Nadiem Membela Diri: Singgung Keluarga Pejuang Antikorupsi hingga Alasan Jadi Menteri karena Negara Memanggil

liputan6.com
1 hari lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook, Nadiem Makarim menyebut dirinya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai antikorupsi.

Hal itu disampaikan Nadiem saat membacakan nota keberatan atau eksepsi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).

Advertisement

BACA JUGA: Jaksa Ungkap Nadiem Makarim Buka Jalan Anggota DPR Titip Nama dalam Proyek Laptop Chromebook

"Dari kecil, saya disuruh orang tua duduk di meja makan mendengar aktivis-aktivis antikorupsi berdebat mengenai arah negara kita," ujar Nadiem.

Ia mengungkapkan, dari kedua orang tuanya, dirinya banyak mempelajari nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan integritas. Nadiem juga mengaku bersyukur mendapat kesempatan menempuh pendidikan hingga ke luar negeri. Namun, setiap kali menyelesaikan pendidikan, baik jenjang Strata-1 (S1) maupun S2, ia selalu memilih kembali ke Tanah Air.

"Walaupun banyak kenyamanan yang bisa saya dapatkan saat berkarir di luar negeri, Indonesia selalu menarik daya kembali. Memang Indonesia punya banyak masalah, tetapi di dalam permasalahan itulah saya merasa bisa berkontribusi," tuturnya.

Sejak dari kecil, Nadiem menyampaikan orang tuanya selalu mengingatkan bahwa kesuksesan tidak ada artinya tanpa pengabdian. Menurutnya, kata-kata tersebut yang menjadi dasar pertimbangannya saat ditawarkan amanah untuk menjadi Mendikbudristek.

Kala itu, lanjut dia, hampir semua orang di sekitarnya membujuk agar ia menolak jabatan tersebut karena khawatir Nadiem akan menjadi sasaran hujatan. Menurutnya, sejumlah pihak juga merasa khawatir Nadiem akan diserang lantaran saat itu ia tidak memiliki dukungan partai politik.

Ia menambahkan, banyak pihak kala itu mempertanyakan keputusannya, mengingat Nadiem berada di puncak kesuksesan bisnis namun justru mempertimbangkan jabatan yang dinilai berisiko merugikan secara finansial maupun reputasi.

"Tetapi saya menerima amanah tersebut karena satu alasan, yaitu negara memanggil, generasi penerus bangsa memanggil. Menolak artinya menutup mata terhadap krisis pendidikan yang melanda negara kita," ucap Nadiem.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BTN Rampungkan Spin Off Unit Usaha Syariah ke BSN, Nilai Transaksi Rp5,56 Triliun
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ciptakan Asal Usul Kehidupan, Peneliti Jepang Buktikan Sumbernya
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BRI Super League: Borneo FC Samarinda Gaet Ardi Idrus untuk Menambah Kekuatan di Lini Belakang
• 3 jam lalubola.com
thumb
Mandat Bahasa Inggris 2027: Membangun Istana di Atas Pasir?
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Posko Ungkap Sejumlah Desa dan Dusun Lenyap, Akibat Bencana di Aceh
• 2 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.