DALAM pertunjukan stand-up comedy bertajuk "Mens Rea", komika Pandji Pragiwaksono melontarkan kritik satir yang segera memantik perhatian publik.
Di atas panggung, Pandji menyinggung kecenderungan masyarakat menilai pemimpin berdasarkan tampilan visual semata.
Dalam salah satu kritinya, ia menyindir Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan ungkapan “tampak ngantuk”.
Candaan itu tentu mengundang gelak tawa. Namun, ia juga menyimpan pesan yang lebih serius: demokrasi tidak seharusnya berhenti pada kesan visual, melainkan menuntut kedalaman gagasan, kejelasan arah kebijakan, dan konsistensi komunikasi dari para pemimpinnya.
Dalam tradisi komedi politik, satir justru berfungsi sebagai medium kritik sosial: ringan di permukaan, tapi tajam di lapisan makna. Tawa menjadi katarsis untuk menggambarkan relasi antara kekuasaan dan kekecewaan publik.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Pandji Pragiwaksono, gibran rakabuming raka, Mens Rea&post-url=aHR0cHM6Ly9uYXNpb25hbC5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNi8xMTU5NDM2MS9wYW5kamktZ2licmFuLWRhbi1rZWhlbmluZ2FuLXlhbmctYmVyYmljYXJh&q=Pandji, Gibran, dan Keheningan yang Berbicara§ion=Nasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Tak lama setelah tayang, potongan kritik tersebut viral di media sosial.
Baca juga: Ketika Bahagia Tak Selalu Sejahtera
Peristiwa ini menarik bukan semata karena memunculkan perdebatan, melainkan karena memperlihatkan bagaimana komedi politik bekerja di ruang publik Indonesia.
Apakah satir terhadap pejabat tinggi—termasuk wakil presiden—masih dianggap wajar, atau justru dipersepsikan sebagai pelanggaran etika?
Belajar dari dunia internasionalDi Amerika Serikat, tradisi satir politik terhadap pejabat tinggi telah lama mengakar. Jon Stewart, melalui The Daily Show (1999–2015), secara rutin menyindir presiden dan wakil presiden Amerika Serikat, termasuk Joe Biden ketika menjabat sebagai wakil presiden pada era Barack Obama (2009–2017).
Sindiran Stewart kerap menyasar persona, gestur, dan gaya komunikasi, tanpa selalu berkaitan langsung dengan kebijakan.
Demikian pula Stephen Colbert lewat The Colbert Report (2005–2014), yang menjadikan lingkaran kekuasaan sebagai objek satir politik berkelanjutan.
Di Inggris, tradisi satir politik bahkan lebih mapan. Program seperti Have I Got News for You (mengudara sejak 1990 dan masih tayang hingga kini) serta Mock the Week (2005–2022) secara terbuka menjadikan perdana menteri dan wakilnya sebagai bahan olok-olok politik.
Nick Clegg, ketika menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (2010–2015), kerap menjadi sasaran satir terkait kompromi politik Liberal Democrats dalam koalisi dengan Partai Konservatif.
Sindiran tersebut lebih banyak menyoroti persona dan posisi politiknya, tanpa memicu kegaduhan berkepanjangan.




