Kemenkeu Pede Ekonomi 2026 Lebih Kuat Ditopang Sejumlah Capaian Positif di Akhir 2025

viva.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kementerian Keuangan melalui Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Kacaribu mengatakan, perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2025 menunjukkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tekanan, dan menjadi dasar yang kuat bagi kinerja ekonomi ke depan.

Menurutnya, perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.

Baca Juga :
Dibuka Menghijau, IHSG Dibayangi Koreksi sambil Mewaspadai Dampak Aksi Militer AS di Venezuela
Bursa Asia Kinclong saat Konflik AS-Venezuela Semakin Memanas

"Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026, kata Febrio dalam keterangannya, Selasa, 6 Januari 2026.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Juli 2025
Photo :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di akhir tahun 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat sebesar 51,2, dan terbilang ekspansif selama lima bulan berturut-turut. "Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku," ujarnya.

Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, yang mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif seperti Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7). Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$2,66 miliar, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif Januari-November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$38,54 miliar, naik USD9,30 miliar (ctc). Ekspor Januari-November 2025 tercatat sebesar US$256,56 miliar, meningkat 5,61 persen (ctc).

"Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 persen, yang mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional," kata Febrio.

Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar US$218,02 miliar, naik 2,03 persen (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28 persen, yang sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif. Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global. 

Baca Juga :
IHSG Lanjut Menguat Usai Cetak Rekor, Simak 5 Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Analis Ungkap 2 Faktor Pendorong IHSG Terbang ke Level Tertinggi Baru
Inflasi 2025 Membengkak 2,92 Persen, Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Terbesar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Krakatau Steel Suplai Pipa Baja Proyek Pipanisasi Dumai Sei Mangkei
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hadiri Panen Raya di Karawang, Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Prabowo Kembali Singgung Banyak Kekayaan Indonesia yang Bocor
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Saham BUMI Melejit, Cetak Nilai Transaksi Harian Paling Jumbo
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Gelar Rakernas di Ancol 8-10 Januari, PDIP Bakal Bahas Wacana Pilkada Via DPRD
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.