Kiat Menetapkan Resolusi Keuangan di Tahun Baru 2026

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah pengeluaran membengkak untuk berbagai aktivitas liburan Tahun Baru, kini saatnya menyusun resolusi keuangan agar tujuan finansial tetap tercapai tanpa mengorbankan kebutuhan jangka panjang.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menekankan bahwa resolusi keuangan bukan sekadar daftar keinginan, melainkan pernyataan tujuan finansial yang lahir dari proses evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan tahun sebelumnya.

Menurut Mike, resolusi keuangan idealnya dimulai dengan meninjau ulang kondisi keuangan sepanjang 2025, mulai dari pola pengeluaran, kebiasaan belanja, hingga kebocoran di pos-pos tertentu. Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan pada 2026.

“Resolusi keuangan bisa berupa tujuan baru, atau tujuan lama yang diperbaiki setelah kita tahu letak kekurangannya,” ujarnya kepada Bisnis.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Lebih lanjut, dia mencontohkan kebocoran keuangan yang kerap terjadi di pos hiburan dan liburan. Kebiasaan sering keluar rumah saat akhir pekan, misalnya, tanpa disadari mendorong perilaku konsumtif.

Dari evaluasi itu, solusi yang dirumuskan bisa berupa pengurangan aktivitas belanja dan menggantinya dengan kegiatan lain yang tetap produktif namun lebih hemat. Dengan demikian, resolusi keuangan tidak hanya memuat tujuan, tetapi juga langkah konkret untuk mencapainya.

Baca Juga

  • OJK Beri 5 Resep Resolusi Keuangan Anti Gagal
  • Tips Jitu Agar Resolusi Keuangan 2024 Tercapai dari Pakar
  • 5 Resolusi Keuangan Tahun Baru 2023, Begini Cara Mencapainya!

Mike juga menekankan pentingnya mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki saat menyusun resolusi. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendapatan sudah tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, maka resolusi keuangan dapat diarahkan pada pencarian penghasilan tambahan.

Bentuknya bisa beragam, mulai dari membuka usaha kecil dari rumah hingga menawarkan jasa berdasarkan keterampilan profesional. Pada tahap ini, seseorang perlu menilai kesiapan sarana, seperti gadget, jaringan relasi, hingga modal awal yang dimiliki.

Terkait menyusun prioritas keuangan, Mike mengingatkan agar orang-orang tidak keliru membedakan antara hal yang “genting” dan “prioritas”. Tagihan bulanan seperti listrik dan biaya hidup memang penting, namun prioritas sejati adalah tujuan yang berdampak pada masa depan, seperti dana darurat, pendidikan anak, dana pernikahan, atau modal usaha.

Dia memberi contoh sederhana, seperti kebutuhan membeli ponsel untuk bekerja. Jika ponsel seharga Rp3,5 juta sudah memadai, maka memilih ponsel seharga Rp15 juta berarti selisih anggaran tersebut sebenarnya bukan kebutuhan prioritas.

“Di situlah pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan agar alokasi keuangan lebih tepat,” jelasnya.

Agar resolusi menabung dan berinvestasi dapat dijalankan secara konsisten sepanjang tahun, Mike menyarankan tiga strategi utama.

Pertama, memiliki tujuan keuangan yang spesifik agar pengeluaran tidak mudah teralihkan.

Kedua, membangun pola pikir yang benar, yakni membelanjakan uang berdasarkan kebutuhan dan anggaran, bukan karena tren, diskon, atau ikut-ikutan. Ketiga, membangun sistem yang mendukung kebiasaan baik secara otomatis, seperti pemotongan dana tabungan atau investasi langsung setelah gajian.

“Dengan sistem otomatis, menabung dan berinvestasi tidak lagi terasa sebagai beban, karena dilakukan tanpa harus menimbang-nimbang setiap bulan,” katanya.

Dia mencontohkan investasi emas rutin dengan nominal kecil yang dijalankan konsisten dalam jangka panjang dapat menghasilkan akumulasi aset yang signifikan.

Lebih jauh, Mike menegaskan bahwa resolusi keuangan harus berdampak pada kesehatan finansial jangka panjang. Kesehatan keuangan dapat diukur melalui berbagai indikator, seperti pertumbuhan saldo tabungan dan investasi, rasio menabung minimal 30 persen dari pendapatan, serta rasio cicilan utang yang tidak memberatkan.

Selain itu, perbandingan antara total aset dan total utang juga menjadi ukuran penting. Jika nilai aset lebih besar dari utang, kondisi keuangan dinilai lebih sehat.

Agar resolusi tidak berhenti sebagai rencana tahunan, Mike menyarankan evaluasi kesehatan keuangan dilakukan secara berkala, minimal setahun sekali. Dengan begitu, tujuan yang ditetapkan setiap awal tahun benar-benar menjaga dan meningkatkan kesehatan finansial dalam jangka panjang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ricky Komo Pasang Badan: Raffi Ahmad Kaya karena Kerja, Bukan Nganga
• 2 jam lalufajar.co.id
thumb
Kemdiktisaintek Buka Program PKL Batch 1 2026, Simak Persyaratan dan Formasinya!
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Insiden Anak Bunuh Ibu di Medan, Legislator Minta Pengembang Gim Patuhi Hukum Digital
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
DPRD DKI Minta Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Malam Hari
• 1 jam laluidntimes.com
thumb
Jadwal Malaysia Open: Delapan wakil Indonesia awali musim 2026
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.