Bisnis.com, PADANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat melaporkan bahwa berdasarkan pemantauan di 4 kabupaten dan kota, inflasi Sumbar Desember 2025 tercatat sebesar 5,15% (year on year/YoY).
Kepala BPS Sumbar Sugeng Arianto mengatakan bahwa inflasi mencerminkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,90 pada Desember 2024 menjadi 112,41 pada Desember 2025.
“Secara month-to-month [MtM] pada bulan Desember 2025 itu, Sumbar mengalami inflasi sebesar 1,48%. Hingga Desember 2025, inflasi year-to-date [YtD] sebesar 5,15%,” katanya, dikutip dari data resmi BPS, Senin (5/1/2026).
Dia menjelaskan bahwa wilayah yang mengalami inflasi tahunan tertinggi adalah Kabupaten Pasaman Barat sebesar 7,09% (YoY) dengan IHK 115,17. Adapun, wilayah dengan inflasi tahunan terendah adalah Kota Padang yakni 4,66% (YoY) dengan IHK sebesar 111,66 pada Desember 2025.
Sementara itu, Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi sebesar 4,77% dengan IHK sebesar 112,64 dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 4,99% dengan IHK sebesar 111,69.
Sugeng menyampaikan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi bulanan pada Desember 2025 adalah bawang merah, cabai rawit, beras, daging ayam ras, kangkung, emas perhiasan, cabai merah, angkutan antar kota, telur ayam ras, buncis, cabai hijau, bayam, ikan gembolo/ikan aso-aso, terong, kacang panjang, tarif kendaraan travel, santan segar, sawi hijau, angkutan udara, dan ikan serai.
Baca Juga
- Diterpa Bencana, Inflasi Aceh, Sumbar, dan Sumut Meroket pada Desember 2025
- BPS Catat Inflasi Desember Membengkak, Tembus 0,64%
“Lalu komoditas yang memberikan andil/ sumbangan deflasi mtm pada Desember 2025 adalah wortel, jengkol, jeruk nipis/ limau, dan ikan tuna,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan inflasi Sumbar sebenarnya masih berada dalam kondisi yang terkendali, dan hal ini dapat dilihat hingga Juli 2025.
“Tetapi, seiring adanya bencana alam melanda sebagian besar wilayah Sumbar, membuat sejumlah komoditas di pasar jadi naik,” jelasnya.
Menurutnya, cuaca ekstrem yang berlangsung hingga akhir tahun memberikan dampak yang besar terhadap sektor pangan, mulai dari kondisi gagal panen, gangguan distribusi pangan, kondisi tersebut membuat pasokan ke pasar jadi terganggu dan membuat harga naik.
Majid menjelaskan awalnya kenaikan harga pangan dirasakan pada komoditas beras, lalu menyusul komoditas bawang merah, dan berlanjut pada cabai merah, serta adanya kenaikan harga telur ayam, begitupun harga emas yang mengalami tren kenaikan.
“Bencana alam benar-benar membawa dampak yang besar terhadap kondisi inflasi Sumbar hingga penutupan tahun ini,” tegasnya.
Oleh karena itu, ke depan TPID perlu mempersiapkan berbagai langkah pengendalian inflasi, sehingga pangan di Sumbar tetap terkendali apabila sewaktu-waktu menghadapi bencana alam. Dia berharap sinergitas kedepan bisa terus di tingkatkan antar daerah, agar Sumbar masih dalam kondisi terkendali.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4831162/original/059818400_1715666476-IMG_8379.jpeg)