu negara tersebut.
Dalam penyerbuan itu, militer Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya secara paksa.
Aksi militer tersebut mengejutkan komunitas internasional dan memicu kecaman keras dari banyak negara atas penggunaan kekuatan terbuka terhadap negara berdaulat.
Kecaman internasional juga diarahkan pada tindakan Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela.


