Penyelidikan Anti-dumping Disetop, Mendag: Baja RI Bisa Diekspor Lagi ke Australia

viva.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Menteri Perdagangan, Budi Santoso alias Busan menyampaikan, saat ini pemerintah Australia sudah menghentikan penyelidikan anti-dumping, terhadap produk hot rolled deformed steel reinforcing bar (rebar) atau baja tulangan asal Indonesia.

Dengan demikian, Budi menegaskan bahwa hal itu berarti bahwa ruang ekspor baja Indonesia ke Australia sudah kembali terbuka, setelah sebelumnya sempat terhenti dengan adanya penyelidikan anti-dumping tersebut.

Baca Juga :
Ekspor Alas Kaki ke AS Anjlok, Pengusaha Dorong Pemerintah Ajukan Tarif Lebih Rendah
Ekspor RI Terbanyak ke Tiongkok, Nilainya Tembus US$58,24 Miliar

"Penghentian penyelidikan ini menjadi sinyal positif bagi kinerja perdagangan luar negeri sektor baja," kata Budi dalam keterangannya, Senin, 5 Januari 2026.

Pekerja memeriksa kualitas lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis, 7 Februari 2019.
Photo :
  • ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Mendag menjelaskan, dihentikannya penyelidikan itu merupakan tindak lanjut dari Termination Report yang diterbitkan Australia Anti-Dumping Commission (ADC), pada 16 Desember 2025.

Laporan ADC itu menyatakan bahwa margin dumping rebar Indonesia terhitung hanya 1,3 persen atau di bawah ambang batas 2 persen, sehingga produk rebar Indonesia tidak dikenakan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD). Mendag berharap, keputusan ADC juga akan dapat memulihkan ekspor rebar Indonesia, yang sempat tertahan selama proses investigasi berlangsung.

"Akses pasar Australia yang kembali terbuka akan memperkuat daya saing produk baja Indonesia di pasar Negeri Kanguru," ujarnya.

Senada, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Tommy Andana menambahkan, penghentian penyelidikan anti-dumping itu akan memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga akses pasar ekspor, utamanya saat tren penggunaan instrumen pengamanan perdagangan tengah meningkat.

Dalam menghadapi berbagai penyelidikan anti-dumping, Tommy menekankan pentingnya kepatuhan dan kerja sama pelaku usaha Indonesia, dalam menghadapi proses investigasi oleh negara mitra.

"Pemerintah Indonesia aktif mengawal proses penyelidikan serta mendorong eksportir bersikap kooperatif membela kepentingannya selama penyelidikan berlangsung," ujar Tommy.

Sementara Direktur Pengamanan Perdagangan, Reza Pahlevi Chairul, mengapresiasi komitmen dan sikap kooperatif perusahaan eksportir asal Indonesia selama proses penyelidikan berlangsung.

"Sikap kooperatif perusahaan menjadi faktor penting dalam mendukung proses penyelidikan yang objektif sehingga menghasilkan kesimpulan yang adil. Dalam penyelidikan antidumping, sikap kooperatif dari pihak perusahaan merupakan hal yang paling menentukan hasil akhir," ujarnya.

Baca Juga :
Ekspor Mobil Listrik China Melonjak Naik, Industri Otomotif Barat Mulai Terguncang!
6 Hal Menarik di Perth yang Bikin Liburan Makin Berkesan
Teken FTA, Mendag Pede Peluang Dagang RI dan Uni Ekonomi Eurasia Makin Terbuka

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dari 100 ke 2.000 Unit, Jejak Toyota Hardtop Menguasai Wisata Bromo
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Bos Toyota Blak-blakan Penyebab RI Gagal Jual 2 Juta Unit Mobil
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bursa Asia Menguat, Indeks Saham Jepang Cetak Rekor!
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
6 Fakta Banjir Bandang Dahsyat yang Menerjang Sitaro di Awal 2026
• 17 jam lalusuara.com
thumb
Prabowo Minta Kepala BGN Tingkatkan Disiplin Prosedur MBG
• 14 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.