FAJAR.CO.ID, TEHERAN — Potensi perang yang melibatkan Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran semakin memenas. Usai militer AS melakukan serangan dan penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, kini situasi panas beralih ke Timur Tengah.
Beberapa analis militer daring telah memperhatikan pengerahan besar-besaran pesawat dan senjata AS ke Eropa dalam 24 jam terakhir, suatu keadaan yang mengingatkan pada apa yang terjadi sebelum perang 12 hari pada bulan Juni 2025.
Pada intinya, ada indikasi bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang mempersiapkan babak perang berikutnya melawan Iran.
Data pelacakan penerbangan dan sumber OSINT mengkonfirmasi akumulasi yang tidak biasa dari setidaknya 10 pesawat C-17 AS (dan aset terkait seperti helikopter tempur AC-130) yang tiba di pangkalan RAF Fairford dan RAF Mildenhall di Inggris pada tanggal 3 dan 4 Januari 2026.
Penerbangan ini berasal dari pangkalan AS yang terkait dengan unit operasi khusus (misalnya, Hunter Army Airfield di Georgia dan Fort Campbell di Kentucky, markas Resimen Ranger ke-75 dan SOAR ke-160 “Night Stalkers”). Beberapa pesawat telah transit ke Pangkalan Udara Ramstein di Jerman.
Selain itu, sebuah pesawat kargo berat Boeing C-17 Globemaster buatan Amerika dilaporkan telah mendarat di Yordania.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bahkan sudah dua kali terakhir memberikan peringatan keras kepada Iran, terkait penanganan demonstrans di negara tersebut. Iran beberapa hari terakhir memang diketahui sedang dilanda unjuk rasa, akibat kemerosotan ekonomi dan nilai tukar yang menurun terhadap dolar.
Unjuk rasa di beberapa kota bahkan dilaporkan berakhir dengan kericuhan. Tidak hanya itu, para pemprotes ada yang terang-terangan menenteng senjata saat melakukan aksi di jalanan. Masifnya protes di Iran inilah yang kemudian diperingatkan Trump agar Teheran tidak melakukan tindakan berlebih seperti melakukan penembakan.
Di tengah ancaman invasi AS dan Israel ke Iran, Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmail Baqaei, mengatakan Angkatan Bersenjata Iran tetap waspada dan memperkuat kesiapan mereka untuk membela negara dalam menghadapi kemungkinan serangan baru Israel.
Baqaei menyampaikan pernyataan tersebut selama konferensi pers mingguan di Teheran pada hari Senin, saat mengomentari pemberitaan media yang berlebihan seputar kemungkinan serangan militer Israel yang diperbarui terhadap Iran.
“Perang psikologis dan propaganda media terhadap negara ini adalah bagian dari strategi pihak lawan untuk memberikan tekanan pada Iran dan bukanlah hal baru. Yang penting bagi kami adalah kami memantau tindakan pihak lain dengan penuh kewaspadaan dan komitmen, dan Angkatan Bersenjata kami tidak akan menunjukkan sedikit pun kelalaian atau kelonggaran dalam membela kedaulatan dan integritas nasional Iran,” katanya kepada IRNA.
Seorang penasihat senior Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menekankan perlunya tanggapan tegas dan menentukan terhadap musuh untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah negara.
Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidato pada upacara peringatan hari kesyahidan Letnan Jenderal Qassem Soleimani di Jiroft, sebuah kota di provinsi Kerman, pada hari Minggu.
Ia mengatakan keamanan membutuhkan tanggapan tegas dan menentukan terhadap musuh, bukan kelonggaran dan kompromi, menambahkan bahwa sikap ragu-ragu, bimbang, dan mundur dalam menghadapi agresor tidak hanya membawa ketidakamanan, tetapi juga mendorong musuh untuk melakukan agresi lebih lanjut.
Jenderal Naqdi, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil koordinator IRGC, menambahkan bahwa pengalaman Yaman, Lebanon, Palestina, dan front perlawanan lainnya telah menunjukkan bahwa di mana pun ada keteguhan, musuh akan mundur.
Ia juga menekankan perlunya persatuan nasional untuk mencegah agresi asing, dengan mengatakan musuh tidak akan berani menyerang, dan keamanan negara akan terjamin, selama rakyat tetap bersatu.
Menurutnya, ajaran Syahid Soleimani adalah ajaran keteguhan, kepemimpinan, dan perlawanan, yang saling terkait dalam bangsa Iran, dan semua bangsa yang mencintai kebebasan.
Merujuk pada Dokumen Keamanan Nasional AS 2025, Jenderal Naqdi mengatakan dokumen tersebut menunjukkan pengakuan Washington atas kegagalannya di kawasan Asia Barat dan penghinaan selama beberapa dekade terakhir, meskipun telah menghabiskan triliunan dolar di Irak dan Afghanistan. (fajar)




