Jakarta, ERANASIONAL.COM – Badan Pusat Statistik (BPS),mencatat tingkat inflasi umum secara tahunan (year-on-year) pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen. Capaian ini menunjukkan inflasi masih tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional yakni rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Sementara mengenai inflasi volatile food atau harga pangan bergejolak, apabila ditarik rerata capaian inflasi pangan secara tahunan selama 12 bulan di 2 tahun terakhir, maka dapat terlihat pergerakan yang cukup baik. Pada 2024, rerata inflasi pangan dalam 12 bulan berada di tingkat 4,88 persen. Sementara pada 2025 menurun ke 3,32 persen.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa inflasi yang tetap terkendali hingga akhir tahun menjadi cerminan efektivitas sinergi kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional. Ia mengapresiasi kerja keras semua pihak.
“Inflasi yang tetap terkendali hingga akhir tahun 2025 merupakan hasil kerja bersama. Pemerintah hadir melalui berbagai instrumen, mulai dari Gerakan Pangan Murah, SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) beras, hingga bantuan pangan, untuk memastikan masyarakat tetap tenang dan daya beli terjaga,” ucap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian, pada Senin (5/1/2026)
Sepanjang tahun 2025, Bapanas bersama pemerintah daerah secara konsisten melakukan berbagai intervensi untuk membantu pengendalian inflasi. Salah satu instrumen utama adalah Gerakan Pangan Murah (GPM).
Hingga akhir tahun, GPM telah dilaksanakan di 11.968 lokasi yang tersebar di 480 kabupaten/kota di 38 provinsi. Program ini mencatat tingkat realisasi anggaran yang tinggi serta memperoleh nilai kepuasan masyarakat sebesar 85,20 persen dengan kategori baik. Ini juga mencerminkan manfaat nyata GPM bagi masyarakat.
Selain itu, Bapanas juga mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) guna memperlancar arus pasokan antarwilayah. Sepanjang tahun 2025, FDP terealisasi sebanyak 1.064 ton untuk 8 komoditas strategis, dengan capaian volume mencapai 118,3 persen dari target. Penyaluran didominasi oleh komoditas beras, kedelai, minyak goreng, dan gula, terutama untuk wilayah dengan keterbatasan pasokan.
Strategi intervensi lainnya diperkuat melalui pengembangan Kios Pangan sebagai alternatif distribusi pangan pokok kepada masyarakat. Hingga akhir tahun 2025, jumlah Kios Pangan telah mencapai 1.737 kios yang tersebar di 34 provinsi, dengan sebaran terbesar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Di sisi lain, Bapanas berkolaborasi dengan Perum Bulog terus mengakselerasi penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebagai instrumen stabilisasi harga di tingkat konsumen. Berdasarkan realisasi per 31 Desember 2025, penyaluran SPHP beras telah mencapai 802,9 ribu ton.
Selain intervensi harga, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan sebagai bantalan perlindungan sosial. Sepanjang tahun 2025, bantuan pangan disalurkan dalam dua periode. Pertama, bantuan Pangan Beras alokasi Juni–Juli sebesar 365,49 ribu ton.
Sementara itu, Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng alokasi Oktober–November 2025 telah mencapai 95,04 persen dan diterima oleh 17,37 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP).



