EtIndonesia. Sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap kelompok separatis Yaman “Dewan Transisi Selatan” (Southern Transitional Council/STC) pada 2 Januari, menurut statistik awal sedikitnya 80 pejuang kelompok tersebut tewas, 152 orang terluka, dan 130 orang ditangkap.
Pasukan koalisi yang didukung Riyadh memulai operasi pada 2 Januari dengan tujuan merebut kembali wilayah luas yang sebelumnya dikuasai oleh Dewan Transisi Selatan.
Pejabat Dewan Transisi Selatan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa sebagian besar korban jatuh akibat serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi.
Sasaran serangan udara tersebut adalah kamp-kamp militer yang dikuasai kelompok separatis, termasuk kamp Al-Khasha dan Barshid di wilayah Hadramaut.
Sebelumnya, Arab Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di selatan Yaman pada 30 Desember 2025. Saudi mengatakan serangan tersebut menargetkan kiriman senjata yang disebutnya datang dari Uni Emirat Arab untuk mendukung pasukan separatis.
Pada 3 Januari 2026, pasukan pro-Arab Saudi ditempatkan di Bandara Internasional Saiyun di provinsi Hadramawt, Yaman, menyusul serangan baru-baru ini oleh militan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA. (AFP via Getty Images)Riyadh menindaklanjuti serangan dengan tuntutan agar pasukan UEA meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam serta memperingatkan bahwa keamanan nasional Arab Saudi merupakan “garis merah” yang tidak dapat dilanggar. UEA kemudian menyatakan akan menarik seluruh sisa pasukannya dari negara tersebut.
Arab Saudi dan UEA sama-sama merupakan anggota berpengaruh OPEC. Kedua negara semula dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada 4 Januari 2026. Setiap perselisihan berkepanjangan antara kedua negara berpotensi mempersulit upaya mempertahankan konsensus kebijakan produksi minyak, dengan implikasi terhadap harga minyak mentah dunia.
Yaman telah dilanda perang sejak 2014, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional melarikan diri ke wilayah selatan. Arab Saudi dan UEA melakukan intervensi pada tahun berikutnya, mendukung pemerintah dalam kampanye untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Meski Riyadh dan Abu Dhabi memasuki perang sebagai mitra, keduanya kemudian mendukung sekutu yang saling bersaing.
UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), sebuah faksi kuat di selatan yang berupaya memulihkan kembali kemerdekaan Yaman Selatan. Sebaliknya, Arab Saudi mendukung pemerintah pusat serta pasukan-pasukan suku yang bersekutu dengannya. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


