FAJAR, SURABAYA — Debut Bernardo Tavares bersama Persebaya Surabaya belum benar-benar dimulai, namun narasi besar sudah terlanjur terbentuk. Bukan hanya soal taktik baru atau wajah Persebaya yang akan berubah, melainkan juga tentang bagaimana sang pelatih Portugal memandang pemain-pemain yang pernah ia bentuk—dan masih ia kagumi hingga kini.
Menjelang laga Persebaya Surabaya kontra Malut United di Stadion Gelora Bung Tomo, 10 Januari mendatang, Bernardo Tavares melontarkan pujian yang tak biasa. Di tengah persiapan menghadapi salah satu tim terkuat Super League 2025/2026, fokusnya justru mengarah pada dua nama yang sangat ia kenal: Yakob Sayuri dan Yance Sayuri.
Dua bersaudara asal Papua itu bukan sekadar mantan anak asuh. Mereka adalah simbol sepak bola intensitas tinggi yang pernah menjadi denyut utama permainan PSM Makassar di era Tavares.
Debut Berat, Ujian Nyata
Laga debut Bernardo bersama Persebaya tak datang dalam kondisi ideal. Malut United bukan lawan transisi, melainkan tim mapan yang kini bercokol di papan atas klasemen. Materi pemain mereka sarat pengalaman dan mental juara, sebagian besar merupakan eks pilar Persib Bandung saat menjuarai Super League 2024/2025.
Nama Ciro Alves dan David da Silva di lini depan menjadi ancaman konstan. Kombinasi keduanya menawarkan kecepatan, kekuatan fisik, dan naluri gol yang tajam. Dalam banyak laga, Malut United kerap mematikan pertandingan hanya lewat satu momen transisi cepat.
Bernardo Tavares memahami betul karakter lawan ini. Ia tak ragu menyebut Malut United sebagai kandidat kuat juara musim ini.
Pengalamannya bersama PSM Makassar menjadi referensi kuat. Pada pekan ke-14 musim 2024/2025, PSM berhasil mencuri satu poin lewat hasil imbang 2-2 di kandang Malut United. Pertemuan berikutnya di Stadion Gelora B.J. Habibie bahkan dimenangi PSM dengan skor dramatis 3-2 lewat gol injury time.
Namun Malut United juga belajar cepat. Pada pertemuan terbaru Desember 2025, mereka membalas dengan kemenangan 1-0 atas PSM Makassar melalui gol cepat David da Silva.
Duo Sayuri, Ancaman Sekaligus Nostalgia
Dari seluruh kekuatan Malut United, perhatian Bernardo Tavares tertuju pada satu sektor yang sangat ia kenal: sisi sayap. Yakob dan Yance Sayuri kembali menjadi pusat agresivitas tim.
Pujian Tavares kepada duo Sayuri bahkan melampaui konteks sepak bola Indonesia. Ia secara terbuka menyebut kualitas mereka layak bermain di Liga Portugal, bahkan di klub sekelas SC Braga.
“Beberapa pemain ini, menurut saya, akan cocok bermain di SC Braga. Saat itu saya mengamati Braga dan pemain sayap bertahan mereka tidak lebih unggul dari saudara Sayuri,” ujar Tavares, dikutip dari Bola Branca.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi. Tavares kemudian mengurai detail yang jarang diungkap pelatih asing tentang pemain Indonesia.
“Yang satu Yance Sayuri, yang lainnya Yakob Sayuri. Mereka sangat cepat, memiliki mentalitas yang sangat kuat, sikap yang sangat kuat, dan reaksi yang sangat cepat saat kehilangan bola. Mereka menembak dengan baik—yang satu dengan kaki kiri, yang lainnya dengan kaki kanan.”
Ia bahkan membandingkan etos kerja mereka dengan pemain Eropa Tengah. Menurut Tavares, intensitas dan kedisiplinan duo Sayuri mengingatkannya pada tipikal pemain Jerman—tekanan tinggi, transisi cepat, dan komitmen penuh sepanjang laga.
Statistik yang Menguatkan Pujian
Musim ini, performa Sayuri bersaudara membuktikan bahwa sanjungan itu bukan nostalgia kosong.
Yakob Sayuri tampil eksplosif sebagai penyerang sayap. Dari 12 pertandingan, ia mencatat lima gol dan tiga assist—angka yang menempatkannya sebagai salah satu winger paling produktif di liga.
Sementara Yance Sayuri menjalankan peran berbeda. Beroperasi sebagai bek sayap, ia lebih fokus pada stabilitas defensif, namun tetap memberi kontribusi ofensif lewat satu gol dan satu assist dari 16 laga.
Kecepatan, agresivitas, dan keberanian mereka melakukan transisi cepat kerap menjadi titik awal tekanan Malut United. Bagi Persebaya, duo ini adalah ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak menit pertama.
Lebih dari Sekadar Pujian: Isyarat Masa Depan?
Pujian Bernardo Tavares kepada duo Sayuri memantik spekulasi lanjutan. Di tengah proses pembangunan ulang Persebaya Surabaya, apakah sanjungan itu sekadar penghormatan terhadap mantan anak asuh—atau sinyal ketertarikan jangka panjang?
Dibanding nama-nama lain seperti Ramadhan Sananta yang kerap menjadi sorotan publik, Tavares justru menaruh apresiasi mendalam pada pemain sayap dengan etos kerja tinggi dan disiplin taktik. Karakter ini sangat selaras dengan filosofi sepak bola yang ingin ia terapkan di Persebaya.
Namun untuk saat ini, semua masih sebatas wacana. Yakob dan Yance adalah bagian penting Malut United, dan klub tersebut tengah menikmati stabilitas performa dengan duduk di peringkat ketiga klasemen sementara.
Panggung Pembuktian Awal
Bagi Bernardo Tavares, laga kontra Malut United bukan sekadar reuni emosional dengan mantan anak didik. Ini adalah panggung pembuktian awal—seberapa cepat ia mampu menanamkan identitas permainan di Persebaya Surabaya.
Di hadapan Bonek dan Bonita, ujian langsung datang dalam bentuk tim kuat, pemain cepat, dan duo Sayuri yang sangat ia pahami luar-dalam.
Apakah pemahaman itu akan menjadi keuntungan taktik? Atau justru nostalgia akan diuji oleh realitas kompetisi?
Jawabannya akan tersaji di Gelora Bung Tomo. Dan dari sana, kisah baru Bernardo Tavares bersama Persebaya benar-benar dimulai.





