Jakarta (ANTARA) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas, Venezuela, memastikan situasi keamanan mulai pulih dan kondisi WNI tetap aman menyusul serangan Amerika Serikat yang berujung pada ditangkapnya Presiden Nicolas Maduro, Sabtu (3/1).
“KBRI Caracas melaporkan situasi keamanan dan aktivitas sosial di Caracas mulai kondusif dan menunjukkan peningkatan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang melalui siaran video yang dipantau di Jakarta, Senin.
KBRI Caracas memastikan bahwa hingga Senin ini, seluruh 37 WNI di Venezuela tetap aman serta dapat terus terhubung dan berkomunikasi dengan KBRI menyusul pulihnya situasi, kata dia.
Ia menyampaikan bahwa KBRI Caracas melaporkan pasar-pasar swalayan di kota tersebut sudah beroperasi normal dan tidak ada fenomena “panic buying” yang terjadi di kalangan masyarakat.
Mobilitas kendaraan di jalan-jalan utama sudah normal, begitu pula operasional stasiun pengisian bahan bakar umum di Caracas, kata Yvonne.
Namun demikian, hingga saat ini masih terdapat gangguan jaringan komunikasi penyedia layanan nasional di Caracas serta pemadaman listrik masih terjadi di salah satu wilayah di ibu kota Venezuela itu, ucap Jubir Kemlu RI itu.
Yvonne pun memastikan bahwa Kemlu RI bersama KBRI Caracas telah memiliki rencana kontingensi untuk memastikan keselamatan WNI apabila situasi keamanan di Venezuela kembali mengalami eskalasi.
Dalam kesempatan yang sama, Yvonne menyampaikan keprihatinan pemerintah Indonesia bahwa tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, seperti yang dilakukan AS di Venezuela, berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Indonesia pun menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum humaniter internasional, serta mengutamakan keselamatan warga sipil, ucap Yvonne.
Rakyat Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari digegerkan dengan serangan militer AS terhadap instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian, di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS. Negara Amerika Latin itu pun menyatakan keadaan darurat nasional.
Presiden AS Donald Trump kemudian membenarkan bahwa pihaknya melakukan serangan ke Venezuela serta berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro berikut istrinya, yang langsung dibawa ke AS. Pasangan tersebut menghadapi dakwaan federal AS terkait dugaan perdagangan narkoba serta kerja sama dengan organisasi teroris.
Menyusul penculikan Maduro oleh AS, Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez untuk menjabat sebagai presiden sementara.
Baca juga: Setelah Venezuela, Kolombia bisa jadi target Trump berikutnya
Baca juga: Presiden sementara Venezuela desak AS kerja sama terkait Maduro
Baca juga: Organisasi negara-negara Amerika akan gelar pertemuan bahas Venezuela
“KBRI Caracas melaporkan situasi keamanan dan aktivitas sosial di Caracas mulai kondusif dan menunjukkan peningkatan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang melalui siaran video yang dipantau di Jakarta, Senin.
KBRI Caracas memastikan bahwa hingga Senin ini, seluruh 37 WNI di Venezuela tetap aman serta dapat terus terhubung dan berkomunikasi dengan KBRI menyusul pulihnya situasi, kata dia.
Ia menyampaikan bahwa KBRI Caracas melaporkan pasar-pasar swalayan di kota tersebut sudah beroperasi normal dan tidak ada fenomena “panic buying” yang terjadi di kalangan masyarakat.
Mobilitas kendaraan di jalan-jalan utama sudah normal, begitu pula operasional stasiun pengisian bahan bakar umum di Caracas, kata Yvonne.
Namun demikian, hingga saat ini masih terdapat gangguan jaringan komunikasi penyedia layanan nasional di Caracas serta pemadaman listrik masih terjadi di salah satu wilayah di ibu kota Venezuela itu, ucap Jubir Kemlu RI itu.
Yvonne pun memastikan bahwa Kemlu RI bersama KBRI Caracas telah memiliki rencana kontingensi untuk memastikan keselamatan WNI apabila situasi keamanan di Venezuela kembali mengalami eskalasi.
Dalam kesempatan yang sama, Yvonne menyampaikan keprihatinan pemerintah Indonesia bahwa tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, seperti yang dilakukan AS di Venezuela, berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Indonesia pun menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum humaniter internasional, serta mengutamakan keselamatan warga sipil, ucap Yvonne.
Rakyat Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari digegerkan dengan serangan militer AS terhadap instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian, di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS. Negara Amerika Latin itu pun menyatakan keadaan darurat nasional.
Presiden AS Donald Trump kemudian membenarkan bahwa pihaknya melakukan serangan ke Venezuela serta berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro berikut istrinya, yang langsung dibawa ke AS. Pasangan tersebut menghadapi dakwaan federal AS terkait dugaan perdagangan narkoba serta kerja sama dengan organisasi teroris.
Menyusul penculikan Maduro oleh AS, Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez untuk menjabat sebagai presiden sementara.
Baca juga: Setelah Venezuela, Kolombia bisa jadi target Trump berikutnya
Baca juga: Presiden sementara Venezuela desak AS kerja sama terkait Maduro
Baca juga: Organisasi negara-negara Amerika akan gelar pertemuan bahas Venezuela



