Pandji, Gibran, dan Keheningan yang Berbicara

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

DALAM pertunjukan stand-up comedy bertajuk "Mens Rea", komika Pandji Pragiwaksono melontarkan kritik satir yang segera memantik perhatian publik.

Di atas panggung, Pandji menyinggung kecenderungan masyarakat menilai pemimpin berdasarkan tampilan visual semata.

Dalam salah satu kritinya, ia menyindir Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan ungkapan “tampak ngantuk”.

Candaan itu tentu mengundang gelak tawa. Namun, ia juga menyimpan pesan yang lebih serius: demokrasi tidak seharusnya berhenti pada kesan visual, melainkan menuntut kedalaman gagasan, kejelasan arah kebijakan, dan konsistensi komunikasi dari para pemimpinnya.

KOMPAS.com/MELVINA TIONARDUS Komika Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers pertunjukan komedi Mens Rea di Markas Comika di Petogogan, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025). Mata Gibran menjadi sorotan publik setelah materi Pandji Pragiwaksono dikritik Tompi, membuka pembahasan tentang apa itu ptosis dalam dunia medis.
Humor Pandji tidak berdiri terpisah. Ia berangkat dari kegelisahan yang kerap muncul dalam demokrasi elektoral modern, ketika citra dan gaya sering kali mengalahkan substansi.

Dalam tradisi komedi politik, satir justru berfungsi sebagai medium kritik sosial: ringan di permukaan, tapi tajam di lapisan makna. Tawa menjadi katarsis untuk menggambarkan relasi antara kekuasaan dan kekecewaan publik.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Pandji Pragiwaksono, gibran rakabuming raka, Mens Rea&post-url=aHR0cHM6Ly9uYXNpb25hbC5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNi8xMTU5NDM2MS9wYW5kamktZ2licmFuLWRhbi1rZWhlbmluZ2FuLXlhbmctYmVyYmljYXJh&q=Pandji, Gibran, dan Keheningan yang Berbicara§ion=Nasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Tak lama setelah tayang, potongan kritik tersebut viral di media sosial.

Baca juga: Ketika Bahagia Tak Selalu Sejahtera

Peristiwa ini menarik bukan semata karena memunculkan perdebatan, melainkan karena memperlihatkan bagaimana komedi politik bekerja di ruang publik Indonesia.

Apakah satir terhadap pejabat tinggi—termasuk wakil presiden—masih dianggap wajar, atau justru dipersepsikan sebagai pelanggaran etika?

Belajar dari dunia internasional

Di Amerika Serikat, tradisi satir politik terhadap pejabat tinggi telah lama mengakar. Jon Stewart, melalui The Daily Show (1999–2015), secara rutin menyindir presiden dan wakil presiden Amerika Serikat, termasuk Joe Biden ketika menjabat sebagai wakil presiden pada era Barack Obama (2009–2017).

Sindiran Stewart kerap menyasar persona, gestur, dan gaya komunikasi, tanpa selalu berkaitan langsung dengan kebijakan.

Demikian pula Stephen Colbert lewat The Colbert Report (2005–2014), yang menjadikan lingkaran kekuasaan sebagai objek satir politik berkelanjutan.

Di Inggris, tradisi satir politik bahkan lebih mapan. Program seperti Have I Got News for You (mengudara sejak 1990 dan masih tayang hingga kini) serta Mock the Week (2005–2022) secara terbuka menjadikan perdana menteri dan wakilnya sebagai bahan olok-olok politik.

Nick Clegg, ketika menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (2010–2015), kerap menjadi sasaran satir terkait kompromi politik Liberal Democrats dalam koalisi dengan Partai Konservatif.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Sindiran tersebut lebih banyak menyoroti persona dan posisi politiknya, tanpa memicu kegaduhan berkepanjangan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harisandi Savari Dorong Optimalisasi Migas Madura demi Peningkatan Ekonomi Daerah
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Enggak Cuma ITB, Ini Daftar 25 Universitas Terbaik di Bandung yang Bisa Dilirik
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
50 Kata-kata melamar pacar update 2026 yang romantis, elegan, dan anti alay
• 10 jam lalubrilio.net
thumb
Persita Tangerang Ogah Dipermalukan, Siap Sikat Borneo FC
• 17 jam lalugenpi.co
thumb
Nasib Venezuela Usai Maduro Ditangkap
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.