Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melambung pada perdagangan Selasa (6/1/2026) di tengah rekor komoditas logam acuannya di pasar global.
IDXChannel – Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melambung pada perdagangan Selasa (6/1/2026) di tengah rekor komoditas logam acuannya di pasar global.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.45 WIB, saham AMMN melejit 15,00 persen ke Rp8.050 per unit. Nilai transaksi mencapai Rp575,17 miliar.
Prospek AMMN
AMMN dinilai tengah memasuki fase pertumbuhan krusial yang berpotensi memicu pembalikan kinerja (turnaround) secara signifikan.
Riset Sucor Sekuritas yang terbit pada 9 Desember 2025 menyebutkan, dimulainya Phase 8 Batu Hijau menjadi katalis utama lonjakan volume produksi di tengah momentum reli tembaga dan emas global.
Sucor menilai AMMN berada pada posisi ideal untuk memanfaatkan siklus bullish komoditas tembaga dan emas dalam lima tahun ke depan.
Selain memasuki fase produksi prima, AMMN juga termasuk salah satu produsen tembaga-emas paling menguntungkan, dengan valuasi yang masih atraktif dan diskon sekitar 75 persen terhadap nilai intrinsik.
Dari sisi valuasi, AMMN diperdagangkan pada price to earnings (PE) 2027 sebesar 16,2 kali, jauh di bawah rata-rata emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berada di kisaran 33,3 kali.
Dengan asumsi re-rating ke 30 kali PE, Sucor memproyeksikan total return CAGR sebesar 27 persen dalam tiga tahun ke depan.
Phase 8 Batu Hijau disebut sebagai pengubah permainan (game changer). Produksi konsentrat pada 2026 diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan, ditopang peningkatan kadar bijih, tambahan jalur konsentrator baru, serta kenaikan utilisasi smelter tembaga yang mulai menghasilkan katoda pada awal 2025.
Utilisasi smelter diproyeksikan mencapai sekitar 80 persen pada 2026 dan mendekati kapasitas penuh pada 2027.
Di luar Batu Hijau, proyek Elang menjadi mesin pertumbuhan berikutnya.
Berlokasi sekitar 54 kilometer dari tambang eksisting, Elang merupakan salah satu cadangan tembaga-emas terbesar yang belum dikembangkan di dunia, dengan total sumber daya setara 25 miliar pon tembaga dan 35,1 juta ons emas.
Proyek ini dijadwalkan mulai memasuki tahap commissioning pada 2031.
Sucor memperkirakan AMMN mencatatkan penjualan 388 juta pon tembaga dan 463 ribu ons emas pada 2026, tertinggi di antara emiten sejenis yang tercatat di bursa Tanah Air.
Pendapatan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 21 persen pada 2024-2028, sementara laba bersih diperkirakan melesat dengan CAGR 27 persen pada periode yang sama.
Seiring peningkatan skala usaha, return on equity (ROE) AMMN diperkirakan naik menjadi 23 persen pada 2028, menempatkan perseroan di jajaran produsen tembaga-emas paling menguntungkan secara global.
Berdasarkan analisis tersebut, Sucor Sekuritas menginisiasi rekomendasi beli (buy) dengan target harga Rp11.000 per saham.
Harga Tembaga Rekor
Harga tembaga melonjak ke rekor di atas USD13.000 per ton pada Senin, dipicu kekhawatiran akan kekurangan pasokan serta ekspektasi bahwa gejolak di Venezuela dapat mempercepat perlombaan global untuk mengamankan mineral kritis.
Ekspektasi pertumbuhan permintaan yang kuat, terutama dari pusat data untuk kecerdasan buatan dan kendaraan listrik, turut mendorong kenaikan harga logam yang banyak digunakan untuk kabel listrik tersebut hingga 40 persen sepanjang tahun lalu.
“Harga tembaga perlu naik lebih jauh untuk mendorong perusahaan tambang meningkatkan produksi baru secara signifikan,” ujar analis SP Angel, John Meyer, dikutip Reuters.
Ia menambahkan, banyak tambang yang ada telah beroperasi pada atau bahkan melampaui kapasitas desain awalnya selama bertahun-tahun.
Kondisi ini meningkatkan risiko kegagalan besar, seperti yang terjadi pada insiden mud rush di tambang Grasberg, Indonesia.
Analis Galaxy Futures mengatakan, dikutip Dow Jones Newswires, Selasa (6/1), ketidakpastian seputar tarif Amerika Serikat (AS) telah mengalihkan volume besar kontrak impor jangka panjang ke AS, sehingga memperketat pasokan di wilayah lain.
Permintaan dari sektor penyimpanan energi dan kecerdasan buatan (AI) terus mendorong kenaikan harga, tanpa tanda-tanda pembalikan arah yang berpotensi memicu koreksi.
Sementara itu, kata analis Galaxy, prospek arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), dukungan kebijakan dari China, serta likuiditas yang melimpah menopang penguatan harga tembaga dalam jangka panjang. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





