Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026) waktu setempat, dengan indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi sepanjang masa yang ditopang lonjakan saham sektor keuangan.
Melansir Reuters pada Selasa (6/1/2026), Indeks S&P 500 ditutup naik 0,76% ke level 6.910,73, sementara Nasdaq Composite menguat 0,76% menjadi 23.411,49. Adapun Dow Jones melonjak 1,64% ke posisi 49.174,91.
Pelaku pasar menilai langkah Washington terhadap kepemimpinan Venezuela berpotensi membuka akses perusahaan AS ke cadangan minyak terbesar di dunia. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa embargo minyak AS terhadap Venezuela masih tetap berlaku.
Indeks energi S&P 500 naik ke level tertinggi sejak Maret 2025 dan terakhir menguat 2,5%. Saham Exxon Mobil naik 2,4%, sementara Chevron melesat 5,8%.
Saham produsen persenjataan turut menguat seiring aksi militer AS. Lockheed Martin naik 2,8% dan General Dynamics menguat 3,2%. Indeks kedirgantaraan dan pertahanan S&P 500 naik 1,8% dan mencetak rekor tertinggi baru.
“Saham energi benar-benar diuntungkan oleh ekspektasi bahwa Presiden Trump berniat mendorong lebih banyak investasi di Venezuela, yang pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan perusahaan-perusahaan tersebut,” ujar Senior Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management Rob Haworth.
Baca Juga
- Bursa Asia Cetak Rekor, Pasar Abaikan Gejolak Venezuela
- Tensi AS-Venezuela Panas, Saham Emas Diproyeksi Cuan
Dia menambahkan, tidak adanya keterlibatan militer permanen membuat pasar saham secara keseluruhan mampu mengesampingkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan.
Di sektor teknologi, saham Tesla melonjak 4,2% setelah tujuh sesi berturut-turut melemah. Sebaliknya, saham Nvidia terkoreksi 0,6%.
Indeks keuangan S&P 500 naik 2,7% seiring investor bersiap menghadapi musim laporan keuangan kuartalan. Analis memperkirakan laba perusahaan keuangan dalam indeks S&P 500 tumbuh rata-rata 6,7% secara tahunan pada kuartal Desember.
Saham Goldman Sachs naik 4,8% dan JPMorgan Chase menguat 3,4%, dengan keduanya mencetak rekor harga tertinggi.
“Dalam beberapa hari terakhir, sentimen pasar cenderung mendukung saham keuangan. Ketika investor mulai melirik sektor di luar teknologi, keuangan menjadi salah satu pilihan utama,” kata Chief Market Analyst Interactive Brokers Steve Sosnick.
Indeks-indeks utama Wall Street mencatatkan kenaikan dua digit sepanjang 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan kinerja serupa—capaian yang terakhir terjadi pada 2021.
Dari sisi data ekonomi, aktivitas manufaktur AS tercatat mengalami kontraksi lebih dalam dari perkiraan pada Desember 2025, memperpanjang tren pelemahan selama 10 bulan berturut-turut.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls pada Jumat, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve pada 2026.
Pasar memperkirakan penurunan suku bunga sekitar 60 basis poin sepanjang tahun ini, menurut perhitungan LSEG.




